![]() |
| Ilustrasi Gambar: Disini |
Kami membaca kisah pertama pada buku Berjalan di Atas Cahaya[1] yakni mengenai perjalanan mereka ke Desa Biel
atau ada juga yang menyebutnya dengan Bienne yang terletak di Negara
Swiss. Menarik hati kami kisah mereka ini karena pada hari Ahad negeri
ini sangatlah lengangnya. Bagi orang Swiss, Hari Ahad ialah hari berehat
dan hari keluarga. Semua orang menghabiskan hari bersama keluarga
sambil berehat. Bahkan orang-orang yang mereka temui di jalan sangatlah
sedikitnya.
Terus terang kami tersenyum membaca kisah ini, kenapa? Karena
pandangan orang Indonesia yang “Sok Moderen” berpendapat bahwa hari Ahad
merupakan hari berpesiar ke sana-kemari. Menghabiskan hari bersama club, semacam klub sepeda, klub motor, atau klub-klub lainnya yang bertebaran di negeri kita ini.
Sudah menjadi pandangan di kalangan masyarakat banyak bahwa hari Ahad
mestilah menjadi hari yang ramai dimana semua orang keluar untuk
berpesiar, bersenang-senang, atau menghabiskan waktu ke tempat-tempat
pelancongan serupa kebun binatang, tempat wisata, rekreasi, maupun
hiburan.
“Kota yang ramai pada hari Ahad ialah kota yang ramai orang berpesiar dan melancong” demikianlah pandangan orang-orang.
Oleh karena itu banyak orang yang berusaha untuk menghidupkan kota
mereka disaat akhir pekan. “Jangan sampai lengang, malu awak dibuatnya,
tanda kota kita terbelakang..” demikianlah pendapat sebagian orang.
Ketika masih kuliah dahulu kamipun mendapati seorang kawan yang
berpandangan bahwa daerah yang maju sama dengan daerah yang ramai
“Kampung saya itu maju, tengoklah ramai oleh orang-orang. Angkutan
buspun sampai ke kampung saya. Berlainan dengan kampung engkau yang
lengang..”
Namun dalam hati kami berpendapat berlainan, bahwa kemajuan taklah
sama dengan keramaian. Banyak masalah yang disebabkan oleh keramaian,
yang pasti ialah sampah yang bertumpuk-tumpuk, orang kencing
sembarangan, jalanan yang macet karena dipakai oleh orang untuk
berdangang, dan lain sebagainya.
Bagi kami, hari Ahad ialah hari untuk berehat, menenangkan diri,
menghabiskan waktu bersama keluarga. Janganlah sampai ada pula kegiatan
lain yang menggaduh hendaknya..
Beruntunglah kampung kami di dekat Bukit Tinggi keadaannya lengang
apabila hari libur tiba, walau keadaan berlainan berlaku di Bukit
Tinggi. Senang hati kami karena tenang dan tiada terdengar bising oleh
orang ataupun kendaraan. Demikian pula dengan kota tempat kami bekerja
sekarang, lengang pula pada saat hari libur tiba. Walau kami sedih juga
dengan pandangan sebagian besar orang-orang disini yang berusaha
meramaikan kota disaat hari libur. Terutama pada malam Ahad, diusahakan
membuat hiburan agar sekalian orang keluar dari rumah mereka. Sungguh
terpana kami dibuatnya..
Ada lagi yang membuat kami takjub yaitu keadaan Kampung Biel yang
serba cukup segala saran dan prasarananya. Segala jenis angkutan ada
demikian pula dengan jalan serta komunikasi dicukupkan oleh pemerintah
mereka. Lapangan padang rumput mereka luas dimana sapi, domba, dan
biri-biri bermain mencari makan. Keadaan demikian tak dapat kita jumpai
di negeri kita. Tinggal jauh dari pemukiman ialah pertanda terpencil dan
terkebelakang, sungguh suatu anggapan yang silap dari kita.
Kemana-mana orang menggunakan kareta angin, bahkan untuk menuju ke pemberhentian oto bus sekalipun. Berlainan dengan kita yang malas berjalan, dibuat orang angkutan trans namun malas berjalan ke tempat pemberhentiannya
“Terlalu jauh dari rumah..” kilah sebagian dari kita.
Sungguh ada suatu perasaan iri muncul dihati setiap membaca kisah
perihal betapa syahdunya negeri-negeri di Eropa. Bilakah negeri kami
akan serupa itu dan bila pulakah kami mendapat rezki untuk menziarahi
berbagai negeri tersebut?
Hanya Allah Ta’alalah yang tahu..
_______________________
[1] Hanum Salsabiela Rais, dkk. Berjalan di Atas Cahaya. Gramedia. Jakarta, 2013

Komentar
Posting Komentar