
- Ilustrasi Gambar: Disini
Terkenang akan salah satu kisah Si Kancil: Pada suatu ketika, Si Kancil nan cerdik berjalan-jalan seorang diri di tengah rimba. Pada suatu tempat bersualah ia dengan Si Raja Hutan, rupanya ia sedang kelaparan. Mendapati Kancil nan seekor ini maka senanglah hatinya karena perutnya akan segera terpuaskan.
Si Kancil agaknya faham apa nan tengah berlaku, tampak olehnya kilat dimata Si Raja Singa. Gemetarlah dirinya, karena maut sedang di pelupuk mata. Disaat terdesak serupa itu, tiba-tiba terbitlah akal pada diri Si Kancil, didekatinya Raja Singa nan sedang mengeram bersiap menerkam dirinya.
“Hai Singa, apa yang engkau lakukan disini..!!” tegur Si Kancil pura-pura angkuh, padahal hatinya sudah menciut sampai ke lubang ekornya. Karena takut akan mati saja dikuat-kuatkannya hatinya itu.
“Bah, bertanya pula engkau! Bersiaplah, engkau akan segera masuk ke dalam perut daku ini..!!” bentak Si Raja Singa geram bukan kepalang. Belum pernah ada nan berlaku sedemikian kurang ajarnya pada dirinya. Setiap ia lalu di tengah rimba, sekalian hewan akan memberi hormat atau kalau tidak lari lintang-pungkang sambil menyelipkan ekor mereka di bawah selangkangnya.
Dengan angkuhnya Si Kancil menjawab “Tak salahkah daku mendengarnya ini?! Engkau tahukah siapa Kancil nan hendak engkau makan ini hai Singa?!”
Raja Singah terperangah, masih ada hewan nan berani melawannya. Dengan murkanya ia membalas “Dasar makhluk hina, engkau nan tak tahu siapa awak ini agaknya..!”
“Cis, engkau ialah Singa nan hina sedangkan daku ialah Si Raja Rimba..!” bentak Si Kancil.
Terperangahlah Raja Singa, selama ini ia menyangka kalau dialah Raja Rimba, rupanya ada raja nan lain. Dengan heran bercampur geram ditambahi dengan murka serta dicampur lagi dengan rasa ingin tahu ia membalas “Cis engkau Kancil. Akulah Si Raja Rimba, akulah nan terkuat, aku dapat memakan engkau sekarang. Sedangkan engkau memamah rumput dan dedaunan saja tak selesai hendak mengaku pula Raja Rimba. Coba buktikan!!”
“Baiklah awak buktikan, mari kita berjalan sampai bersua dengan salah seekor binatang penghuni Rimba ini. Tapi ada syaratnya, engkau mesti diam dan berdiri di belakang awak nanti..” jawab Si Kancil. Si Raja Singapun menyetujui sambil mendongkol, perutnya masih menagih-nagih minta diisi.
Maka berjalanlah kedua binatang ini di tengah-tengah rimba, Kancil di hadapan sedangkan si Raja Singa di belakang Kancil. Pada suatu tempat maka bersualah mereka dengan beberapa ekor binatang nan sedang mencari makan. Kedatangan mereka tiada diketahui, tatkala sudah dekat dan mereka dapat dilihat dengan jelas oleh sekalian binatang-binatang tersebut maka berhentilah mereka berjalan. Si Kancil tegak di hadapan dan Raja Singa di belakang si kancil tegaknya.
Tatkala binatang-binatang ini menoleh, tampaklah oleh mereka Kancil dan Raja Singa, mendapati hal nan demikian pucat pasilah muka binatang-binatang ini. Segera mereka memberi hormat dan kemudian lari lintang-pungkang menyelamatkan diri. Mendapati hal nan demikian Si Kancil tersenyum culas sedangkan Raja Singa heran se heran-herannya.
“Engkau tengok sendiri itu hai Singa, binatang-binatang itu memberi hormat kepada daku dan kemudian lari lintang pungkang sambil ekor mereka diselipkan di selangkang mereka..” bentang Kancil kepada Raja Singa.
Raja Singa pucat pasi, gemetarlah tubuhnya “Ampunkan hamba paduka, patik nan pandir ini sungguh tiada menyadari perihal keadaan diri paduka. Sudilah kiranya paduka memberi ampun atas kesalahan patik nan besar ini..” sembahnya kepada Kancil.
“Engkau telah daku maafkan, sekarang pergilah memangsa binatang lain nan lebih patut untuk mengisi perut engkau nan kelaparan itu..” titah Kancil kepada Raja Singa “Elok engkau mangsa buaya, serigala, musang, ular, beruang, dan binatang pemakan daging lainnya. Jangan binatang pemakan tumbuhan, kasihan kita..”
“Daulat Tuanku..” jawab Raja Singa takzim dan kemudian iapun ikut lari lintang pungkang menyelamatkan diri sambil ekornya di selipkan di bawah selangkangnya.
Lepas Raja Singa lari lintang pungkang maka pecahlah gelak tawa Si Kancil. Ia tak menyangka bahwa Raja Singa nan terkenal akan keganasannya itu dapat ditipu sedemikian mudahnya.
Kisah Si Kancil nan demikian sesungguhnya memberikan pemahaman kepada kita betapa kecerdikan akal dapat menyelamatkan seseorang dari ancama nan mengintai jiwanya. Orang-orang nan cerdik serupa Kancil ini dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Beragam jenisnya, jika orang serupa ini bersifat baik maka kecerdikan akal dan keterangan fikirannya akan digunakan untuk kebaikan. Serupa menolong dan lemah, menyelamatkan nan terancam, atau mendamaikan dua fihak nan sedang bersengketa.
Namun apabila sifat buruk nan lebih banyak mengendalikan dirinya maka kerusakanlah nan akan ditimbulkannya. Orang-orang jahanam serupa ini sangat banyak kita dapati dalam untaian sejarah. Bagaimana ia membisiki seorang raja untuk menjatuhi hukuman mati kepada orang nan dibencinya, bagaimana ia memisahkan sepasang suami-isteri nan saling mengasihi, bagaimana ia menghasut dua fihak nan hidup berdampingan dengan damai menjadi musuh bebuyutan yang saling menerkam. Dan lain sebagainya.
Demikianlah, telah banyak keluarga nan binasa, nyawa tak bersalah nan melayang, dan nama baik nan tercoreng akibat ulah orang nan serupa ini. Dan masih saja ada orang nan bersikap serupa Raja Singa, percaya begitu saja tanpa meneliti terlebih dahulu keterangan nan disampaikan kepadanya.
Komentar
Posting Komentar