
- Picture: Here
Merah saga belumlah hilang dilangit senja, memberi kesan keindahan nan dalam di mata orang nan halus perasaannya. Betapa petang nan indah, burung-burung terbang berkelompok, orang-orang sibuk hilir mudik, serta bunyi kendaraan nan menambah hiruk suasana. Petang nan cantik di hari nan indah, demikianlah lukisan alam di petang hari ini, di bulan terakhir pada penanggalan masehi.
Namun segala keindahan tersebut tiada sampai ke kalbu Puti Shafiyah, dia termenung di hadapan kuali di dapur belakang rumahnya. Rumahnya sunyi hanya suara kucing mengeong nan menjadi penghibur hatinya beserta suami. Duhai, orang tua mana nan takkan sedih mendapati semua itu. Rumah nan dahulu ramai oleh suara kanak-kanak, sekarang menjadi sunyi.
Angan-angannya melayang ke puluhan tahun nan silam, tatkala ia masih gadis. Terkenang dahulu betapa payah hidupnya, dimasa gadis dihabiskannya hari merawat makdangnya[1] hingga akhir hayatnya. Walau telah memiliki anak namun anak-anak makdangnya tiada peduli dengan keadaan ayahnya. Hubungan bundanyapun tiada mesra dengan saudara lelakinya itu, apalagi dengan anak-anak abangnya, sukapun tidak. Masih sakit hati ibunya dengan ulah isteri makdangnya nan hendak menguasai harta pusaka peninggalan orang tuanya.
Makdangnya ialah lelaki manja, terbiasa senang hidupnya sedari kanak-kanak. Maklumlah anak orang berpunya serta anak lelaki satu-satunya. Semasa masih sehat, kerap ia membangga-banggakan anak dan cucunya nan telah berhasil di rantau orang. Dikirimi anaknya foto beserta uang, betapa girang hatinya “Begini rasanya beranak itu di engkau..” ucap makdanya sombong pada Puti Shafiyah suatu ketika. Iba hatinya karena dia nan telah payah merawat makdangnya, mencukupi segala kebutuhannya, bahkan sampai membersihkan hajad nan dibuang dicelana karena telah pikun tiada dipandang. Terkadang ayahnya ikut membantu ia membasuh pakaian nan telah terkena kotoran itu. Sungguh salut dan semakin sayang ia pada ayahnya. Bukan tugas ayahnya sebenarnya, ayahnya ialah penghulu pucuk dalam kaumnya. Tak patut.
“Kenapa tak engkau tanyakan pula ‘Mana anak makdang nan hebat itu tatkala makdang sakit?!’ agar tahu diuntung dia agak sedikit..” Ucap seorang kenalan bundanya tatkala mengetahui perkara demikian “Tabahlah engkau upiak, bersabar, Insya Allah engkau dapat pahala..” lanjut rangkayo tersebut. Senang hatinya karena ada nan membela..
Tatkala makdangnya sakit, tak seorangpun anak makdangnya nan datang menjenguk ayahnya itu. Mungkin karena takut dan benci kepada bundanya, entahlah “Dapatkah kasih seorang anak dikalahkan rasa benci..” tanyanya dalam hati. Diapun tak tahu, mungkin dapat, kata hati kecilnya.
Kemudian ingatannya melompat ke masa puluhan tahun kemudian, kejadian sama terulang kembali. Bedanya, sekarang anak perempuannya nan mengalami apa nan dialaminya dahulu. Abangnya nan teramat disayanginya ketika tua dan sakit-sakitan dirawat oleh dirinya dan anak perempuannya. Adapun dengan anak-anak abangnya telah tinggal di rantau orang “Berhasil jadi orang,..” kata orang kampungnya.
Sejarah kembali terulang, kata orang. Tatkala senang, abangnya kerap menghabiskan hari-harinya bersama anak-anaknya di rantau orang. Ketika susah, tatkala badan telah sakit-sakitan baru ia pulang. Dia dan anaknya nan kepayahan sedangkan anak-anak abangnya tetap hidup senang di rantau orang. Kesibukan dan payah mencari waktu luang ialah alasan mereka sehingga ayahnya tak dijenguk ketika sakit.
Alasan sebenarnya mungkin karena anak-anak beserta isteri abangnya berat datang untuk bersua dengan dirinya. Hubungan mereka tiada mesra, sumandan[2]nya memang tiada pernah suka kepada dirinya. Rasa tak suka itu rupanya diturunkannya kepada ketiga anaknya. Penyebab rasa tak suka ini hanya perkara sepele, ego.
Sumandannya berasal dari keluarga terpandang, ayahnya salah seorang tokoh penting di propinsi mereka. Oleh karena itu dirinya menuntut dihargai dan dihormati, hendaknya segala perkataannya dituruti, hendaknya dirinya dilambungkan setinggi langit apabila bersua dan bercakap-cakap. Hal tersebutlah nan tak didapatinya pada diri adik iparnya Puti Shafiyah. Apalagi tatkala ia tahu kalau adik iparnya rupanya tak menyetujui pernikahan mereka, bertambah sakit hatinya.
Adapun dengan Puti Shafiyah, ia bukanlah jenis orang nan suka menghambakan diri pada orang lain. Apalagi kepada sumandan sendiri, isteri dari abang nan sangat disayanginya. Nan diharapkannya dari sumandannya ialah rasa kasih sayang nan sama tercurahkan serupa nan dirasakannya dari abangnya itu. Namun jauh pengharapan daripada nan didapat.
