Sutan Malenggang telah dinanti oleh adik perempuannya tatkala ia pulang dari kantor. Dia merasa heran dengan adik bungsunya ini karena tak biasanya menanti dirinya tatkala pulang kantor. Selepas ia selesai bersalin dan keluar dari bilik maka menghadaplah adik perempuannya kepada dirinya “Tuan, petang hari ini selepas Asyar makdang[1] pulang..”
Sutan Malenggang hanya tersenyum “Oh..” hanya itu nan keluar dari mulutnya. Sebab bukan perkara aneh apabila seorang lelaki pulang menyilau saudara perempuan beserta kamanakannya. Justeru nan aneh dan tak patut untuk ditiru ialah seorang lelaki nan jarang pulang menyilau saudara perempuan dan kamanakannya. Lebih banyak di rumah anak, bermain dengan anak, isteri, ataupun cucu sehingga terlupakan kewajiban nan lain yakni kepada saudara perempuan dan kamanakan.
Melihat tanggapan biasa saja dari abangnya, adik St. Malenggangpun meneruskan “Dt. Maleyo datang menemui makdang bersama seorang abangnya, dia geram karena gurauan tuan dalam mengarang kisah di lepau Engku Sidi beberapa hari nan silam..” diamatinya abangnya “Tak usah tuan risaukan, hamba tanya kepada makdang perihal adakah tuan menyebut nama..” lanjutnya dengan ceria “Dijawab beliau tiada..”
“Hehe, tersinggung ia agaknya dengan gurauan tuan dalam mengarang kisah jenaka itu. Tak mengapa, kalau ia tersinggung berarti secara tak sengaja ia telah mengakui bahwa dirinya serupa dengan kisah nan tuan karang itu..” jawab St. Malenggang sambil tersenyum pula.
Beberapa hari nan silam St. Malenggang duduk-duduk di lepau Engku Sidi bermain balak[2] bersama kawan-kawannya pada petang hari selepas kerja. Ada beberapa orang kelompok nan bermain balak, setidaknya ada dua. Nan lain duduk-duduk saja menonton sambil memesan kopi setengah kepada empunya lepau. Sambil bermain biasanya mereka saring melempar gurauan kepada kawan-kawannya. Terkadang gurauan jenaka, ada kalanya gurauan menyindir, dan bahkan ada nan sampai menohok. Nan kena akan merah padam mukanya, entah menahan marah, entah menahan malu.
Pada petang hari menjelang magrib itulah St. Malenggang mendapat ilham untuk membuat sebuah kisah jenaka. Kisahnya menceritakan seorang datuk gedang serawa[3] nan berada di bawah karampang[4] padusi.[5] Gelak-gelak orang mendengarnya karena sangatlah jenaka kisahnya. Kisah itu menitipkan pesan bahwa memang kekuatan lelaki Minang – terutama penghulu - itu berada di tangan perempuan, namun bukan berarti para lelaki Minang itu – termasuk penghulu – berada di bawah telapak tangan perempuan. Seorang perempuan nan bijak, pandai ia menjaga marwah saudara lelakinya. Dihargai, dijunjung tinggi, dan dielukan dalam pergaulan. Segala katanya di dengar, kalau silap diberi tahu silapnya dimana, kalau benar maka segera kerjakan, segala sesuatu mesti dimintakan pertimbangan daripadanya terlebih dahulu. Bukan disuruh, diperintah, atau singkat kata dikendalikan oleh saudara perempuannya lelaki itu. Apalagi ia seorang penghulu. Saudaranya sendiri tak pandai menghargai saudaranya nan seorang datuk, manakan dapat orang kampung menghargainya..?
Kisah nan dikarang-karang oleh St. Malenggang itu sungguh jenaka sehingga sekalian orang di dalam lepau pecah berderai gelak tawa mereka. Ya, semuanya, kecuali satu orang yakni datuk nan mengadukan perkara ini kepada makdang St. Malenggang.
Demikianlah, tak menyangka ia akan langsung terasa oleh Dt. Maleyo. Memang tujuannya agar menjadi pengajaran bagi sekalian nan mendengar agar tegak hendaknya marwah pada penghulu di dalam nagari. Dalam hati ia berdo’a semoga datuk nan seorang ini segera dibukakan pintu hatinya oleh Allah Ta’ala, tersadar ia hendaknya dan keluar dari kerampang saudara perempuannya.
____________________________________
Catatan Kaki:
* http://read-oknews.blogspot.co.id/2009/11/bertahan-dalam-kesulitan-hidup.html
[1] Saudara lelaki tertua ibu
[2] Domino
[3] Celana
[4] Selangkang
[5] Perempuan

Komentar
Posting Komentar