Pakan Baru

Masjid Raya dari lantai paling atas Pakan Baru
Masjid Raya dari lantai paling atas Pakan Baru
Selepas dari Gunung Perahu Terbalik, St. Rajo Basa dan kawan-kawan memutuskan kembali ke bandar ibu negeri Periangan. Rencana mereka hendak pergi ke Pakan Baru. Pakan Baru ialah sebuah pekan atau pasar yang konon kabarnya tempat orang menjual barang-barang murah produksi Negeri Periangan. Banyak kawan-kawan mereka nan menyarankan untuk mengunjungi pakan ini karena harga barang-barangnya berada jauh dibawah harga nan terdapat di negeriinya.

Negeri Periangan memang terkenal sebagai negeri pengrajin, terutama baju, terompah, dan sepatu dibuat di negeri ini yang kemudian dibawa ke berbagai bandar di republik ini untuk kemudian dijual. Berlainan sangat dengan keadaan pakan di kotanya.

Setibanya disini mereka segera berpencar, bus sewaan mereka tak dapat tempat parkir karena tempat parkir penuh sesak dan jalananpun ramai minta ampun. Mereka ditinggalkan bus karena salah seorang kawan mereka hendak minta antar ke tempat penyewaan oto untuk  berangkat mereka esok ke bandara.


Bertepatan dengan masuknya mereka ke dalam gedung pakan - nan serupa dengan mall ini - masuk pula waktu shalat Ashar. Bersegeralah St. Rajo Basa dan kawannya St. Palindih mencari mushala. Setelah bertanya kepada petugas keamanan maka didapatlah keterangan kalau bangunan mushalla berada di lantai pucuk. Salut ia, berlainan dengan bangunan mall di ibu negeri di propinsi, terletak di lantai dasar. Semenjak masuk hingga sampai ke mushalla ia merasa kalau bangunan pakan ini semakin serupa saja dengan bangunan pasar serupa nan ada di Bandar Raya ibu negeri republik.

Selesai shalat St. Rajo Basa dan St. Palindih berpisah, St. Palindih hendak mencari makan sedangkan St. Rajo Basa tiada suka dengan beragam jenis makanan nan ada di lantai tujuh tersebut. Akhirnya St. Palindih memesan sebuah hidangan bertemakan ayam "Setengah ekor ayam itu diberikannya kepada awak engku.." kisah St. Palindih "Hampir sejam awak memakannya tiada habis.." lanjutnya "ditolong pula oleh beberapa orang kawan, baru habis.."

Sebenarnya tatkala mereka baru sampai di lantai tujuh tempat orang menjual berbagai jenis makanan, mereka langsung disambut oleh beberapa orang pelayan nan menawarkan masakan di tempat mereka. Ramai para pelayan itu nan menegur, sudah serupa orang penting atau kalau tidak artis mereka. Dikerumuni oleh para pelayan..

Pemandangan Bandar Ibu Negeri Periangan dari lantai paling atas Pakan Baru
Pemandangan Bandar Ibu Negeri Periangan dari lantai paling atas Pakan Baru
Tatkala St. Palindih sedang berjuang keras menghabiskan makanan - sebenarnya dia tak pula tahu, asal pilih hidangan saja -  nan dipesannya, St. Rajo Basa asyik berkeliling dari lantai ke lantai mencari buah tangan untuk keluarganya di rumah. Terkenang olehnya kalau isterinya sudah kepayahan mencari sepatu dan terompah, sudah pada sempit semua, terutama semenjak lepas melahirkan. Sebelum St. Palindih berpisah dengan St. Rajo Basa, kawannya nan seorang ini berpesan "Kalau engku berbelanja, baik pakai bahasa Minang saja. Sebab disini para saudagarnya kebanyakan berasal dari negeri kita. Kalau engku gunakan Bahasa Republik maka kemungkinan ada dua, mereka akan mengajak engku berbahasa Minang begitu mengenali logat engku, atau mereka akan memperturutkan engku nan berbahasa Republik itu.."

Pesan dari kawannya itu benar-benar dipegangnya, beruntung tatkala berjalan ia disapa oleh seorang pedagang dengan bahasa Minang "Singgahlah engku, apa nan hendak dibeli.." sapanya dalam Bahasa Minang. Akhirnya singgahlah St. Rajo Basa, rupanya si engku pedagang berasal dari Painan. Disini St. Rajo Basa membeli dua pasang sepatu, satu pasang untuk isterinya nan akan digunakan ke sekolah, satu pasang nan lain ialah sepatu olah raga nan akan dipakai oleh St. Rajo Basa sendiri sebab St. Rajo Basa sama sekali belum memiliki sepatu olah raga.

Ada kisah lawak nan berlaku disini, tatkala tawar-menawar menjadi alot si engku penjual berkata "Engku nantilah disini dahulu, awak tanya sama abang awak, hendakkah ia menjual dengan harga nan engku tawarkan.." lalu si engku segera berlalu. St. Rajo Basa cemas mendengar dan melihat kejadian serupa itu, si engku bercakap dengan muka serius serupa hendak mengajak orang berbaku-hantam. Maka tatkala si engku berlalu, maka segera pula St. Rajo Basa melarikan diri dari kedai si engku. Namun tak berapa lama kemudian si engku dengan dibantu kawannya memanggil St. Rajo Basa. Mulanya ia tak hendak namun setelah dijelaskan oleh kawan si engku pedagang tadi barulah ia hendak. Si engku pedagangpun heran "Kenapa pula engku lari, awakkan bertanya kepada abang awak, sebab sepatu itu ia nan punya.." tanyanya "Tenang saja engku, mana mungkin kepada sesama Orang Awak kami macam-mcam.." lanjutnya.

Kisah lawah berikutnya berlaku karena St. Rajo Basa mengamalkan pesan dari St. Palindih sebelum mereka berpisah. Tatkala sampai  ke kedai nan menjual baju kaos, St. Rajo Basa menggunakan bahasa Minang dalam bertanya. Si engku penjual tampak pada awalnya agak kikuk namun ia tampaknya dapat memahami, tapi ia tetap tak memakai bahasa Minangkabau. St. Rajo Basapun agak heran, iapun mulai mencapur bahasa nan dipakainya  namun tetap lebih banyak Minangnya. Si engku agaknya faham kalau orang nan dihadapinya dari Sumatera lalu ia memanggil St. Rajo Basa dengan panggilan "abang" dengan mencoba-coba logat Sumatera. Rupanya St. Rajo Basa disangka dari utara.

St. Rajo Basa masih tetap memakai bahasa Minang dan si engku mulai beralih menggunakan bahasa dari negeri jiran ditambah tawar-menawar menjadi semakin alot "Abang tengok ini barang beda kualitinya dengan nan ini, bagus sangat ini bang. Kalau yang ini abang tawar dapatlah sebab kualitinya beda.." ala mak, ini bukan pertama kalinya ia disangka orang dari Negeri Jiran. Sekitar empat tahun nan lalu tatkala hendak pergi ke negeri jiran dengan kawan-kawannya ia sempat disapa dengan bahasa jiran oleh petugas bandara di Padang.

Demikianlah, karena asyik berkeliling mencari buah tangan, akhirnya ia tertinggal bus. Namun seorang kawannya masih ada di pakan ini "Engku dengan awak saja ke masjid raya, naik becak kita.." demikianlah akhirnya mereka naik becak ke Masjid Raya.

Komentar