Semenjak beranak, sumandannya telah menghalang-halangi apabila abangnya hendak membawa anak-anak mereka pulang ke rumah orang tuanya untuk bersua dengan orang tua dan dirinya. Akibatnya jalinan kasih dan ikatan bathin diantara mereka hampir tak ada. Rasa sayang hampir tiada singgah, kekecewaan nan kerap didapatkannya. Padahal sangat besar rasa sayangnya kepada ketiga anak abangnya itu.
Dan kembali, puluhan tahun kemudian anak perempuannya merasakan apa nan dirasakannya. Sesungguhnya anak lelakinya mendapatkan isteri nan baik budi, ia sendiri nan memilihkannya. Namun karena mendapat hasungan dari saudara perempuan ibunyalah makanya jauh hubungan mereka jadinya. Adapun anak lelakinya telah payah pula berusaha mendekatkan mereka namun agaknya pengaruh hasungan ini telah mendarah daging pada kalbu isterinya. Iba hatinya, tak hendak ia menyusahkan anak lelakinya tersebut.
“Payah nanda bunda, ada-ada saja alasan nan diberikannya tatkala si buyuang hendak nanda bawa pulang bersua dengan ibu. Kesal nanda, dibentak, menangis ia. Dibiarkan, semena-mena ia..” keluh anak lelakinya pada suatu ketika.
Iba hatinya, namun ditahannya, sebab ia tahu kalau diperlihatkannya akan membuat anak lelakinya semakin kesal pada isterinya. Walaupun demikian, tak pernah sedikitpun rasa kesal hinggap kepada menantunya itu. Perempuan lemah-lembut, halus tutur katanya, dan baik budinya takkan mungkin sejahanam itu kelakuannya. Pastilah ada nan memasuki, nan mempengaruhi.
Ia tenangkan anak lelakinya “Jangan engkau turutkan rasa marah itu, kasihan awak dengan isteri engkau. Payah dia menimbang, payah ia bersikap, hendak menenggang engkaukah ia atau menenggang keluarganya. Bersikap baiklah engkau kepadanya, jangan pernah sekali-kali berlaku kasar padanya..” ajarnya kepada anaknya itu.
Sebagai seorang perempuan, betapa takkan iba hatinya tak dapat melihat dan menimbang-nimbang cucu, anak dari anak kesayangannya. Rindu di dada terpaksa ditahan, air mata lari ke dalam, dan hanya bisa berangan-angan “Sedang mengapakah ia? Adakah lelap tidurnya di malam hari? Sakitkah ia? Sudah pandai mengapa ia sekarang? Serupa apa suaranya? Wajah siapa nan diambilnya?” dan lain-lain pertanyaan berkecamuk dalam bathinnya.
Adapun suaminya lebih banyak diam, sesekali memperlihatkan amarahnya tatkala membahas keadaan rumah tangga anaknya “Sunggu hasungan orang membuat kita sengsara, patutlah Ghibah itu diharamkan dalam agama kita..” ucap suaminya pada suatu ketika.
“Assalamu’alaikum..” terdengar suara anak lelakinya pulang. Tersadar Puti Shafiyah dari termenungnya, dilihatnya api sudah mengecil dan sayur nan direbusnya telah mendidih. Kalau anak lelakinya pulang petang hari, itu tandanya ia akan makan malam di rumah nanti selepas Isya baru ia balik ke rumah isterinya.
“Alaikum salam.. engkau buyuang..” jawab Puti Shafiyah. Pulang dari kantor anaknya berganti pakaian dahulu di rumah isterinya. Lazimnya anaknya akan membawa anaknya mengawani dirinya ke rumah orang tuanya. Kalau tak sering, ya sesekali saja. Namun hal tersebut tiada pernah berlaku, cucunya telah dijauhkan dari dirinya, maklumlah “Cucu di Rumah Orang..”[3] walaupun demikian tetap saja pilu terasa. Sangatlah buruk dipandang mata apabila seorang anak tak tahu dengan bakonya.[4]
Demi memuaskan rasa rindu nan teramat sangat ia kerap bertanya perihal cucunya kepada anaknya. Untung ada foto, kalau tidak, tentulah ia hanya pandai berangan-angan saja, membayang-bayangkan serupa apa cucunya itu.
Setiap malam menjelang tidur di usia senjanya ini, kerap ia bertanya-tanya akan diri dan keluarganya. Entah dosa apa nan telah diperbuatnya sehingga dirinya dan keluarganya mendapati hal nan sedemikian. Semenjak kanak-kanak telah diteror oleh rasa benci, hingga tuapun ia masih diteror oleh rasa benci. Telah tiga generasi, namun perkara nan sama masih saja selalu terjadi. Tak pernah dapat hidup rukun serupa keluarga-keluarga lainnya.
“Apakah ini nan namanya derita nan tiada ujung..?” ucapnya dalam hati.
______________________________________________________
Catatan Kaki:
[1] Saudara lelaki tertua ibu
[2] Isteri saudara lelaki
[3] Maksudnya anak dari anak lelaki karena lelaki tinggal di rumah isteri, bukan rumah kita
[4] Keluarga ayah
Komentar
Posting Komentar