Askeladden


Engku tentu tak heran dengan Sang Dewa Petir yang berasal dari dongeng Kaum Utara, kali ini kami akan membawa engku ke Negeri Norwegia yang merupakan salah satu negeri utara itu.[1] Kisah ini mengenai seorang anak laki-laki yang bernama Espen, dia merupakan anak bungsu dari tiga orang bersaudara. Si Sulung bernama Per dan Si Tengah nan bernama Pal, bunda mereka telah tiada dan tinggal berempat bersama ayah mereka di rumah mereka yang kecil.
Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang diperintah seorang raja yang hanya memiliki seorang anak perempuan. Menurut kepercayaan masyarakat di kerajaan, apabila sang puteri tak jua menikah diusia 18 tahun maka ia akan diculik oleh raksasa (troll) dari gunung dan kemudian akan dinikahi oleh raksasa yang digelari Raja Gunung itu. Sang raja beserta isterinya amatlah cemasnya lalu mereka menjodohkan sang puteri dengan Pangeran Frederik dari Negeri Denmark.

Sang puteri tak suka sedangkan sang ayah tak hendak tahu “Engkau mesti menikah esok..!!”
Maka pada malam harinya sang puteri melarikan diri menjauh dari istana, diperjalanan ia bersua dengan Espen yang baru pulang berbelanja bahan kebutuhan harian dari pasar. Perjumpaan mereka bermula dari kemalangan, Espen tersenggol dari atas jembatan oleh puteri yang sedang mengendarai kudanya. Sang puteri cemas dan merasa bersalah lalu pergi ke sungai di bawah untuk melihat apakah orang nan disenggolnya tak mati. Disanalah buih-buih cinta itu bermula.
Setibanya di rumah, didapatinya kedua abangnya tengah bekerja membangun peternakan mereka. Masam air muka abang sulungnya mendapati adiknya balik sudah tinggi hari. Dengan tanpa rasa bersalah Espen menyapa dengan ceria “Selamat pagi bang..”
“Selamat pagi kata engkau..!! kami telah bekerja sedari matahari terbit..!!” jawab Per kesal.
Sang ayah menanyakan perihal pesanannya dan dengan tanpa rasa bersalah Espen memperlihatkan isi tasnya nan hanya tinggal satu buah apel itu. Alamat mereka takkan dapat hidangan makan malam nanti, maka si ayah menyuruh Si Sulung dan Si Tengah ikut dengannya berburu ke hutan. Walau tak suka namun mereka berangkat jua dengan mengerutu. Espen disuruh tetap tinggal di rumah “Tinggal saja engkau di rumah, bermain api. Bukankah engkau suka bermain api..?!” seru Per menahan kesal.
Benar saja, Espen nan belum memiliki rasa tanggung jawab itu akhirnya menghanguskan rumah mereka akibat kebiasaannya bermain api. Tatkala balik ke rumah dan mendapati rumahnya telah hangus serta gambar isterinya nan tinggal sebagian maka murkalah ayahnya.Tepat ketika itu Pangeran Frederik beserta para pengawalnya datang bertanya perihal seorang perempuan cantik yang mengendarai kuda mewah. Dari sang pangeranlah mereka tahu perihal sayembara yang diumumkan oleh raja.
Espen diusir sedangkan kedua abang sulungnya disuruh mencari puteri yang dikabarkan hilang guna memenangkan sayembara raja “Barang siapa nan berhasil membawa puteri pulang dengan selamat maka akan dinikahkan dengan puteri dan mendapatkan setengah kerajaan..” demikianlah bunyi sayembara itu.
Espen akhirnya bergabung dengan kedua abangnya. Di tengah perjalanan Espen menolong seorang makhluk rimba (mungkin peri hutan) yang terjepit hidungnya di sebuah batang kayu. Saking lamanya hidungnya terjepit di batang kayu tersebut sampai berlumut dirinya. Dari peri rimba itu ia mendapat sebuah peta ajaib[2] yang dapat menunjukkan semua tempat yang ingin dikunjunginya. Dari peri itu pulalah ia mendapat tahu kalau hanya satu nan dapat membunuh Sang Raksasa yakni Pedang Tvegir.
Espen amatlah suka mengumpulkan benda-benda menarik yang ditemuinya dalam perjalanan, sebut saja kaca (cermin) pecah, penutup kepala (helem) prajurit, kulit beruang, dan lain sebagainya. Kebiasaannya itu mendapat cemooh dari Si Sulung Per yang amat geram pada adiknya itu sedangkan Pel lebih berusaha menjadi pengenengah.
Dalam perjalanan mereka, hampir saja Per dan Pel tak pulang-pulang karena masuk perangkap Hulder’syakni sejenis makhluk rimba (peri) yang jahat. Wajah mereka amatlah buruk, memiliki ekor yang disembunyikan dibalik gaun mereka, dan suka menyihir orang yang lalu dengan mengumpan mereka menggunakan apel emas. Apel itu telah disihir oleh Hulder’s sehingga sesiapa saja yang memakannya maka pandangan mereka akan segera tersihir dimana para Hulder’s yang buruk rupa itu disangka cantik, semok, mengundang birahi dan rumah mereka yang merupakan gua kumuh dikira bak istana memukau. Makanan yang merupakan buah busuk, cacing dan binatang menakutkan lainnya disangka makanan nan lezat.[3] Espenlah yang menyelamatkan abang-abangnya itu.
Perjalanan mereka penuh liku-liku, bersua dengan Pangeran Frederik dan rombongan di sebuah lepau (kedai) minum dan berkelahi dengan mereka. Terjun dari atas tebing, pergi menuju rawa dimana disanalah letak Pedang Tvegir, ditawan oleh Pangeran Frederik, dikejar raksasa pada malam hari sehingga mereka kehilangan Pel Si Tengah dan kemudian menyelamatkan sang puteri.
Nan membuat kami heran ialah, bukan Pedang Tvegirlah nan membunuh si raksasa – karena pedang itu telah tercampak – melainkan sinar matahari pagi. Dimana menurut kepercayaan masyarakat Negeri Norwegia, raksasa amat takut pada sinar matahari dan hidup mereka ialah di malam hari.
Demikianlah sekilas kisahnya, untuk lebih jelasnya silahkan engku menonton filem “The Ash Lad“.

______________________
Catatan Kaki:
[1] Norwegia, Denmark, Swedia, Finlandia, & Islandia
[2] Peta itu mengingatkan kami dengan peta ajaib milik Harry Potter dalam serinya yang ke-3. Cara menggunakan peta itupun serupa pula.
[3] Dimasyarakat Minangkabau dikenal kisah “Antu Aru Aru” atau Hantu haru-haru yang amat suka menyesatkan orang-orang terutama kanak-kanak. Mereka disihir sehingga dalam pandangan mata mereka tempat yang mereka kunjungi ialah tempat yang mereka kenal padahal bukan. Apabila sudah sempat diberi makan maka alamat korbannya takkan sehat lagi mentalnya karena diberi makan dengan makanan yang menjijikkan.

Komentar