Terkenang semasa kanak-kanak, ketika masih memakai celana pendek, bermain-main dengan kawan-kawan, masuk perak-keluar perak atau bermain-main ke pekan di hari pekan. Ingatan tersebut kembali terkenang oleh kami tatkala hendak kembali ke kantor selepas menjenguk dari rumah mertua kawan kantor kami. Tiba-tiba berjarak agak beberapa meter di hadapan tampak orang ramai berkumpul, onda terpakir "Kecalakaan pulakah nan telah berlaku ini?" seru kami kepada kawan-kawan.
Namun rupanya bukan, melainkan orang sedang berjualan obat di hadapan sebuah ruko nan masih belum dihuni orang. Nan seorang sibuk bercakap-cakap dihadapan pengeras suara sambil duduk di dekat otonya[1] sedangkan kawannya nan seorang bermain-main dengan seekor ular nan tengah menegakkan kepalanya serupa hendak mematuk.
Tak ada laia[2] terbentang di atas mereka, berlainan dengan didapatinya semasa kanak-kanak dahulu tatkala ada orang menjual obat di pekan kampungnya. Layar terkembang, pengeras suara terpasang, berbagai peralatan mereka mulai dikeluarkan. Ada nan mengandalkan bintang buas nan telah dijinakkan, ada nan mengandalkan kepandaian mereka bermain sulap, ada jua nan mengandalkan kepandaian mereka berkata-kata. Namun pernah tersua oleh kami penjual obat nan juga menggunakan gambar-gambar seronok sebagai penarik perhatian.
Dahulu semasa kami kanak-kanak, apabila sudah ada penjual obat hadir di pekan maka akan ramai orang mengelilingi tempatnya. Bukan hendak membeli obat nan ditawarkan nan menurut penjualnya mujarab. Melainkan untuk melihat pertunjukan gratis dari si penjual obat. Biasanya nan membeli obatnya hanya sedikit karena orang tahu, obatnya jarang ada nan manjur. Orang ramai berkumpul hanya untuk melihat pertunjukan dari si penjual obat saja.
Pernah ketika duduk di bangku MTs[3] kami bercakap-cakap dengan engku pemilik kedai di hadapan sekolah nan biasa dijadikan oleh kawan-kawan sebagai tempat merokok. Si engku berkisah perihal kawannya Si Penjual Obat, kata si engku kawannya ini menggunakan pertunjukan sulap untuk menarik perhatian orang-orang. Salah satu jurus sulapnya ialah dengan menggunakan pisau silet bermata dua, satu mata diasahnya hingga tumpul sedangkan nan satu dibiarkan tajam. Nan diasah inilah nantinya dalam pertunjukkan nan akan disayat ke badannya, tentu saja tak tersayat. Namun untuk membuktikan kalau pisau itu benar-benar tajam, kepada penonton dipertontonkannya mengiris kepada sesuatu barang dengan menggunakan mata nan tak diasah (tajam). Tentulah dapat diiris, namun mata sebagian besar orang telah kena tipu.
Dahulu semasa kanak-kanak, acap kami dapati tukang jual obat dengan berbagai jenis binatang berbisa peliharaan mereka mempertontonkan kepandaian mereka di tengah-tengah pekan di kampung kami. Bahkan diantara mereka ada nan membawa anak-anak mereka untuk menolong mereka dalam pertunjukan tersebut. Sudah serupa pertunjukan sulap pula, tak hanya di kampung kami saja melainkan di banyak kampung di Minangkabau ini hal demikianpun berlaku.
Terakhir tukang jual obat mempertontonkan aksinya kami dapati di atas jenjang ampek puluah di Pasa Ateh. Lepas itu tiada lagi, mungkin karena pada masa sekarang berbagai jenis obat-obatan semakin banyak dibuat orang, atau karena obat-obat zaman sekarang nan lebih manjur, atau karena sudah banyak tukang sulap beredar nan lebih menarik pertunjukan mereka, entahlah..
_____________________________________________________
- dari eviindrawanto.com via situs http://asrilambo.mywapblog.com/tiga-warna-kebesaran-minangkabau.xhtml
[1] Mobil
[2] Layar, maksudnya ialah terpal
[3] Setingkat SMP

Komentar
Posting Komentar