Si Tinggi Hati

Ilustrasi Gambar: Disini
Pada pagi yang mendung kami bersama dua orang kawan duduk-duduk  di teras sebuah surau[1] pada sebuah koplek perkantoran di kota kami. Seorang kawan telah lebih dahulu berleha-leha selepas menunaikan Shalat Dhuha. Sedangkan kami berdua baru bergabung beberapa saat selepas itu.

Selepas menunaikan Shalat Dhuha maka kamipun bergabung dengan kawan nan seorang tersebut. Duduk berleha-leha di teras sebuah surau dikala sedang lengang memanglah lain pula nikmatnya. Kami bercakap-cakap perihal pengalaman kami di tempat baru ini. Tatkala sedang asyik-asyiknya bertukar cerita tiba-tiba seorang engku yang berumur kira-kira akhir 50 tahunan keluar dari sebuah kedai yang terletak di dekat surau itu. Kawan kami yang bernama Engku Fadli dengan ramah menyapanya.

Alangkah terkejutnya kami karena rupanya sapaan tersebut hanya pemicu dari keangkuhan si engku.

“Dimana engku muda ini bekerja..?” tanyanya angkuh kepada kawan kami.

“Disini engku, kami baru pindah..” jawab Engku Fadli.


Si engku berjalan mendekat ke arah kami, dengan berkecak pinggang serta dengan suara yang agak dikeraskan kemudian berkata kepada kawan kami “Hah.. saya fikir engku tak bekerja disini, saya kenal orang-orang yang bekerja disini. Berlainan dengan kawan engku itu yang tadi bersua dengan saya tapi tak hendak disapanya saya..”

Kawan kami yang sedari tadi telah duduk-duduk berleha-leha disinipun diam saja, mukanya merah menahan kesal. Kamipun demikian pula, heran tak habis fikir “Tak puasa agaknya engku ini, percuma memakai kopiah haji namun perangainya bertolak belakang dengan pakaian yang dikenakannya..”

Engku Fadli hanya tersenyum “Ya.. engku, kami masih baru disini..” balasnya sekenanya tanpa mengurangi senyum yang menghias wajahnya.

Selepas kepergian engku gaek nan pongah itu, kami bertanya kepada kawan kami yang malang ini, gerangan apa yang telah berlaku sebelumnya?

“Tadi saya bersua dengan orang itu tatkala saya sedang mencari-cari kayu kecil untuk mencongkel batu yang ada di tapak sepatu saya. Kemudian orang itu muncul dari belakang kedainya, saya hanya menatap saja demikian pula dengan orang itu. Ada keinginan untuk menyapa, namun tatkala mendapati tatapan angkuh dari dia, saya urungkan niat untuk menyapa, tiada guna..” terang kawan kami.

Kawan kami ini memanglah pengecil hati, jadi apabila dia sudah tersinggung maka dia akan berjalan mundur dan kemudian menghindar. Apalagi melihat perangai si engku tadi yang congkak, benar-benar kena coba puasa kita. Kami yang melihat saja sudah sesak dada ini dibuatnya. Tak patut kiranya orang dengan umur yang telah setua itu berkelakuan demikian. Terlalu tinggi hati, congkak bin sombong, Na’uzubillah, semoga Allah Ta’ala menjauhkan kami dari sifat-sifat yang demikian.

Namun agaknya kawan kami ini terpancing “Sungguh aneh orang itu engku-engku, dia bukan pegawai namun berlagak sebagai pegawai. Tengoklah penampilannya engku-engku berdua! Parlente bukan!? Baju kemeja lengan pendek, celana dasar, sepatu bersih mengkilap serupa para pegawai. Sungguh kasihan dia, punguk merindukan bulan agaknya..”

[1] Dalam hal ini mushalla
_____________________________
*  12 Juli 2014

Komentar