Ibu Negeri Periangan memiliki sebuah masjid raya yang menjadi salah satu tempat pelancongan di bandar ini. Konon kabarnya dari menara masjid tersebut dapat kita pandangi dengan jelas pemandangan ke seluruh bandar ini, demikianlah karena tinggina menara tersebut. Ada nan menjadi salah satu daya tarik nan memancing rasa ingin tahu para pengunjung nan datang yakni perihal rumput nan terdapat di halaman masjid. Konon kabarnya rumput tersebut ialah rumput buatan[1] nan dibeli dari luar negeri, dan untuk dapat bermain di atas rumput tersebut atau sekadar menginjaknya maka para pengunjung diharuskan untuk melepaskan alas kaki mereka.
"Sungguh peraturan nan aneh.." ucap St. Rajo Basa dalam hatinya "Pemain sepak bola saja boleh memakai sepatu mereka tatkala bermain pada lapangan nan ada rumput buatannya..". Lapangan di hadapan masjid raya ini dikenal juga dengan gelar "Alun-alun" atau "Tanah Lapang" dalam bahasa kampungnya.
Menarik perhatiannya tatkala mendapati bahwa di bawah lapangan ini terdapat lapangan parkir, pedagang kaki lima, dan kamar kecil umum. Sungguh takjub ia "Serupa ini nan seharusnya dibuat oleh orang di bandar London van Andalas[2].." ucapnya dalam hati "Tak ada masalah dengan parkir, tak ada pula masalah dengan pedagang kaki lima.."
Tak jauh dari Tanah Lapang terdapat Gedung Asia - Afrika nan terkenal itu, gedung tempat dilaksanakannya konfrensi Asia - Afrika nan pertama. Di kawasan ini terdapat banyak bangunan-bangunan lama, masih terpelihara dengan baik hingga kini. Kawasan ini diatur dan ditata dengan baik oleh Pemerintah Bandar, ada tugu, air mancur, dan lain sebagainya. Kebetulan pula tatkala ia dan kawan-kawannya datang sedang ada pameran mengenang Konfrensi Asia Afrika tersebut.
Cukup lama St. Rajo Basa dan kawan-kawannya duduk-duduk di hadapan Gedung Asia Afrika tersebut, menikmati suasana, melihat-lihat orang lalu, dan ada satu nan tak dapat dilupakan oleh St. Rajo Basa yakni perihal keberadaan Naruto & Kawan-kawan. Terkenang ia dengan sekelompok badut nan sangat meresahkan di Bandar London van Andalas, dahulu, sekarang mereka telah terusir karena membuat gauh dengan sekelompok juru berita dari salah satu kota di pulau ini. Bedanya dengan badut-badut tersebut, orang-orang nan berpakaian atau bersolek layaknya Tokoh Khayalan dalam filem anak-anak tersebut tak mematok harga kepada orang-orang nan mengambil gambar dengan mereka. Mereka memiliki kotak khusus, tertutup, dan setiap orang nan mengambil gambar dengan mereka dipersilahkan memasukkan uang ke dalam kota tersebut. Hal ini justeru lebih bagus karena orang akan berat memberikan uang kecil, lain kalau sudah dipatok, pasti akan ditawar.
"Kalau hal serupa ini berlaku di bandar kami tentulah lebih baik.." sesal St. Rajo Basa dalam hati. Mereka masih muda, mungkin masih berkuliah, ramah, dan bahkan mengajak beberapa anaka SMA bersenda gurau. Siapa nan datang boleh mengambil gambar bersama, sekadar melihat mereka saja tak apa-apa "Tokoh komik keluar dari komik.." atau sekadar mengambil gambar mereka.
Selain Naruto dan kawan-kawan, ia juga mendapati dua orang anak bujang sedang mengamen, bernyanyi riang mencoba menghibur orang nan datang. Tak diberi uangpun tak mengapa "Terimakasih.." ucap mereka.
Demikianlah, hari telah beranjak semakin petang menjelang magrib. St. Rajo Basa dan kawan-kawan memutuskan untuk berangkat dari kawasan ini. Entah bila mereka akan datang kembali, entah bila..
___________________
Catatan Kaki:
[1] Lebih dikenal dengan nama "Rumput Sintetis"
[2] Nama lain dari bandar tempat St. Rajo berasal.
TAMBAHAN GAMBAR















Komentar
Posting Komentar