Pernahkah engku bersua dengan orang yang apabila berucap dan berbuat merasa selalu benar dan mesti dituruti? Kami yakin pernah, karena jenis orang serupa ini ada dimana-mana, serupa nan kami alami. Ketika masih bekerja di tempat nan lama, orang serupa ini kami dapati - beberapa orang malah - setelah pindah ke tempat kerja nan sekarang kembali bersua oleh kami jenis orang serupa ini. Hal tersebut membuktikan bahwa jenis orang serupa ini sangat banyak jumlahnya, kalau tidak, kenapa ada dimana-mana? Kecuali mereka hantu..
Di tempat kerja nan sekarang ada beberapa orang yang kami dapati memiliki sifat demikian, dan pada tulisan kami nan sekarang kami berniat mempergunjingkan mereka dengan engku, rangkayo, serta encik sekalian. Berkenankah engku, rangkayo, serta encik bergunjing bersama kami dipagi ini?
Pertama ialah seorang pimpinan di kantor kami – St. Majnun namanya – masih baru pada jabatannya dan baru pula naik pangkat. Arti kata ini merupakan pengalaman pertamanya menjadi boss. Seorang penyindir dan manis mulut, sifat seorang bos benar-benar diamalkannya yakni “Tukang perintah & I have no Job”. Dalam fikirannya, karena memiliki anak buah maka seluruh pekerjaan yang dibebankan kepadanya diserahkan kepada anak buah. Adapun dengan dia, duduk-duduk di lepau, berjalan kian-kumari,[1] suka menghilang dari kantor, dan kesal apabila mendapat tugas dari pejabat yang lebih tinggi, serta marah kalau anak buah banyak kerjaan lain dan tiada dapat memenuhi perintahnya.
Dalam hati kami berkata “Kalau demikian tiada guna engkau, Cuma sekadar memegang jabatan dan memberi perintah anak Te-Ka pun dapat pula..”
Nan paling kasihan ialah kawan kami yang berada di bawah perintahnya, sampai hampir menangis rangkayo kawan kami ini dibuatnya. Segala pekerjaan diserahkan kepadanya, belum lagi ada pula beban pekerjaan diluar yang mesti ditanggungnya. Jauh-jauh hari engku Kepala Dinas telah berpesan kepada para pimpinan “Kalau pekerjaan itu dapat engku lakukan, jangan serahkan kepada anak buah. Kerjakan saja sendiri..”
Mungkin ia lupa atau tertidur ketika engku Kepala Dinas berpesan, atau sedang termenung, menelepon, chating di hapenya, atau telinganya yang pekak. Entah mana yang benar.
Namun dalam pemahaman kami serta ditambah dengan berbagai keterangan serta pendapat dari orang-orang disekitar dapat kami ambil kesimpulan bawah; St. Majnun ialah seorang yang tiada memiliki kepandaian apa-apa alias pandir dalam hal pekerjaannya. Hanya saja ia berlagak pintar di hadapan anak buahnya. Berikutnya ialah orang yang mengangkat St. Majnun sebagai pimpinan diragukan kesehatan akal dan fikirannya, kemungkinan ketika itu beliau sedang sakit, sedang mengantuk, setengah sadar, atau dibohongi oleh orang sekitarnya sehingga penilaiannya tak lagi jernih atau serupa pula dengan boneka dari cina, tiada membaca terlebih dahulu apa yang hendak ditanda tanganinya.
Makhluk kedua ialah seorang perempuan Rangkayo Jawinar namanya, yang juga menjabat sebagai salah pimpinan di kantor kami. Bedanya ia agak sedikit lebih pintar dari St. Majnun, ingat engku, rangkayo, serta encik sekalian “sedikit”. Tentulah engku, rangkayo, serta encik heran “Bagaimana Engku St. Nagari Basa dapat memberikan penilaian nan demikian, sombong engku agaknya..!”
Bukan sombong engku, hanya kesal bercampur dendam kusumat saja. Tulisan ini sangat subjektif karena kami pernah menjadi salah satu korban dari orang-orang nan kami kisahkan pada tulisan ini “Patutlah..” kata engku, rangkayo, serta encik sekalian “Tulisan ini penuh dengan kebencian, engku St. Nagari Basa Lebay..”
Apapunlah kata engku, rangkayo, serta encik sekalian nan penting tulisan kami ini dibaca, hehe..
