Terlawan Beruk di Rimba

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet
St. Malenggang dijemput oleh polisi tadi pagi, kabar tersebut menjadi berita paling hangat di kampung kami. Mengalihkan pergunjingan perihal Yang Mulia Tuan Besar yang beberapa pekan nan silam mengunjungi propinsi kami.

Dia dijemput polisi karena dilaporkan oleh Kaum St. Andomo Jaya. [1] Kemarin petang St. Malenggang memberi "pembagian"[2] kepada gaek nan suka mencari masalah itu. Telah habis kesabarannya, namun malang bagi St. Malenggang karena tertantang olehnya harimau jalang.
Betapakan tak jalang, St. Andomo Jaya ini ialah jenis orang nan busuk hati, suka mempergunjingkan orang padahal awak lelaki. Dia juga suka melonte kepada orang-orang nan dianggap besar, pejabat,ataupun berpengaruh. Membualkan betapa dekat ia dengan orang besar tersebut, tanda ke orang kampung ia punya bekingan kuat. Cis..cis..


Adapun isterinya, sebelas dua belas perangainya dengan suaminya. Kata orang "Maklumkan sajalah, perangai orang tak beranak.." Astagfirullah, kami takut terkhilaf karena diantara keluarga besar kami ada nan tak beranak pula.

Demikianlah perasaian St. Malenggang, ia memang pegawai pula namun hanyalah orang suruhan. Jadi tak berkuku ia, keluarganyapun orang kampung biasa pula, tak ada tempat mengadu mereka.

Engku - engku tentulah bertanya "Sepanjang itu cerita engku, namun kami belum diberitahu sebab musababnya lagi.."

Maaf engku, terlupa kami. Masalahnya ialah sempadan[3] tanah. Memang di kampung kami telah lazim sempadan tanah selalu menjadi sebab musabab pertikaian. Hal ini karena akal sebagian nan punya tanah agak kurang jadi mereka suka mengalihkan sempadan tanah. Contohnya saja tanah keluarga kami telah acap dialih orang. Dahulu semasa kami kanak-kanak, bunda kami acap kena carani masalah tanah ini. Didakwa bunda mereka nan suka mengalih sempadan tanah dengan kami. Marah mereka, kesal mereka, tak malu mereka menghadapi perempuan nan saudara lelakinya tak ada nan di rumah, di rantau orang.

Jadi petang hari kemarin St. Malenggang telah terkena puncak kada[4]nya, Si Andomo Jaya beberapa pekan sebelumnya bersama kamanakannya pergi ke perak[5] nan bersimpadan dengan perak keluarga St. Malenggang. Di tebangnya batang mengkudu nan menjadi tanda (patokan) batas tanah mereka dan ditanaminya tanah nan dimbil. Katanya nan menjadi tanda sempadan tanah mereka ialah batang limau. Padahal batang limau nan dimaksud baru berumur tiga tahun. Masih kecil dan belum nikmat buahnya.

Di turut oleh mamak St. Malenggang ia marah, merasa tinggi hati ia karena ia pensiunan guru kepala. Pada hal ia guru kepala paling pandir di kampung kami sebab kata orang ia tak pandai mengajar. Hendak ia mengasuh anak guru sedangkan guru tersebut disuruhnya mengajar masuk kelas. Ada-ada saja, padahal kata orang ia guru agana. Meleset, kata orang kampung kami.

Isterinyapun demikian pula, setali tiga uang perangainya. Berjodoh mereka itu, sama-sama ular gedang.

Akhirnya sampai jua ke St. Malenggang, habis kesabarannya diberinya mamak dan kamanakan pembagian nan adil. Kejadiannya petang sebelum magrib. Karena merasa kenal banyak pejabat sebab sumando dan pambayannya[6] orang berpangkat maka dilaporinyalah ke polisi.

Kami hanya dapat termenung saja sebab tiada dapat menolong St. Malenggang "Siapapulalah awak ini". Lagi pula dari sudut pandang hukum St. Malenggang bersalah karena telah melakukan pemukulan. Adapun dengan Si Andomo Jaya tiada bersalah karena ia nan dipukul.

Demikianlah keadaan negeri kami, kian hari kian cemas kami keluar rumah. Terutama bagi kami-kami ini nan orang kampung nan tiada berkuku. Cemas tanah kami akan diambil, cemas anak bini akan digaduh orang, cemas rumah akan dimasuki maling, cemas..cemas..dan cemas.

Semoga orang-orang serupa St. Andomo Jaya ini dihapuskan dari muka bumi. Amin..
___________________________
Catatan Kaki:

[1] Berlainan orangnya dengan kawan kami St. Palindih
[2] Kiasan untuk bogem mentah
[3] Batas
[4] Telah habis batas kesabaran
[5] Kebun
[6] Sumando suami saudara perempuan. Pambayan ialah suami saudara perempuan isteri

Komentar