Kisah di tengah macet

Picture: Here
Telah lama rasanya kami tak lagi mendengar pernyataan menggelikan dari kawan kami Saidi Palindih. Pagi ini sepulang dari bank guna mengurus sesuatu keperluan kantor, taragak (rindu, kangen) kami terobati.
Kami melalui jalan nan macet, hari ini ialah hari rabu menjelang akhir bulan Desember, hari menerima rapor bagi murid-murid sekolah. Di bandar kami, para orang tualah nan kena panggil untuk menerima rapor anak-anaknya. Sebagian besar sekolah-sekolah di bandar kami berada di tepi jalan besar, tempat kendaraan ramai berlalu-lalang.

Salah satu sekolah menengah bawah berada di jalur nan hendak kami lalui. Maka masuklah kami ke dalam barisan kendaraan, ketika akan berangkat tadi dan sekarang ketika hendak kembali ke kantor. Sebab musabab dari ini semua ialah karena ketiadaan tempat parkir maka kendaraan para orang tua murid diparkirkan di tepi jalan di dekat sekolah. Jalanan di bandar kami tiada nan dua jalur, kecuali di bypass, akibatnya jalan nan telah sempit itu bertambah sempit dan ditambah lagi dengan angkot nan gemar berhenti sesukanya.


Entah kesal, entah geram tiba-tiba Saidi Palindih berucap "Beginilah anak-anak sekarang, mana berkat pendidikan nan mereka lalui kalau begini.."

Kami hanya tersenyum saja, sebab tiada mengerti dengan pernyataan kawan kami ini. Kemudian ia melanjutkan "Semenjak dari bersekolah mereka ini sudah makan sumpah, demikian pula orang tua mereka.."

Kami hanya tersenyum saja, ada-ada saja kawan kami ini, cara berfikirnya sungguh unik. Acap ia mengemukakan suatu pendapat ataupun pandangan dari arah nan tak dikira-kira. Membuat kami semakin takjub dengan dirinya.

Perjalanan masih tersendat, kendaraan di tepi sebelah kiri telah semakin kencang melajunya, maklumlah di hadapan ada simpang tiga, mungkin kendaraan nan berbelok arah ke kiri nan mempercepatnya. Saidi Palindihlah nan membawa oto, dia mengambil jalur kanan persis di tepi marka jalan.

Ketika oto  nan membawa kami hampir sampai di dekat sekolah nan menjadi sebab-musabab kemacetan - telah lewat dari simpang tiga nan kami maksudkan tadi - segera oto  nan kami tumpangi menjadi berada di luar marka jalan "Salah mengambil jalan awak ini rupanya.." keluh Saidi Palindih, padahal tadi telah kami minta untuk mengambil jalur sebelah kiri saja.

Kamipun heran, kenapa dapat sampai demikian. Tanpa berfikir segera saja terucap dari mulut kami "Terkadang jalan nan kita sangka telah benar rupanya dapat saja menjadi salah pada akhirnya. Demikianlah kehidupan ini engku.."

Saidi Palindih dengan bersemangat segera menyambut ucapan kami "Benar engku, ibaratkan awak di kantor, telah benar menurut awak, menurut induk semang masih juga salah.."

Kami tergelak, padahal bukan demikian maksud kami. Dapat saja kita silap dalam memandang suatu perkara atau suatu keadaan atau suatu kejadian. Cepat memberikan penilaian nan belum berdasarkan usul periksa terlebih dahulu, hanya mengandalkan pernyataan dari orang-orang saja. Dari sinilah fitnah itu terkadang berasal. Kata orang itu masalah sudut pandang atau kata orang moderen "perspektif".

Rupanya nan membuat keadaan demikian nan berlaku ialah karena masing-masing kendaraan saling berusaha untuk memotong antiran kendaraan lainnya, ditambah dengan angkutan umum dan berhenti sesukanya. Akibatnya kendaraan di jalur kiri menjadi terdesak oleh kendaraan dari jalur kanan.

"Demikianlah, orang awak tiada nan hendak bersabar. Ingin cepat saja dan ingin mudah saja. Tengoklah angkutan umum itu, dibuatkan halte tapi tetap saja berhenti sembarangan karena orang awak inginnya begitu turun dari oto langsung di hadapan rumah atau tempat tujuan mereka. Bagusnya memang angkutan jenis busway di negeri  kita ini, tiada dapat tidak mesti berhenti di halte nan telah disediakan.." ujar seseorang entah dari mana.

Komentar