![]() |
| Picture: Here |
Pada hari ketiga hari raya kami amat-amati beberapa orang karib-kerabat dengan bangganya meupload foto-foto mereka di tempat pelancongan, terutama tempat-tempat pelancongan yang ada di Kota Bukit Tinggi dan sekitarnya. Sempit terbesit rasa iri karena kami tiada dapat demikian dengan keluarga kami, kami mesti bekerja, isteri ada di Padang, adik perempuan kami sudah mulai pula membuka kedainya, dan lain sebagainya.
Namun perasaan iri itu dengan cepat berganti dengan perasaan iba, kasihan, dan sedih. Sungguh kami tiada habis fikir, ada apa dengan diri orang sekarang? Kalau kami di posisi mereka, maka pastilah kami akan malu. Di hari raya ini mereka habiskan untuk melancong bukannya bersilaturahmi. Apalagi cuti hari raya tahun ini singkat, payah mengatur waktu antara bersilaturahmi dengan karib, kerabat, dan keluarga dengan acara pertemuan ataupun halal-bihalal dengan orang kampung serta perantau.
Apa bedanya cuti hari raya dengan cuti bersama lainnya?
Kata mamak kami telah terjadi pergesaran nilai pada masyarakat kami. Ya.. masyarakat kami semakin matrealis. Harta dan tahta menjadi standar nilai pada zaman sekarang.
Masyarakat kami sedang sakit, namun tak banyak yang tahu dan menyadari. Sebagian orang meanggap hal ini sebagai suatu kelaziman. Tak ada yang menyadari, yang hendak berobah, dan mengakui. Kalau tiada cepat ditanggulangi maka akan semakin parah dan semakin lama perasaan kekeluargaan ini akan hilang musnah tanpa bekas.
Disaat masyarakat Barat mencari jati diri mereka ke kearifan Timur, kita di Timur ramai-ramai meninggalkan harta karun kita dan menconth Barat yang gersang..

Komentar
Posting Komentar