Tak Malu Tak Puasa

Ilustrasi Gambar: Disini
Dalam perjalanan dari Padang hendak pulang ke Bukittinggi yang lalu kami mendapati berbagai pemandangan ganjil sehubungan dengan bulan puasa ini. Salah satunya ialah seorang lelaki yang dengan acuhnya berdiri di tepi jalan sambil memetik sebatang rokok di jarinya. Kami tersenyum hambar melihat kelakuan orang tak berkening itu.

Rupanya kejadian ini memancing cerita dari isteri kami “Dahulu semasa dinda masih berulang ke Kampuang Dalam di Pariaman kerap mendapati sopir bus yang tak puasa tuan. Tanpa segan dan malu si sopir meguk air minum dari botol minuman di dekat para penumpang yang tengah berpuasa..” kisahnya.

Kisah dari isteri kami inipun memancing pula kisah serupa dari kami “Demikian pula dengan tuan ini dinda, pernah pada suatu ketika tuan naik travel dari Padang ke Bukittinggi semasa kuliah dahulu. Di tengah perjalanan si sopir dengan acuhnya menurunkan kaca mobil disisinya dan kemudian memetik sebatang rokok..”


Sungguh kami tiada faham entah apa yang dibenak setiap orang, telah berbeda jauh adat orang zaman dahulu dengan adat orang zaman sekarang. Kalau dahulu, apabila ada yang tak berpuasa maka ia akan menyembunyikannya tak akan memberi tahu orang lain “Malu awak..” katanya. Walaupun ia seorang parewa[1] sekalipun yang hidupnya jauh dari nilai-nilai agama.

Memang demikian, kalau mereka hendak makan atau minum maka mereka akan mengendap-ngendap, memastikan tiada seorangpun yang menampak mereka. Takkan berani mereka makan, minum, ataupun merokok di hadapan orang lain. Sebab “malu” masih ada, berlainan dengan orang sekarang..

Kami yakin masih banyak kisah-kisah serupa tapi tak sama yang engku dan encik alami, semoga Hidayah Allah sampai kepada mereka..
___________________________

[1] Pareman, preman

 * 1 Juli 2014

Komentar