| Ilustrasi Gambar: Disini |
Terkenang kami akan masa delapan tahun yang silam, semasa kuliah
dahulu kami magang di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bukittinggi
dan sekarang kami kembali ke kantor ini namun bukan sebagai pegawai
magang melainkan sebagai salah seorang pegawai di sana. Yang tak pula
kami lupakan ialah dihari pertama kami masuk pada delapan tahun yang
silam bertepatan pula dengan malam final Piala Dunia. Ketika itu yang
berhadapan di final ialah Perancis melawan Italia yang takkan pernah
kami lupakan pertandingannya.
Pertandingan ini dikenang sebagai salah pertandingan tergalia karena Pemain Italia yang berbadan tunjang
yang bernama Materazi melakukan tindakan memanas-manasi (provokasi)
terhadap pemain unggulan Perancis yang bernama Zidane Zidan yang
beragama Islam. Materazi mengatakan sesuatu yang memancing amarah dari
Zidan sehingga Zidan menanduk dada Materazi. Akibatnya Zidan mendapat
kartu merah dari wasit dan Perancispun kehilangan panglima perangnya.
Sama kiranya dengan keadaan Barzilia di Piala Dunia sekarang yang
kehilangan Neymar. Akhirnya Italia meraih piala dunia, kalau tidak salah
saat itu ialah tahun 2006.
Semalampun kami menonton pila dunia pula antara Jerman melawan
Argentina, akhirnya Jerman berhasil jua mengalahkan Argentina walau
dengan sangat susah payah. Iba kami melihat Lionel Messi yang bermuram
durja tatkala pluit panjang dihembuskan oleh wasit, negaranya kalah,
impiannya tak kesampaian. Bahkan ketika mendapat penghargaan The Golden
Ball pun dia tetap tak tersenyum. Sudah payah para penggemarnya
mengembangkan tangan agar dapat bersalaman, namun Messi tak hendak “Hati
awak sedang sedih..” mungkin demikianlah suara hatinya..
Kata orang “dejavu” tapi kami tiada pula faham-faham benar. Kantor
yang sama, tempat yang sama, keadaan kantor yang hampir sama. Hanya
orang-orangnya saja yang berbeda. Atau kami yang tiada dapat mengingat
mereka..
__________________________
* 14 Juli 2014
Komentar
Posting Komentar