Karena Memegang Bedil

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Klik Disini
Tengah hari menjelang petang, awan gelap berarak dari arah timur Bandar Padang, angin dingin berhembus sepoi-sepoi, hujan rinai mulai berjatuhan dari arah timur. Disaat itulah St. Malenggang nan berkendara onda[1] memboncengi isterinya menuju arah luar bandar. Namun beberapa saat sebelum memasuki gerbang batas bandar ia berbalik. Takut isterinya kena hujan, nanti sakit ia sakit pula anak bujang mereka nan masih erat menyusu. Jubah hujanpun mereka tiada punya..

Adalah adat berkendara di negeri ini, berkendara sesuka hati, tiada peduli dengan pengendara lain. Apakah itu pengendara onda, oto[2], atau kendaraan jenis lain. Beragam kemalangan berlaku karena ketidak acuhan orang-orang dalam menggunakan jalan. Setiap orang hendak didahului, setiap orang merasa penting, setiap orang merasa dirinya mesti cepat sampai di tempat tujuan.


Dalam perjalanan pulang inilah kemalangan menimpa St. Malenggang. Laju kendaraannya lambat saja, berkendara arah ke tepi pula. Kata kawan-kawannya “Engku membawa kendaraan serupa orang tua dan perempuan..” dia tersenyum saja. Orang tua dan perempuan saja pada masa sekarang banyak nan kencang-kencang membawa kendaraan, dia tidak, penakut.
Sebuah oto SUV putih keluaran salah satu pabrik Jepang parkir di sisi sebelah kiri, di tepi jalan kereta api. Tentulah mesti disalip, namun tatkala hendak menyalip tiba-tiba datang truk besar dari arah belakang membawa muatan alat berat. Langsung di klason St. Malenggang nan di depan, disuruh menepi. Manakan dapat St. Malenggang menepi, ondanya sudah sejajar dengan bagian belakang oto SUV karena hendak menyalip. Truk ini masih tetap menglason dengan suara klasonnya nan keras membahana.

St. Malenggang terus saja menyalip SUV, dan begitu truk besar itu akhirnya berhasil menyalip St. Malenggang, stokarnya memberi pandangan tajam dari atas bus sambil bergumam tak jelas. St. Malenggang balas memandang dari kaca helemnya nan serupa cermin apabila dipandang dari luar. Si Stoker berkulit hitam legam itupun masih terus saja memandang dengan pandangannya nan buruk sambil bergumam serupa dukun sedang merapal mantera.

Akhirnya di naikkan oleh St. Malenggang kaca helemnya, bersitatap mereka, kesallah stokar nan hitam legam ini. Disuruhnya sopir truk untuk menepi supaya berhenti – hebat, baru tahu kami stokar dapat menyuruh sopir – lalu keluar ia dari atas truk, berjalan mendekat St. Malenggang nan telah berhenti pula dan mulai marah-marah.

“Tak nampak di kaca spion engkau ini kalau truk saya hendak lalu..!?” bentaknya. Isteri St. Malenggang nan diboncengnya sudah berucap istigfar dan mengelus-ngelus dada suaminya menyabarkan. Disebut-sebutnya nama anak mereka agar suaminya tak terpancing.

“Sudah jelas saya akan menyalip oto SUV, engkau klason pula. Mana dapat saya beri jalan..” jawab St. Malenggang. Lagipula ia heran “Mesti menyingkir dengan penuh takzim pula awak nan telah berada di hadapan ini apabila telah kena klason dari arah belakang..” ini bukan pertama kali dihadapinya, sudah lazim pada masa sekarang dalam berkendara, setiap orang merasa penting.

Namun nan membuat dia heran, kenapa Si Hitam Legam nan bertabi’at kasar ini berani turun dan menghadang ondanya? Rupanya karena ia punya pengawal, ia kendaraan besar serupa ini biasanya memang dikawal apabila sedang membawa alat berat. Biasany dari Kesatuan Parit Pagar Negara namun kali ini bukan dari kesatuan itu melainkan dari Kesatuan Angkatan Negara. Kalau tak salah dari bagian Askar Utama Perairan, tampak dari baju kaos nan agak kehijauan nan bertuliskan nama askarnya.

Orang telah mulai ramai menonton, serupa menonton orang menjual obat di tengah pasar.

“Ada apa..!?” tanyanya pada Si Hitam Legam sambil memarkirkan ondanya sportnya di trotoar. Lalu ia berjalan mendekat dengan pongah. Masih muda, mungkin tak jauh berpaut umurnya dengan St. Malenggang. Berbadan agak kurus.

Dengan pongah ia membentak St. Malenggang, lalu dijelaskan oleh St. Malenggang jalan kejadiannya dengan tiada lancar. Memang St. Malenggang penggugup apabila sudah bercakap, apalagi di hadapan orang banyak.

Disangkanya anggota askar ini akan faham, namun ia segera sadar “Tentulah nan dikawalnya akan selalu dibela..” Tak berapa lama selepas kedatangan si anggota askar, Si Hitam Legam segera berjalan ke atas truknya. Naik ia karena pengawalnya telah tiba, gedang hatinya “Jangan macam-macam engaku, awak punya pengawal orang begak..!”

Si anggota askar dengan logat utara menghardik sambil meraih tangan kiri St. Malenggang “Jangan banyak cakap!! Ayo ikut..”

St. Malenggang, terkejut namun untung ia dapat mengendalikan fikirannya sehingga dapat menjawab “Apa dasar hukumnya awak hendak engkau bawa..” jawabnya sambil mematikan mesin ondanya. Isterinya sudah sangat cemas, mengusap-ngusap dada St. Malenggang dari belakang sambil menyabarkan suaminya dengan menyebut-nyebut nama anak mereka.

Si anggota askar langsung naik pitam, diraihnya leher baju kaos St. Malenggang “Melawan engkau, pakai tanya dasar hukumnya pula..!!” hardiknya dengan logat utara nan kental. Memanglah perkara ini bukan wilayah hukum askar ini, Pasukan Parit Pagar Negaralah nan memiliki wewenang. Askar ini hanya berkewajiban membela dan mempertahankan negara.

Namun tampaknya segera ia sadar, orang telah ramai, dan Si Hitam Legampun sudah balik ke atas oto. Segera ia balik badan, kembali ke ondanya. Melihat si anggota askar sudah di atas onda, sopir truk itupun menjalankan otonya. Si anggota askar memandang tajam St. Malenggang sambil menghidupkan ondanya.

Terkadang, seragam dan lembaga tempat kita bernaung membuat kita congkang memandang kehidupan.

Dalam perjalanan pulang isterinya menyabarkan dirinya, menyesali suaminya “Semestinya tak tuan lawan, tiada guna orang serupa itu tuan lawan..” St. Malenggang diam saja.

Sesampainya di rumah, tak lama selepas menyusukan anaknya nan sedari tadi minta susu. Isterinya memeluk dirinya “Tuan, jangan sampai berlaku hal nan demikian lagi. Kalau ada terjadi, jangan tuan lawan, tiada guna. Ingat dinda, ingat anak kita tuan. Kalau berlaku hal—hal buruk kepada tuan, bagaimana pula nasib kami ini nantinya..” ujar isterinya. Terasa hangat air mata sang isterinya di baju St. Malenggang.

Dia meangguk dalam diam..
_______________________________________________________________
Catatan Kaki:
[1] Motor
[2] Mobil

Komentar