
- Ilustrasi Gambar: Internet
“Oshin itu orang Cinakah tuan..?” tanya isteri kami tatkala kami memperbincangkan drama seri Oshin setelah melihat iklan penayangan dramanya pada salah satu televisi swasta – yang hanya dapat di tonton apabila engku berlangganan televisi berbayar – yang tayang di republik ini. Kami jadi tergelak dengan pertanyaan isteri kami.
Dari bahasanya saja sudah dapat diketahui dari negara mana Si Oshin ini berasal “Jadi pernahkah dinda menontonnya dahulu semasa kanak-kanak?” tanya kami.
“Tak tuan, hanya sering didengar karena acap disebut-sebut oleh orang..” jawabnya. Wajarlah ia tak tahu negara asal Si Oshin, belum pernah menonton. Kami pernah sesekali saja menontonnya, dahulu kami lebih candu bermain dengan kawan-kawan berlainan dengan anak-anak sekarang yang lebih candu nonton tv dan internet.
Tapi ada yang lain kami rasa pada drama seri Oshin nan baru, pemainnya lebih baru dan tampilan layar filemnya lebih baru pula. Kami tak dapat menjelaskan dengan baik perihal beda layar tahun 1990-an dengan layar 2000-an atau 2010 ke atas. Mungkin drama ini dibuat ulang oleh tukang buat filem di negaranya.
Perbincangan kami beralih ke Meja Oshin, yang dimaksud dengan Meja Oshin ialah meja rendah yang diperuntukkan bagi kita yang duduk bersila. Berlainan dengan pandangan orang-orang kampung kami dimana meja itu harus memiliki pasangan berupa kursi atau bangku. Meja rendah ini serupa yang dipakai oleh orang Jepang yang ditampilkan dalam drama seri Si Oshin. Masa itu – tahun 1990-an – meja rendah serupa itu masih langka atau sama sekali belum dikenal. Semenjak drama seri Si Oshin mulai banyak satu persatu orang-orang membuat meja rendah tersebut untuk digunakan ketika mereka duduk bersila.
Maka dinamailah meja tersebut dengan nama MEJA OSHIN, padahal meja tersebut bukan buah pemikiran dari Si Oshin melainkan produk budaya dari masyarakat Jepang namun Si Oshin nan dapat nama. Demikianlah, hingga kini Meja Oshin sudah menjadi bagian dari kebudayaan orang Minangkabau. Berutang banyak orang Minang kepada orang yang membuat drama seri Oshin, berutang pula kepada TVRI - stasiun tv negara - yang menayangkan drama seri ini di tahun 1990-an.
Pada masa sekarang Meja Oshin telah banyak mengalami perkembangan. Dimulai hanya sekadar menjadi meja penghias ruang tamu, ruang keluarga, digunakan untuk meja makan, untuk belajar, hingga dijadikan sebagai meja makan untuk kenduri yang hidangannya Ala Prancis alias prasmanan. Demikianlah, Si Oshin sendiri kalau mengetahui pastilah terpana, dan tentulah pada masa sekarang ia sudah jadi nenek-nenek lanjut. Atau mungkin sudah meninggal ia, entahlah..
Oshin ialah drama seri yang memberi banyak inspirasi, tak hanya di negaranya namun juga di republik ini. Sering disebut-sebut oleh orang-orang dewasa ketika itu – tahun 1990-an – perihal kerja keras, kegigihan, tidak malas dan manja, serta buah yang dipetik diusia dewasa ataupun senja atas kerja keras dimasa muda. pada tahun 2000-an salah satu televisi swasta di negeri ini sempat berusaha kembali memutar drama seri ini. Namun hanya beberapa seri saja sebab kemudian tayangan tersebut terhenti karena ada gempa besar di Aceh. Selepas itu, tak pernah tayang lagi hingga kini.
Generasi yang lahir tahun 1990-an tentu takkan pernah menonton drama seri ini, hanya mendengar saja mungkin, atau tak pernah sama sekali. Seperti sumando –saudara lelaki dari isteri – kami yang tak pernah mengenal satu katapun perihal Oshin. Generasi yang paling lambat lahir tahun 1980-anlah yang masih mendapati dan menyimpannya pada ingatan kolektiv tentang masa lalu.
Ah.. tahun 1990-an memanglah tahun nan indah penuh kenangan. Tak ada yang seindah dan sebaik tahun 1990-an. Setujukah engku, rangkayo, serta encik dengan kami..??
Sebenarnya ada yang menarik hati ketika melihat filem-filem atau drama seri dari Jepang dan negeri-negeri Asia Timur lainnya. Diantaranya ialah orang sana apabila masuk rumah akan menanggalkan alas kaki mereka sama dengan di Minangkabau. Lebih banyak duduk bersila karena budaya meja dan kursi di dapat dari Negeri Barat. Kemudian sama-sama makan nasi. Namun tampaknya karena Keaguangan Budaya Barat maka orang Asia – termasuk Minangkabau – lebih suka menjadi Copy Carbon bagi Barat.

Komentar
Posting Komentar