Telah beberapa kali kami dapati kejadian serupa, namun kami fikir “mungkin suatu kejadian biasa pada masa sekarang”
Namun hati kami menjawab “biasa itu karena dibiasakan oleh manusia..”
Kami tak hendak memberi penilaian (judge) karena hidup itu
merupakan pilihan setiap orang. Termasuk di dalamnya pilihan pekerjaan –
maksud kami pekerjaan yang halal – yang akan ditekuni.
Kami akan berkisah perihal pengalaman kami berjalan-jalan pada salah
satu pasar di Bandar Padang. Sebenarnya bukan berjalan-jalan melainkan
mengantarkan isteri berbelanja ke pasar tersebut. Dikala duduk-duduk
menantikan isteri yang sedang khusyuk “tawaf” di dalam pasar maka
perhatian kami tertuju pada seorang amai-amai[1] yang sesekali mengarahkan orang yang akan parkir – parkir onda – atau membantu mengeluarkan onda yang payah dikeluarkan karena rapatnya jarak antara onda yang sedang parkir.
Usia amai ini mungkin awal 40 tahunan, pada pagi itu beliau
memakai celana jeans, baju kaos yang dilapisi dengan baju hangat yang
tak ditarik resletingnya, memakai sebo bewarna hitam,
sarung tangan putih, dan sepatu kets yang telah usang agak sedikit.
Serta tak lupa muka yang dilumuri dengan bedak beras ditambahi suara
yang melengking.
Kami terpana sekaligus salut serta kasihan kepada amai ini.
Mungkin penghasilan suaminya tak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan
hidup keluarganya. Atau suaminya telah lama tiada atau pergi
meninggalkan rumah (arti kata ditelantarkan suami) sehingga dialah
satu-satunya tulang punggung keluarga.
Sebagai seorang Tukang Parkir Perempuan tampaknya tak ada halangan begi amai
ini. Tak ada peraturan yang melarang perempuan menjadi tukang parkir,
serta tak ada pula masyarakat yang memantangkannya. Asalkan tidak
berpakaian seksi untuk menarik pelanggan, kami rasa takkan ada orang
yang akan mempermasalahkan.
Kisah serupa juga kami dapati dimuat pada salah satu surat kabar di
propinsi ini. Kisah perihal amai-amai yang jadi tukang parkir.
Begitu pula tatkala kami melalui salah satu kota di propinsi ini,
kami sempat mendapati seorang tukang parikir perempuan yang juga amai-amai. Sedih saja rasanya taklah cukup, permasalahan sosial di negeri ini semakin meningkat menyebabkan batas-batas antar gender semakin kabur. Tentunya seandainya setiap orang memiliki rasa tanggung jawab maka hal serupa ini takkan berlaku..
[1] Ibu-ibu
_______________________
* 5 Juli 2014


Komentar
Posting Komentar