Orang Dewasapun Dibully Juga

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet
Ini merupakan kisah salah seorang kawan kantor kami, ketika memandang dirinya kami menjadi terkenang akan masa dahulu, masa kami masih kanak-kanak dan acap kena bully disekolah. Ada-ada saja kawan ataupun kakak kelas (senior) yang tak senang dengan kami, padahal bergaul tak pernah hanya bersua di jalan saja. Sampai kinipun masih demikian namun karena kami tak pernah bergaul di kampung jadi kurang begitu terasa.

Sebut saja namanya Rangkayo Rosnida, kami biasa memanggilnya dengan panggilan Kak Ros. Bertaut di atas kami beberapa tahun dengan kami umurnya. Ia sudah menikah dan memiliki sepasang anak. Di kantor ia ditempatkan pada bidang yang berlainan dengan kami. Dalam pergaulan di kantor - terutama dengan sesama perempuan - ia agak kurang mendapat tempat. Sebagian besar kawan-kawan (terutama perempuan) tak suka dengan sikapnya  yang lamban dalam segala hal.


Apabila hendak bergerak Kak Ros mesti dinanti dahulu, ada-ada saja guribik[1]nya, apakah kunci onda[2], terompah yang masih terpakai - pegawai tiada boleh pakai terompah -  atau hal-hal lainnya. Hal ini sering membuat dirinya kena bentak oleh yang lain, ditambah lagi dalam pergaulan di kantor dirinya termasuk salah satu yang paling muda ditambah sikapnya yang lembut dan jarang melawan, tentulah membuat yang lain semakin semena-mena.

Kami pandang-pandangi, tidak pula kesalahan dari induak-induak[3] yang lain sepenuhnya, tentulah mereka kesal akibat terhambatnya urusan mereka hanya karena ada yang lelet diantara mereka. Namun disisi lain pada diri engku-engku tiada demikian, apakah karena engku-engku ini lemah apabila berhadapan dengan perempuan? karena menghormati perempuan? atau karena mereka kasihan? Namun kami berpendapat - berdasarkan  pengalaman diri sendiri - karena engku-engku sudah berpengalaman dalam menghadapi isteri mereka yang lelet.

Demikianlah, kamipun pernah agak kesal pula melihat kelambanan dari kakak nan seorang ini. Kantor kami hanya memiliki satu kamar kecil, akibatnya kami mesti antri ke kamar kecil, pernah pada suatu ketika kami terpaksa lama menanti di luar padahal sudah sangat mendesak hasrat hendak ditumpahkan. Rupanya Kak Ros beserta anaknya di dalam, namun kami tiada tunjukkan rasa kesal itu karena rasa kasihan na terasa lebih besar.

Terkenang dengan masa bersekolah dahulu, kami tiada memiliki kawan. Mungkin karena kami tiada pandai mencari kawan dekat, mungkin karena kami pandir sebab tak berprestasi di dalam sekolah serta tiada pula pandai dalam mata pelajaran olah raga. Kami juga tak mengerti Dunia Sepak Bola, pada hal dimasa kami bersekolah, pengetahuan akan dunia sepak bola sudah lazim di kalangan kawan-kawan. Dimana-mana, apakah itu di kelas sambil menanti guru masuk untuk mengajar ataupun di lepau-lepau tempat kami berbelanja (jajan),  kawan-kawan selalu memperbincangkan sepak bola. Dan sayangnya otak kami nan bebal ini tiada dapat mencerna setiap pembicaraan mereka, akibatnya sampai kini kami masih benci dengan sepak bola, salah satu penyebab kami tiada berkawan semasa sekolah.

Penyebab lainnya mungkin diri kami, namun kami sampai sekarang tiada faham apa gerangan yang menyebabkan kawan-kawan kurang suka dengan kami. Mungkin kami ini orang yang menyebalkan dan memiliki salah satu atau beberapa sifat yang tiada disukai oleh kawan-kawan. Akibatnya, kawan-kawan dan kakak kelas - beberapa orang - tiada suka melihat kami, benci saja pembawaan mereka apabila sudah bersua dengan kami. Apabila sedang berkumpul bersama kami ini menjadi bahan olok-olokkan atau cemoohan, sering dijahili (bully) dan mendapat tatapan menusuk (terutama dari senior).

Demikianlah, bahkan sampai sekarang masih berlaku, beberapa orang kawan-kawan dan senior semasa bersekolah masih suka memberi tatapan panjang dan menusuk kepada kami. Tak kami hiraukan, tak ada guna biarkan beruk memekak, biarkan pula anjing menggonggong kalau dapat kita tembaki mereka dengan senapan angin, mati kalian..
__________________________________________
Catatan Kaki:
[1] Hal-hal yang memperlambat
[2] Motor
[3] Ibu-ibu

Komentar