Mencari Terompah & Sepatu

Kedai penjual cinderamata di ambil gambarnya dari arah dalam
Kedai penjual cinderamata di ambil gambarnya dari arah dalam
Selepas dari Tanah Lapang dan menengok-nengok gedung tempat Konfrensi Asia Afrika diselenggarakan serta telah pula bersua dengan Naruto dan kawan-kawannya. St. Rajo Basa dan kawan-kawanpun akhirnya memutuskan untuk mengakhiri kunjungan mereka di kawasan tersebut. Mereka memutuskan untuk kembali ke hotel tempat menginap. Menuju hotel mereka putuskan untuk lalu ke salah satu kawasan di bandar ini nan terkenal sebagai kawasan tempat penjualan sepatu, tas, baju, dan lain sebagainya dengan harga murah, tujuannya ialah agar mereka sekadar tahu  dengan kawasan tersebut. Ketika sampai di kawasan tersebut, salah seorang kawannya bertanya "Hendak lalu sajakah awak ini atau hendak singgah agak sebentar..?"


Kegaduhan agak sedikit mendera bus sewaan mereka, ada nan hendak singgah ada pula nan tak hendak. Namun diambil jalan tengah, singgah agak sebentar. St. Rajo Basa tahu, tak ada cerita sebentar kalau sudah turun, pastilah lama. St. Rajo Basa termasuk kepada nan hendak singgah, sebab ia terlupa membeli terompah ataupun sepatu untuk orang tua dan kedua adiknya.

Mereka dibawa singgah ke kawasan pertokoan nan terkenal sebagai pusatnya perbelanjaan. Sebenarnya di tepi jalan banyak kedai-kedai nan menjual barang-barang serupa namun tak selengkap disini "Kalau disini lengkap engku, barang-barang mereka diambil dari para pengrajin nan juga membuka kedai di tepi jalan itu. Rata-rata setiap kedai di tepi jalan memiliki pengrajin sendiri.." kisah engku sopir kepada St. Rajo Basa.

Tatkala baru turun,  mereka disambut oleh petugas kedai nan menempelkan kertas bernomor di baju mereka "Untuk diskon engku dan rangkayo sekalian.." ujar petugas tersebut. Mendapati hal nan demikian, ingatan St. Rajo Basa kembali ke masa setahun nan silam tatkala ia dan kawan-kawannya berjalan-jalan ke Bali. Tatkala sampai pada di pusat penjualan cinderamata ia juga mendapat kejadian nan serupa.

Benar saja, ternyata mereka lama disini. Tak hanya St. Rajo Basa rupanya nan hendak berbelanja untuk keluarga tercinta, St. Palindih kawannyapun demikian pula. Berdua mereka sibuk di tempat sepatu dan terompah khusus perempuan, para pelayan hanya memandang mereka dengan heran "Disangka bencong pulakah awak ini..?" ujar St. Palindih dalam hati.

Tak berapa lama kemudian St. Rajo Basa dan St. Palindih selesai. Berdua mereka memutuskan untuk duduk-duduk sambil merokok di halaman bagian belakang nan merupakan tempat parkir kendaraan. Mereka asyik bercakap-cakap saling menanyakan perihal apa saja nan mereka beli. Rupanya St. Palindih hanya membeli terompah dan sepatu untuk isteri, kakak perempuan dan ayahnya saja, sedangkan untuk mertua lelakinya, bundanya, serta abangnya tiada dibelikan. Tatkala ditanya oleh St. Rajo Basa, St. Palindih menjawab "Ayah mertua dan bunda tiada suka memakai apa nan awak beli engku..."

"Tandanya mereka sayang kepada engkau itu, disimpan baik-baik barang-barang pemberian engkau karena sayangnya akan engkau.." bujuk St. Rajo Basa kepada kawannya.
Termakan juga oleh St. Palindih bujukan kawannya, tak berapa lama kemudian ia kembali ke dalam. Namun tatkala mereka bersua kembali tatkala hendak menunaikan shalat magrib di lantai atas kedai tersebut St. Palindih tak membawa apa-apa "Biarkan sajalah, tak ada nan sesuai tampak di awak.."

"Lalu bagaimana dengan Si Pono abang engkau..?" tanya St. Rajo Basa

Dengan enteng St. Palindih menjawab "Di Pasa Ateh saja awak cari esok.."

Demikianlah, akhir dari perjalanan mereka hari ini, tatkala berangkat dari kedai tersebut hari sudah gelap, jalanan bertambah ramai, dan bus mereka berjalan lambat.

Komentar