Cara terbaik menghukum orang adalah diamkan saja, tidak usah dipedulikan lagi. Itu menyakitkan sekali.
Maka, bersyukurlah jika orang masih marah, menegur, menyindir, dan sebagainya. Karena sekali kita dianggap angin lalu, kita seperti 'dihapus' dari muka bumi.
*Tere Liye

- Ilustrasi Gambar" Klik Disini
Sutan Rasyid Ali terdiam seorang diri di tengah keriuhan kantornya nan lengang. Tiga orang kawannya sedang asyik memperbincangkan kelakuan induk semang mereka nan sedang bersengketa. Rangkayo Dewi, Rangkayo Hasna, dan St. Palangek sedang khusyuk mempergunjingkan kelakuan para induk semang mereka. Dia diam saja, asyik dengan laptopnya, pura-pura bekerja, pura-pura mengetik, namun telinganya dinyaringkan. Ia malas ikut serta, tak hendak ia ikut bergunjing, lagipula ia sedang bersengketa pula dengan St. Palangek.
Orang-orang banyak nan keluar, ada nan pergi rapat, ada nan sedang ikut salah satu acara nan diadakan oleh bidang mereka, atau ada jua nan sekadar mencari angin keluar kantor. Duduk-duduk di lepau, pergi mengurus beberapa keperluan nan dirasa perlu, atau berjalan hilir mudik di labuh besar bandar raya ini.
“Kenapa mesti saling mendiamkan itu, tak masuk kantor pula. Heran awak, kalau perempuan bacaran[1], kalau lelaki baku hantam, sedangkan ini masuk jenis nan mana..?” ujar Rangkayo Dewi.
“Benar kak..” sambung rangkayu Hasna “Ayah awak dahulu pernah memburu Engku Camat dengan lading[2] karena sakit hatinya. Selepas itu mereka berbaikan lagi, tertawa bersama-sama. Selesai masalah..” kenangnya.
St. Palangekpun tak hendak kalah, dengan nada menjilat kepada kedua perempuan nan cantik jelita ini – maklumlah ia hanya pegawai kelas tiga nan sedang menanti proses menjadi pegawai kelas dua, dan sangat mengidamkan (Berambisi) menjadi pegawai kelas satu serupa St. Rasyid dan kedua rangkayo ini – ikut serta pula “Iya, kalau hendak merajuk di rumah sajalah..”
St. Rasyid hanya tersenyum dalam hati, gemas ia mendengar penjilat nan seorang ini ikut pula. Namun ia tak heran karena St. Palangek ialah seorang pegawai rendahan dan ditugaskan di luar kantor. Berlainan dengan mereka-mereka ini nan telah menjadi pegawai kelas satu, mendapat meja, mendapat laptop, dan berbagai fasilitas lainnya. Sesekali ia datang ke kantor hanya karena tugasnya sebagai Bendahara Pembantu lepas dari itu tak ada lagi. Datang duduk-duduk di ruang bidang mereka hanya untuk memperlihatkan muka kepada atasan, bermanis mulut, dan tentu saja menjilat. Serupa wawaw saja suka menjilat.
Namun ia kecewa dengan kedua orang kawannya “Mungkin karena bukan tabi’at mereka..” belanya pada diri sendiri. Sebab sifat diam bukan tanda kepengecutan, bukan pula tanda keperempuan-perempuanan. Sifat diam diambil karena diam lebih baik pada saat ada sengketa, sebab sejauh pengalamannya, keadaan akan bertambah buruk apabila mulut masih terus berucap. Karena kata-kata nan dilontarkan ketika marah tak disaring lebih dahulu oleh hati disebabkan kendali diri tiada, amarah mengambil alih.
Serupa nan berlaku antara ia dengan St. Palangek, ditikam dari belakang hati siapa nan takkan sakit. Apa mesti nan diperbuatnya? menurut St. Palangek dan kemudian berbaku hantam? Terus terang bukan levelnya, turun level dia kalau sampai hal nan serupa itu berlaku antara ia dengan St. Palangek “Orang nan hanya tamat es-de ini nan akan awak lawan..?”
Akhirnya sifat diam dipilihnya, telah berbulan-bulan tak bertegur sapa “Tiada guna orang serupa itu dipergauli, bergaul dengan tukang daging, mendapat bau daging. Bergaul dengan tukang sampah akan bau sampah pula kita..”
Sebelumnya telah berlaku hal nan serupa ditikam pula dari belakang namun ia coba untuk memaafkan dan melupakan. Padahal St. Palangek tiada meminta maaf, kata nabi kita “Memaafkan orang sebelum ia minta maaf merupakan suatu perbuatan nan mulia..”
Namun kejadian nan kedua tiada dapat dimaafkan, ditikam lagi dari belakang untuk menjilat kepada induk semang. Cemas ia St. Rasyid akan duduk di atas kepalanya, maka dari itu dipintasnya. Ditambah pula induk semang sangat pula percayanya pada St. Palangek, maka berjalan muluslah hasutannya. Si induk semang pandirpun tak pula menyadari atau hendak menyadari. Ia lebih memilih berada dalam kepandirannya, St. Palangek ialah orang kepercayaannya.
Seorang kawannya menasehati “Bukankah dalam agama kita, tak bertegur sapa selama tiga hari itu telah berdosa..?”
St. Rasyid terdiam, ia berada dalam dilema. Terkenang ia dengan pepatah “Walau harimau dalam perut, namun nan keluar di mulut kambing juga..” tapi batinnya menolak “Itu sifat munafik..!!” ia tiada suka.
Demikianlah, ia hanya mendengarkan ketiga orang ini mempergunjingkan induk semang mereka. Tiada masalah mendengarkan dua suara merdu nan di belakang, namun satu suara buruk nan dapat membuat gendang telinga sesiapa saja pecah sangat menyiksanya. Dasar penjilat..
__________________________________________________
Catatan Kaki:
[1] Perang Mulut
[2] Sejenis Parang atau Golok
Komentar
Posting Komentar