![]() |
| Ilustrasi Gambar: Disini |
Acap kali kami mendengar bahwa orang Minang ini sangat payah sekali
kalau sudah berhadapan dengan “pelayanan”. Sebab kita orang Minangkabau
ini tidak pandai dalam melayani, maka dari itulah dunia pelancongan di
ranah ini tak pernah dapat berkembang. Begitulah kira-kira pendapat yang
kami dengar.
Dahulu tatkala mendengarnya kami senang-senang saja, sebab kami tak hendak dunia pelancongan di ranah ini menjadi berkembang. Lebih banyak mudharat dari pada manfaat, demikianlah
pendapat kami sejauh kami melihat dan mempelajari keadaan di daerah
lain yang dunia pelancongannya telah maju. Akan rusak agama dan hilang
adat kita orang Minangkabau ini nantinya, sekarangpun telah berangsur
hilang.
Namun agaknya bukan pelayanan di bidang pelancongan saja yang patut
kita kaitkan dengan keadaan watak orang Minangkabau tersebut. Melainkan
kepada segala bentuk “Pelayanan Publik” – demikianlah orang sekarang
menyebutnya – yang buruk keadaannya di Minangkabau. Telah banyak kami
mendengar keluhan perihal buruknya pelayanan publik di ranah ini.
Padahal engku-engku dan encik-encik ini telah mendapat pengajaran
perihal Pelayanan Prima, tapi tampaknya otak mereka bebal sangat.
Kamipun turut menjadi korban dari buruknya pelayanan ini, pada hari
ini kami berurusan pada salah satu “Instansi Vertikal” – demikianlah
istilah orang sekarang – dengan keperluan mengurus suatu persoalan
menyangkut kepegawaian. Semenjak dari Tukang Jaga (Satpam) kami telah
mendapat pelayanan yang buruk. Padahal hanyalah orang upahan yang
derajatnya paling bawah di kantor ini. Tatkala kami masuk ke dalam
kamipun mendapat perlakuan yang 11-12 (sebelas-dua belas) alias serupa
tapi tak sama dari seorang yang bertugas memberikan pelayanan.
Engku Keparat ini telah tua agaknya umurnya, mungkin akhir 40
tahunan, berkacamata, dan berkulit sawo matang. Sedang duduk dengan
anggun di kursi yang sebenarnya kepunyaan dari pemerintah sebab dibeli
dengan uang pajak rakyat. Suaranya yang keras sampai terdengar ke
seluruh ruangan, tampaknya memang berniat Engku Keparat ini
mempermalukan kami. Tapi untunglah ruangan sedang lengang sebab telah
tengah hari beranjak petang hari. Kata-katanya pedas, tinggi, dan
seolah-olah dia ialah raja di ruangannya ini. Sungguh durjana, busuk,
dan laknat engku keparat ini. Semoga Allah memberinya balasan yang
setimpal..
Hanya beberapa saat kejadiannya dan kamipun balik kanan, pergi tanpa
mengucap salam kepada si engku keparat ini dan kepada si tukang jaga
yang sudang duduk-duduk di posnya di muka kantor. Sungguh kami amarah
ini telah naik ke ubun-ubun namun untung kami segera berlalu dari kantor
ini, semoga mereka semua mendapat balasan yang setimpal, Amin..
_________________________
[1] Kodok

Komentar
Posting Komentar