Naik Kereta Api

Stasiun dari tingkat atas
Stasiun dari tingkat atas
Kereta api ialah angkutan nan langka di negeri mereka, kata St. Palindih “Karena persengkongkolan dengan saudagar oto makanya angkutan kereta api dihapuskan di negeri kita..” entah benar, entah tidak,  St. Palindih memang pandai dalam mengeluarkan teori.

Pernah ada seorang kawannya di kampung berkisah, tatkala ia mula-mula merantau ke Pulau Seberang, ia begitu berkeinginan hendak naik kereta api. Sudah dikata oleh kawannya “Lebih baik menumpang bus saja, lebih cepat. Naik kereta api itu lambatnya minta ampun, acap berhenti di stasiun, lain dengan bus, kita melaju di atas tol..” namun ia tak hendak peduli, tetap hendak naik kereta api. Karena kesal kawannya berujar “Dasar orang udik, tak pernah mengecap naik kereta api engkau ini rupanya..:”

Tugu Nasional dari Tingkat Atas Stasiun
Tugu Nasional dari Tingkat Atas Stasiun
Demikianlah, naik kereta api menuju Ibu negeri Periangan dari ibu kota republik dirancang jauh-jauh hari. Sebab sebagian besar dari mereka tiada pernah mencoba serupa apa rasanya naik kereta api.

Mereka naik gerbong kelas utama yang isinya ada sekitar lima puluh orang. Tiada didapatinya kursi nan berhadapan serupa nan ditengoknya di filem-filem. Nan ada ialah kursinya serupa susunan kursi di atas bus bedanya jarak antara kursi nan di hadapan dengan nan di belakang cukup lebar sehingga kakinya dapat dimanjakan semasa dalam perjalanan. Ada tipinya pula, dapat menonton mereka dan tentu saja berpendingin udara sebab kaca ditutup mati. Kamar kecil ada di hadapan mereka.

Seorang Gadis sedang menanti Kereta ditingkahi seorang kanak-kanak
Seorang Gadis sedang menanti Kereta ditingkahi seorang kanak-kanak
Demikianlah, pengalaman pertama bagi St. Rajo Basa dan kawan-kawan naik kereta api diesel berjalan antar kota. Naik kereta api listrik sudah beberapa kali ia, namun ini nan pertama kali naik kereta api diesel. Rasanya memang mengasyikkan, kalau dapat minta tambah ia, tapi tiada mungkin untuk saat ini.

Kereta melaju sangat lambat tatkala mereka mula berangkat, hendak berhenti di stasiun berikut nan tak seberapa jauh letaknya. Rel kereta dibuat orang beberapa meter di atas labuh besar ibu kota. Dari jauh tampak olehnya gedung-gedung bertingkat menjulang di lembah ibu kota “Panas bandar ini selalu kena banjir..” ucapnya dalam hati.

Petugas Kereta nan menjual makanan & minuman di atas kereta (Sedang melihat daftar pesanan)
Petugas Kereta nan menjual makanan & minuman di atas kereta (Sedang melihat daftar pesanan)
Sempat kereta melaju kencang namun tak berapa lama, kembali melambat. Orang-orang berhenti memberi jalan kepada kereta nan hendak lalu serupa ular besar nan mengeliat. Ketika berada di jalan nan agak tak lurus kereta kembali melambat, kalau kencang nanti gerbongnya akan keluar dari rel. dari atas kereta ini didapatinya pemandangan nan lain, bagian dari negeri nan tak pernah dapat ditengoknya.

Tak ada pedagang kaki lima di atas kereta, tak ada pengamen atau penjual pergedel jagung serupa nan ditemuinya di atas bus dari Bukit Tinggi menuju Padang. Nan ada ialah petugas kereta nan menawarkan makanan nan minuman kepada penumpang, dipesan dan baru kemudian diantarkan.

Denah Perjalanan Kereta
Denah Perjalanan Kereta
Tak perlu berhenti apabila hendak ke kamar kecil karen kamar kecil ada di dalam gerbong. Dicobanya masuk, rupanya klosetnya kloset jongkok tak seperti perkiraannya, kloset duduk. Ketika dia hendak buang air kecil, pas pula kereta berguncang hebat dan melalui jalan berbelok. Tersenyum saja ia “Untung tak keluar dan kena celana awak..” ujarnya dalam hati.

Tiga jam perjalanan dan telah habis pula satu buah filem nan suaranya tak begitu terdengar. Akhirnya mereka sampai di ibu negeri Periangan.
Jalan tol nan menghubungkan Bandar Republik dengan Ibu Negeri Periangan
Jalan tol nan menghubungkan Bandar Republik dengan Ibu Negeri Periangan
Jalan tol nan menghubungkan Bandar Republik dengan Ibu Negeri Periangan
Jalan tol nan menghubungkan Bandar Republik dengan Ibu Negeri Periangan

Komentar