Pengalaman Pertama

Ilustrasi Gambar: Disini
Petang hari selepas pulang kantor kami duduk-duduk dengan salah seorang kawan sambil menikmati pemandangan dan suasana pulang kantor pada salah satu tempat yang dikenal sebagai salah satu tempat yang cukup pantas untuk berleha-leha sambil melihat orang melatih kuda. Namun sayang pada hari ini dikarenakan bulan puasa, kuda dan pelatihnya sepertinya keletihan..

“Bagaimana gerangan pengalaman engku di kantor baru..?” tanya kami penasaran.

Sambil memandang jauh ke tangah lapangan, kawan kami menjawab “Ah.. biasa sajalah engku. Namanya juga orang baru mestilah banyak-banyak berkenalan dan banyak pula tanya orang ke awak ini..”

Kami merasakan ada yang mengganjal dari jawapan yang diberikan oleh kawan kami ini. Kami coba menyelidiki lebih lanjut “Memang demikianlah adanya engku, lain padang, lain belalang – lain lubuk, lain pula ikannya. Tentulah keadaan tidak seperti yang kita harapkan. Indah selalu dan menyenangkan hati. Namun engku, ceritakanlah kepada kami seperti apa pula tanya orang-orang kepada engku itu?”


“Engku, bagaimana pula dengan engku ini? Baiklah saya terangkan, ada yang berkata dengan nada cemburu kepada kami; hebat yang engku muda ini, pegawai baru telah dapat pula mengurus pindah. Kami diam saja dengan memberikan seutas senyum sebagai sedekah kepada engku yang berkata itu..” jelasnya kepada kami.

“Ada pula yang bertanya kepada kami; “Orang rumah (isteri) dimana tinggal..?” tanyanya kepada kami
Kami jawab “Di Bandar Padang rangkayo..”

Lalu kenapa tak pindah ke Padang saja..!?” tanyanya mengintimidasi

Kami coba menahan diri, siapakah kiranya rangkayo ini sehingga berani-beraninya bertanya serupa itu kepada kami. Kami coba jawab dengan nada datar “Kampung awak disini, tentulah awak pindah ke bandar ini..

Rupanya rangkayo nan seorang ini tak hendak peduli. Diteruskannya “Iya, tapi isteri engku kan di Bandar Padang. Kenapa tak pindah ke bandar itu saja..

Tentulah iya, isteri mesti ikut suami…” jawab kami agak sedikit keras.

Selepas menjawab tersebut salah seorang pegawai perempuan yang telah berumur tertawa ringan dan membela kami dengan menyetujui pendapat kami yang terakhir..”

“Tenang saja engku, biasa itu. Dimana-mana selalu kita jumpai orang dengan sifat hasad dan dengki serupa itu. Sebaik-baik apapun kita, tetap ada orang yang tak senang kepada kita. Kisah kami tiada jauh berbeda dengan kisah engku ini..” ujar kami.
____________________________________
* 16 Juli 2014

Komentar