Betina nan seorang ini memang lebih cerdik dan lihai, selain sebagai seorang pimpinan ia juga ditunjuk sebagai petugas pengadaan di kantor kami. Orang yang dapat ditunjuk menjadi petugas pengadaan bukanlah sembarang orang, ia telah mengikuti pelatihan dan mendapat sertifikat. Demikianlah, mungkin karena hal inilah hidungnya agak lebih besar kelihatannya.
Kami tiada tahu bagaimana ia berhubungan dengan anak buahnya, tampaknya baik-baik saja namun perhubungannya dengan pegawai lain di kantorlah – dan juga nan kami alami – kami mendapat cerita. Merasa pendapatnya selalu benar, tak mendengarkan pendapat orang lain, suka merendahkan pendapat orang lain, serta menyalahkan pekerjaan orang lain. Dan juga – kata kawan kami nan perempuan – selain merasa dirinya yang paling pintar dan hebat ia juga merasa yang “Paling Cantik”
Kalau kami pandang-pandangi rangkayo Jawinar ini memang memiliki pesona tersendiri sebagai perempuan. Kulitnya coklat manis, selain agak lebih manis ia juga lebih pintar sehingga hal tersebut memberi pesona tersendiri pada wajahnya.
Namun yang membuat kami tak tahan ialah sifat engkuh dan sombongnya, mungkin ketika itu ia sedang “mendapat” makanya kami mendapat perlakuan nan hina-dina darinya. Dasar betina, sehebat-hebat apapun, tetap tak stabil kalau sedang datang bulan.
Dalam memandangi rangkayo Jawinar dengan sedikit pesona kewanitaannya ini kami berpandangan bahwa ia mengalami penyakit kerapuhan dan ketidak percaya diri yang agak mulai parah. Hal ini menyebabkan penginapnya berusaha menyembunyikan kekurangannya dari orang lain dengan cara bersikap sebaliknya. Serta penyakit berikutnya ialah Penyakit Padusi Kareh Angok (Woman Dominan Sindrom) yakni penyakit yang diderita seorang perempuan yang berusaha menunjukkan kekuasaan/ kemampuan (Dominasi) terhadap orang-orang dan lingkungannya, terutama lelaki.
Makhluk ketiga ialah masih seorang betina, pegawai biasa ia mengidap penyakit yang sama dengan rangkayo Jawinar, maklumlah mereka satu bidang. Namun yang ini lebih parah karena dalam status pendidikan ia hanya tamatan D3 hal ini tentu berakibat pada pangkat dan golongannya yang masih rendah dan tidak mungkin bagi dirinya – sehebat-hebat apapun ia – diangkat menjadi salah seorang pimpinan. Karena syarat minimal bagi pimpinan ialah pangkat dan golongannya ialah IIIa.
Hal tersebut menyababkan ia terkena penyakit (sindrom) Kerapuhan Pribadi. Dimana pengidapnya sadar dengan kekurangan dirinya dan berusaha untuk menutupinya dengan berusah bersikap sebaliknys. Jika ia lemah maka ia akan suka mengancam, apabila dia bodoh maka ia akan berusaha bersikap sok cerdik, demikianlah kira-kira.
Penyakit serupa ini selalu kami dapati pengidapnya semenjak dari tempat kami bekerja nan lama. Kebanyakan pengidapnya ialah pegawai di bawah golongan tiga. Mereka suka berlagak sok pintar, pakaian selalu rapi, baju bersanding, memakai minyak harum, serta dengan sepatu nan mengkilap sehingga kami dapat berkaca di sana, serupa dengan iklan salah satu produk semir sepatu.
Bagaimana kiranya pendapat engku, rangkayo, serta encik sekalian? Sependapatkah dengan kami?
Demikianlah, orang-orang semacam ini selalu ada dimana-mana. Dari pusat sampai daerah, dari Sabang sampai Merauke, dari pesisir sampai kedaratan, dari nan tua hingga nan muda, dan tak mengenal jenis kelamin. Kita do’akan saja agar populasi mereka semakin berkurang seiring dengan pembakaran hutan (tak ada hubungan engku, kata engku, rangkayo, serta encik sekalian).
_____________________________________________________________________________
[1] Kesana kesini

Komentar
Posting Komentar