Masih terkenangkah engku, rangkayo, serta encik sekalian perihal sepasang kera nan buruk laku yang kami kisahkan pada beberapa tulisan nan silam? Sungguh malang kehidupan suami isteri tersebut, disaat kandungan si isteri sudah semakin besar, tinggal menghitung hari saja lagi, masalah kembali menimpa mereka.
Si kera jantan dahulunya ialah kepunyaan paktuo dari si suami, paktuonya ini merupakan suami dari maktuo dari si suami, adapun dengan maktuonya ini ialah kakak sepupu dari ayah si suami. Demikianlah agar engku, rangkayo, serta encik sekalian jangan bingung. Semasa kanak-kanak lagi diberikannya kepada keluarga mertua si suami, sudah diprotes oleh kedua anak perempuannya “Memelihara kera tak baik ayah, sumbang dipandang adat dan terpantang di mata syari’at kita..”
Si ayah karena kasih sangat kepada si kera selepas kematian induknya, lebih memilih memberikan kepada sepasang suami isteri yang anak perempuannya sangat suka sekali apabila bersua dengan kera miliknya. Demikianlah sejarah si kera jantan, sekarang induk semangnya nan lama telah lama meninggal.
Kabar perihal petaka sepasang kera na busuk hati ini sampai jualah kepada Maktuo si suami. Sayang kisah yang didapat tak lengkap sehingga yang sampai kepadanya ialah perihal ibu si suami yang telah menyakiti mantan kera almarhum suaminya. Apalagi setelah ditengoknya keadaan sepasang kera durjana ini, kasihan dan terbitlah marah hatinya.
Sepasang kera durjana ini memang layak manusia lakunya, pandai ia berpura-pura, mengaduh-ngaduh, dan berlakon membuat keadaan dirinya semakin parah. Duh engku, kalau sampai bersua kera serupa ini segera saja engku bunuh.
Dicarinya bunda si suami, ditanyanya “Kenapa sampai demikian engkau? Tiada berhatikah?!”
Alangkah terkejutnya si bunda, tiada kabar ataupun berita, begitu bersua langsung ia dituduh dengan tuduhan sepihak. Memang benar kejam tukang fitnah, tak salahlah kalau nabi kita dahulu memberi pengajaran “Fitnah itul lebih kejam dari pada membunuh..”
Diterangkanlah oleh bunda si suami perihal duduk perkara sebenarnya, kembalilah dikaji dari alif sampai ya, kembali dikenang kejadian menyakitkan dahulu. Padahal si bunda sudah hendak melupakannya, walau setiap melihat anak lelakinya selalu terkenang ia akan sepasang kera, ayah mertua beserta adik ipar anaknya yang begitu benci akan dirinya disebabkan sepasang kera durjana ini. Alangkah sedih hatinya, alangkah payah anak lelakinya bersikap di rumah isterinya, alangkah menderita menantu yang teramat disayang dan dirindukannya. Apalagi mengingat akan calon cucu yang hendak lahir, terhambat langkahnya ke rumah menantu disebabkan sepasang kera ini.
Adapun dengan si suami teramatlah geramnya, hendak dibawa isterinya keluar ia kasihan dengan mertuanya, mereka teramat sayang kepada anaknya, terutama mertua lelaki. Apalagi anak yang sedang dikandung isterinya merupakan cucu pertama, tidak hanya bagi mertua namun juga kedua orang tuanya.
Hendak dilecuti ataupun ditubo[1]nya sepasang kera tersebut, ia tak sampai hati kepada mertua dan adik iparnya. Aplagi isterinya masih menyimpan rasa sayang kepada sepasang kera durjana ini. Menurut engku, rangkayo, serta encik sekalian apa semestinya yang dilakukan si suami? Sudilah kiranya memberi tahu..
*http://kartun.inilah.com/read/animasi/2009041407461034/kera-merokok
**http://benkelakhlak.blogspot.com.tr/2013/11/hikmah-dan-pelajaran-dari-rasa-dengki.html
[1] diracun


Komentar
Posting Komentar