Karl El atau Clark Kent

Picture: Here
Malam hari ke-23 di bulan akhir tahun ini bersinar terang, belum genap umurnya 14 masih 13. Sungguh malam nan indah, langit cerah, tiada hujan. Tak serupa malam-malam sebelumnya kalau tak berawan kalau tak hujan. Mungkin Allah hendak menunjukkan kecantikan malam pada hamba-hambanya nan hendak merenungi ciptaannya.

Namun segala keindahan tersebut tiada sampai ke hati St. Rajo Basa, sedang gundah gulana ia. Semenjak hari Ahad nan lalu ia tak bersua dengan anak bujangnya. Apalagi selepas magrib ia menonton filem barat Man of Steel judulnya. Filem Superman nan dibuat ulang.

Bertambah gundah hatinya, betapakan tidak. Filem tersebut mengisahkan betapa beratnya hati Jor El beserta isterinya Lara melepas anak tunggalnya. Takkan bersua lagi mereka karena mereka dua akan segera meninggal disebabkan planet mereka telah sampai usianya.
Tak dapat melihat anak tumbuh besar, belajar berjalan, mendengar suaranya, dan lain sebagainya. Hal tersebut membuat luluh hati St. Rajo Basa, teringat pula ia dengan anaknya nan seorang itu.

Nan paling membuat ia sedih ialah, Kal El atau Clark Kent tak memiliki ingatan apa-apa perihal kedua orang tua kandungnya. Maklumlah masih bayi ketika berpisah. Kal El lebih teringat dengan orang tua angkatnya, terutama ayah angkatnya nan sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadiannya.

Memang demikianlah, seorang anak akan tumbuh dewasa dengan ingatannya tentang orang-orang nan dicintai ketika ia tumbuh gedang. Dengan orang-orang nan tiada pernah ditemui, tentulah ia takkan ingat, takkan mengenang walaupun dekat dari segi nasab.
Terkenang pula oleh St. Rajo Basa kalau seorang anak apabila tumbuh gedang nanti, mereka akan jauh lebih dekat dengan ibunya dibandingkan ayahnya.

Demikianlah St. Rajo Basa nan cengeng, terlalu perasa dan terlalu menurutkan perasaan. Keindahan alam di malam itu tak sampai ke dalam hatinya. Sibuk dipermain-mainkan perasaan dirinya itu. Semoga saja tak tersapa ia dimalam nan cerah ini..

Komentar