Hendak mencapai gunung, ngarai nan tersua

Picture: Here
Hujan turun semenjak tengah hari tadi, perlahan-lahan lebatlah ia hingga telah lepas pula waktu Ashar. Memanglah di penghujung tahun serupa saat ini merupakan musim penghujan, tiada dapat diterka datangnya. Terkadang pagi atau tengah hari namun dapat juga petang hari atau justeru malam hari, sesekali ada pula nan turun sepanjang hari tiada henti. Terkadang lebat, terkadang rinai saja, ada jua datang sekejap namun ada pula nan datang lama serupa saat ini.

Pabila hujan turun, sekalian orang dihalaunya dari jalan, lari lintang pungkang menyelamatkan diri agar tak kuyup kena hujan. Ada jua nan menantang datangnya hujan, basah kuyup berhujan-hujan, biasanya orang nan naik onda[1] atau kanak-kanak nan sedang gemar bermain hujan. Sekalian orang dan binatang pergi mencari tempat untuk berteduh, takut kena hujan, takut dingin dan takut sakit serta takut pakaian nan mereka pakai basah, kalau masah mesti disasah[2] padahal baru saja dipakai.

Demikianlah pada hari ini, hujan turun melanda, bunyi air hujan pecah di atap memekakkan telinga belum lagi bunyi berderainya nan pecah di tanah, di tembok, di aspal, di dahan, ataupun di tabek[3] di hadapan rumahnya.


Siapa nan dapat menyangka kalau semenjak pagi matahari bersinar dengan langit birunya, panas berdengkang hingga menjelang tengah hari. Namun begitu usai menunaikan Shalat Zuhur turunlah hujan. Barang siapa nan berpanas-panas tadi dan sekarang kena hujan, pastilah demam ia. Beruntung Rukamah semenjak tadi berdiam di rumah, banyak pekerjaan ibunya nan mesti ditolongnya. Biasanya ia telah pergi bertandang ke rumah kawan atau ke lepau tempat abangnya berjualan.

Siti Rukamah termenung menatap ke luar jendela, jalanan lengang hampir tak seorangpun manusia nan didapatinya. Pergantian hari dari panas berdengkang hingga hujan lebat serupa ini membangkitkan kenangannya nan lama. Betapa cepat perubahan itu berlaku, dari behagia menjadi sedih tak terkira. Demikianlah apabila Allah Ta’ala berkehendak, sekalian jadi ia.

“Tak elok bermenung serupa itu Amah..”  tegur ibunya “Tak adakah nan lain dapat engkau kerjakan..?” tanya ibunya.

“Ah, tak bermenung bunda. Baru Amah sadari kalau kampung kita ini lengang jua..” kilahnya.

Ibunya menengok ke luar jendela ke arah nan dipandangi anaknya dan kemudian berlalu tanpa menjawab perkataan anaknya. Diapun tak tahu hendak berkata dengan anaknya nan satu ini, takut terlompat perkataan nan selama ini dijaganya. Sedih anaknya, iapun lebih lagi sedih. Orang tua mana nan takkan sedih apabila melihat anak nan serupa Siti Rukamah ini.

Siti Rukamah seorang janda, janda tak beranak. Belum genap setahun ia berkawin sudah bercerai dengan suaminya. Ia nan minta cerai karena sudah tak sanggup lagi menghadapi suaminya itu. Selain berbuat curang dengan perempuan lain, suaminya juga tak memperlakukan ia dengan layak namun menuntut banyak dari dirinya. Perempuan mana nan tahan dikurung sepanjang hari dalam rumah seorang diri. Syukur-syukur kalau ada tipi untuk ditonton pengusir jemu, ini tidak. Bisa gila ia pada akhirnya.

Perkawinan mereka ialah perjodohan, namun walaupun demikian ia telah mengenal calon suaminya, mereka satu sekolah di es-em-pe dahulunya. Namun selepas itu mereka tiada lagi bersua. Telah payah ia mencari jodoh, telah payah orang tua dan mamaknya memikirkan siapakah kiranya bakal menantu mereka namun tiada bersua. Adapun dengan umur Siti Rukamah telah bertambah jua, telah lebih dari tiga puluh. Sangatlah berbahaya bagi perempuan berumur setua itu untuk beranak nantinya, bisa-bisa nyawa taruhannya. Demikianlah pendapat orang kampungnya.

Maka tatkala terdengar minat dari orang tua suaminya untuk menjadikan ia menantu maka segeralah dicari tahu kebenarannya. Setelah kebenaran didapat, maka segeralah dihitung bila akan diturut[4]. Berselang bulan kemudian mereka menikahlah.

