Museum Nasional, telah lama didengar namanya namun belum pernah tersilau oleh St. Rajo Basa. Satu hal nan mengingatkan dirinya perihal museum ini yakni keberadaan Patung Bhairawa yang ditemukan oleh orang Belanda di Padang Roco. Pernah singgah agak beberapa lama di Strom Park atau Dieren Park atau sekarang bernama Kebun Binatang Kinantan di Bukit Tinggi sebelum akhirnya berlabuh di Museum Nasional ini.
Amogapacha sendiri merupakan patung Adityawarman dalam pentasbihannya sebagai Bhairawa.
Museum Nasional dikenal juga dengan Museum Gajah, entah kenapa sebabnya. Namun nan jelas di hadapan bangunan museum ini terdapat sebuah patung gajah yang konon kabarnya diberikan oleh Raja Siam ketika berkunjung ke Hindia Belanda pada masa kolonial dahulu.
Museum ini cukup luas, terdiri atas beberapa tingkat. Pada lantai satu terdapat beraneka jenis koleksi berupa patung atau arca peninggalan masa Hindu-Budha dahulu di negeri ini. Yang didapat dari seluruh republik (Boleh dikata sebagian besar patung di dapat di daerah Jawa).
Selain patung-patung peninggalan masa Hindu-Budha disini juga terdapat beberapa benda koleksi yang berasal dari seluruh republik. St. Rajo Basa sangat bersyukur dapat datang ke museum ini karena di museum inilah ia untuk pertama kali melihat serupa apa itu senjata yang bernama Si Tengga.
Senjata ini sangat melegenda, disebut-sebut pada beberapa buah cerita rakyat di negerinya. Konon kabarnya senjata ini dibawa oleh Penjajah Portugis ke negerinya pada masa dahulu. Oleh Portugis senjata ini dijadikan sebagai alat tukar-menukar dengan rakyat pribumi.
Berbentuk seperti serupa sebuah bedil namun dalam ukuran yang jauh lebih besar, mungkin sekitar lima kali lebih besar ada. Ketika ia sampai kepada tempat benda ini dipajang, suasana sedang lengang. Terbesit di benaknya kalau seandainya ia tak tahu atau mendengar cerita atau membaca sejarah perihal negerinya tentulah ia takkan berminat kepada jenis senjata yang satu ini.
Kemudian ada juga Kalewang, sebuah senjata yang hanya pernah di dengar namanya tanpa ia ketahui wujudnya. Jenis senjata ini dipakai oleh para pejuang di kampung halamannya dalam pemberontakan mereka kepada Belanda pada tahun 1908, lebih dari seabad nan silam.
Rupanya senjata ini lebih menyerupai lading mendekati wujud pedang "Campuran antara lading dengan pedang mungkin.." seru kawannya.
Koleksi lain nan menarik minatnya ialah ganto atau lonceng yang biasa tergantung di leher kerbau atau jawi (sapi). Lonceng ini tidak terbuat dari logam melainkan dari kayu. Sungguh semakin takjub saja ia, bagaimana produk teknologi nenek moyangnya pada zaman dahulu sudah banyak nan hilang.
Foto Bersama







Komentar
Posting Komentar