Cerita sebelum berbuka..

Ilustrasi Gambar: Disini
Seorang engku pernah kami tanya “Kenapa engku ini memilih No.2?”

Dijawab oleh si engku “Kami ini memanglah orang kampung nan pandir, dalam pandangan kami yang pandir ini No.2 memanglah bukan calon terbaik bagi republik ini. Namun setidaknya dialah yang buruknya agak kurang dari calon nan satunya. Sebagai seorang muslim, kami ini memilih untuk mempercayai pandangan para ulama. Kami yakin para ulama takkan pernah bermaksud buruk kepada kita Umat Islam. Semoga saja negara ini selalu berada dalam lindungan Allah Ta’ala..”

“Lalu bagaimana pula dengan sumando kita engku? Bagaipula dengan pemimpin yang merakyat? Bukankah No.2 itu kasar, suka melampang orang..?” tanya kami.

“Kalau soal sumando, saya tak hendak memberi jawab. Setahu kami anak-anaknya lebih mengaku sebagai orang sebrang pulau sana. Pemimpin yang merakyat? Rendah hati? Santun..? kami yakin kalau engku muda ini lebih cerdik daripada orang tua yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di kampung ini. no.2 Kasar? Kalau soal ini kami yakin masih dapat kita perbincangkan (perdebatkan) lagi. Lagipula orang Indonesia memang perlu dilampangi (ditampar, dipukul), sudah banyak yang terlalu kurang ajarnya. Itulah harapan kami pada SBY, supaya dia melampangi para anggota Dewan yang semakin manjadi korupnya..” jelas si engku.


No.2 bukanlah yang terbaik, apabila kita tengok dari sisi keislaman telah kita ketahui sendiri keadaan keluarganya serta kebiasaannya mengucapkan salam dan selamat kepada agama lain. Kita hanya dapat berharap dan berdo’a semoga dengan melihat betapa deras dan kuatnya dukungan dari Umat Islam kepada beliau, No.2 akan menjadi semakin religius nantinya..” Lanjut si engku..

“Amiin..” iring kami.

Pilihan ada pada kita, hendak mendasari pada agama atau nasionalisme atau kedua-duanya?

Kejarlah duniamu dengan tidak melupakan akhirat mu..

Selamat berbuka kepada engku, rangkayo, serta encik sekalian..
_____________________________

*28 Juni 2014

Komentar