Suaminya bekerja di bandar lain di luar kampung mereka, bersua hanya sekali sebulan. Suaminya tak hendak membawa isterinya pindah karena belum memiliki rumah, rumah nan sekarang letaknya di luar bandar. Demikianlah alasannya, takut ia isterinya akan kepayahan.
Namun enam bulan usia pernikahan mereka terpaksalah dibawa juga isterinya itu, setelah mendapat marah dari keluarganya, malu mereka menantu mereka ditinggal berbulan-bulan serupa itu. Orang kampung bertanya jua “Apa hal dengan pernikahan mereka..?”

Setelah berkumpul bersama-sama dengan suaminya, hanya sekejap manis itu terasa. Memanglah suaminya ini manis mulut, orang sekampung berhasil ditipunya. Pulang jarang, marah sering didapat, tuntutan banyak kepada diri Sti Rukamah, dan uang belanja acap kurang diberikan. Padahal ia pegawai sebuah perusahaan besar di bandar itu. Memberi uang belanja kepada isteri ia mengaku tak punya namun hapenya acap berganti-ganti.

Akhirnya petaka itu datang jua, Siti Rukamah mendapat gambar suaminya dengan seorang perempuan berdua dengan sangat mesranya. Maka tumpahlah segala nan selama ini dapat ditahannya. Suaminya mengelak kalau gambar itu gambar lama, namun setelah diselidiki nyatalah kalau gambar itu baru diambil. Itupun masih mengelak pula “Perempuan itu sakit, jangan engkau percayai..!!” belanya kepada isterinya.

Siti Rukamah tentulah tak percaya, dia faham kalau orang nan manis mulut ini lihai dalam berdusta. Akhirnya dikurunglah ia dalam rumah oleh suaminya, sungguh durjana lelaki itu. Keluarganya mengetahui dan segeralah hendak dijemput namun ditahan oleh keluarga suaminya nan juga telah diberi tahu “Biar kami nan membawa pulang..” ujar abang suaminya.

Walau seluruh keluarga suaminya mencaci adik mereka, namun ibunda sang suami tampaknya mempertahankan anaknya. Sungguh sangat tak dapat difahami dengan akal kasih sayang seorang ibu “Sesalah-salah anak awak, mesti dipertahankan..” maafpun tak terucap dari mulut ibu mertuanya ini.

Beberapa bulan kemudian diketuklah palu oleh hakim, mereka resmi bercerai.

Kini Siti Rukamah termenung sendirian, kawan-kawannya telah banyak nan bahagia dengan suami dan anak mereka. Bahkan ada nan sampai lebih dari satu memiliki anak, sedangkan ia belum. Bercerai dan tak memiliki anak.

Siapa nan hendak disalahkan, tiada. Keluarga nan dicintainya telah berdaya upaya untuk mencarikan dirinya pendamping hidup, adapun dengan dirinya tiada pandai mencari. Kalaulah ada calon nan tampak olehnya ketika itu, pastilah tak hendak ia dijodohkan. Dan keluarganyapun takkan menghalangi keinginannya untuk menikah dengan nan terkasih.

Begitu berat ujian nan datang, tak habis ia berfikir bila akan usai penantiannya. Adapun dengan hidup menjanda ini lain-lain pula beratnya. Orang tentu akan berfikir untuk meminang dirinya, kalaupun ada dengan usia nan ada pada dirinya tentulah nan tak sesuai dengan kehendak hati  nan datang.

Hujan telah mulai teduh, orang-orang sudah mulai satu-satu berkeliaran di jalanan kampung. Ada nan berjalan, ada nan naik kareta[5] dan ada pula nan naik onda. Berkeinginan ia hendak keluar, pergi ke lepau abangnya hendak mencari angin dan bertukar suasana, setidaknya ia dapat bersua dengan kawan-kawan nan dapat membawa ia kepada gelak tawa. Melupakan perasaian hidup, mengalihkan ia dari energi negatif.

Namun Siti Rukamah tak arif pula, terkadang ia dalam berkawan-kawan sampai melampaui batas. Tak faham ia nan sumbang dalam pergaulan hidup berkampung. Terlalu menurutkan kata hati hingga lupa dengan siapa ia sendiri.
___________________________
Catatan Kaki:
[1] Motor
[2] Dicuci
[3] Kolam ikan
[4] Dilamar
[5] Sepeda

Komentar