Perempuan Tua Penjual Mariau

Ilustrasi Gambar: Internet*
Ilustrasi Gambar: Internet
Pagi ini kami terlambat ikut apel pagi di kantor, kami datang ketika Engku Kepala Dinas sedang memberikan petuah kepada seluruh pegawai yang hadir. Rupanya kami bukan yang paling terlambat karena masih banyak yang paling terlambat dari kami. Demikianlah, dengan masih menggunakan jaket dan menyandang tas kami ikut mendengarkan petuah yang kami tiada begitu ingat.

Jalannya apel pagi kurang khusyuk karena beberapa kali lalu onda[1] dengan kencang di hadapan kantor kami dengan knalpot yang memekak. Beberapa orang kawan tampak kesal dibuatnya. Disaat itu sayup-sayup terdengar oleh kami suara seorang perempuan yang berteriak “Mariau..”
Mariau ialah tumbuhan sejenis bambu namun ukurannya lebih kecil. Benar saja, beberapa saat kemudian lalulah seorang perempuan setengah baya dengan pakain sederhana menjunjung beberapa batang mariau yang masih kecil di atas kepalanya. Beberapa saat kemudian baru kami sadar kalau batang mariau sebesar itu biasa dijadikan sebagai tiang bendera oleh orang. Beberapa harikan tujuh belas agustus.


Terkejut bercampur sedih kami melihat perempuan tua tersebut, kami yakin beliau berasal dari kampung. Pastilah perempuan tua tersebut sedang berada dalam keadaan keuangan yang sangat susah sekali. Sehingga memaksa dirinya untuk berjalan-jalan di Kota Bukit Tinggi ini menjual batang mariau yang entah berapa dihargai oleh orang.

Sekitar pukul sebelas lewat kembali kami dapat perempuan tua tersebut berjalan-jalan di sekitar kantor kami. Batang mariaunya tampak tak berkurang, dan si perempuan tua berjalan tegak tanpa ekspresi. Menahan sedihkah ia? Atau mencoba untuk bersabar menghadapi kerasnya tantangan hidup masa kini.

Dimanakah kampungnya? Tak bersuamikah ia? Tak beranakkah ia? Kalau ada beranak, sudah sebesar apakah anaknya?

Melihat si perempuan tua serasa membawa kami ke masa silam. Pakaian yang dikenakannya sangat khas pakaian perempuan zaman dahulu dengan baju kurung, hanya saja ia pakai celana dasar. Mungkin agar lebih leluasa berjalan dan naik kendaraan. Di atas kepalanya ada kain batik lusuh yang biasa dijadikan kodek[2] dan dipasangkan dengan baju kurung, kain itu digelung yang dijadikan sebagai alas untuk menjunjung batang-batang mariau tersebut.

Semoga Allah Ta’a memberikan ketabahan, kesabaran, rezki yang murah, dan kelapangan bagi perempuan tua penjual mariau beserta keluarganya. Amin..


_____________________________
Catatan Kaki:
[1] Motor
[2] Kain sarung untuk perempuan

Komentar