Hari hujan tatkala ia sampai di luar gedung, para pedagang keliling telah ramai menanti para pengunjung nan hendak keluar, tegak-tegak mereka di di jenjang bercampur baur dengan para pengunjung nan berteduh menanti hujan teduh. Jalan di hadapan tetap ramai, sudah tak muat menampung kendaraan nan lalu. Tatkala hujan sudah mulai teduh, dicobanya berjalan-jalan, keadaan hampir sama dengan keadaan di Pasa Batingkek di bandarnya, kawasan pejalan kaki dipenuhi oleh pedagang kaki lima, para pejalan kaki menjadi kepayahan untuk berjalan dibuatnya.
Jalan di hadapan ini sudah satu arah, demikianlah kebanyakan jalan di bandar ini. Walaupun sudah satu arah, tetap saja ramai dan tak muat menampung jumlah kendaraan nan berlalu.
Demikianlah, setelah kawannya telah selesai berbelanja.
Dengan menumpang dua buah becak mereka pergi ke Masjid Raya Bandar. Ongkos sewa becak setelah ditawar akhirnya si engku berkenan dengan harga lima belas ribu satu becak.
Ini bukan pertama kalinya St. Rajo Basa naik becak, sekitar dua tahun nan silam ia juga pernah menaiki angkutan nan satu ini yakni di salah satu bandar tempat berkedudukan raja di pulau ini. Menjadi berkesan baginya karena angkutan becak tiada ada di negerinya, hanya ditengoknya di tipi saja. Ketika itu ia kena pakuak oleh tukang becak, salah dia juga tak menanyakan berapa harga sewa sebelum naik. Sekarang ia beranikan diri menawar harga.
Bagaimana rasanya naik becak?
Menurut St. Rajo Basa "Serasa naik gerobak saja engku.." jawabnya "Semasa kanak-kanak kami pernah nai gerobak nan didorong oleh datuk kami. Senang hati kami ketika itu. Apakah ketika gerobak kosong atau tatkala sedang ada padi di atasnya.." kisahnya.
Sungguh terlalu St. Rajo Basa, datuknya sedang membawa beban padi berkarung-karung, ditambahnya pula dengan berat badannya dan tak kepalang itu..

Komentar
Posting Komentar