Serupa Siang dengan Malam

Ilustrasi Gambar: Internet
Ilustrasi Gambar: Internet
Hari Sabtu di pertengahan bulan November ini St. Rajo Basa berniat untuk membawa anak bujangnya nan baru berumur dua setengah bulan ke rumah orang tuanya. Telah menjadi adat di Minangkabau ini kalau seorang anak nan baru lahir akan dijemput oleh bako[1]nya dan kemudian keluarga ibunya akan pergi  mengantarkan si anak beramai-ramai. Namun lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya, setiap nagari di Minangkabau ini memiliki adat yang berlainan perihal perkara menjemput dan mengantar si anak.

Serupa pula dengan falsafah di Minangakabau ini, adat salingka nagari. Dimana masing-masing nagari memiliki adat yang berlain ragam dan rupanya dalam penyelenggaraan perkara nan satu ini. Tidak hanya dengan perkara nan satu ini melainkan juga dengan perkara nan lain serupa kematian, perkawinan, aqiqah dan turun  mandi, serta lain sebagainya.

Demikianlah, sepekan sebelumnya orang tua St. Rajo Basa beserta beberapa orang kerabatnya telah menjemput anaknya ke rumah mertuanya di Bandar Padang. Dan hari ini dibawanyalah anaknya tersebut pulang ke rumah orang tuanya. Semestinya kerabat isterinyalah nan mengantar namun karena sesuatu dan lain hal, serupa inilah jadinya. Hanya isterinya nan turut serta, lain tidak.

Begitu sampai di rumah sudah ramai orang menanti, kaum kerabatnya telah ramai menanti. Bakonya, bako bundanya, etek, maktuo, mamak,[2] datuk, nenek, serta adik, kakak, dan kerabat lainnya. Betapa cerah mereka melihat cucu dibawa pulang. Senyum bahagia, sorak-sorai kaum ibu menyambut kedatangan anak dan isterinya. Sebenarnya semenjak berada dalam perjalan tadi, bundanya telah menelpon, cemas cucunya akan dibawa singgah dahulu ke tempat lain.

Sampai di halaman rumah, mereka telah disambut. Begitu akan menaiki rumah bakonya mengusap muka anaknya dengan air yang telah disiapkan di dalam baskom kecil. Usapan dimulai dari rambut di kepala hingga ke muka. Selepas itu bakonya juga membasuh kaki anaknya. Kemudian baru dibawa ke atas rumah. Semuanya hendak memangku, semuanya hendak mencium, semuanya hendak mengguyu.[3]

Rumah orang tua St. Rajo Basa riuh rendah oleh suara induak-induak,[4] memanglah perbandingannya dengan engku-engku jauh berbeda. Hanya ada seorang datuk, dua orang mamak, satu orang suami dari bakonya, ayahnya, dan dirinya.

Demikianlah, semenjak tengah hari hingga malam tiada putus orang nan datang menengok anak St. Rajo Basa. Sepupunya, mamaknya, serta kerabat lainnya, mereka silih berganti datang. Satu hal yang berlainan rasanya oleh St. Rajo Basa, ketika ada keluarga isterinya nan menjenguk anaknya di rumah mertuanya. Maka hampir kesemua mereka nan datang akan berujar bahwa anaknya memiliki rupa isterinya.

Namun berlainan keadaannya dengan hari ini, di rumahnya, rumah orang tuanya. Hanya bakonya seorang nan mengatakan “Benar-benar engkau benar ia..” maksudnya muka atau wajah anaknya benar-benar serupa pinang di belah dua dengan St. Rajo Basa tatkala masih bayi dahulu. Hal ini setidaknya diakui oleh orang tua, kedua adik, serta isterinya tercinta. Namun hanya seorang..

Selebihnya mengatakan kalau mata anaknya serupa dengan mata isterinya. Tiada nan membahas wajah anaknya nan serupa dengan dirinya, “salinan” kata orang kampung, “foto kopi” kata orang kota. Hal ini tentulah untuk menghargai dan menghormati isteri St. Rajo Basa. Ada raso nan dibawa oleh kerabat St. Rajo Basa. “Tiada baik membuat kecil hati menantu, apalagi ia seorang diri. Digedang-gedangkan jualah hatinya hendaknya..”

Terasa benar perbedaannya, maklumlah kerabat St. Rajo Basa sebagian besar ialah orang kampung, orang ke sawah. Mereka bukan pegawai yang pada masa sekarang sebagian besar dari mereka memiliki tabi’at yang kasar, tak mengedepankan raso jo pareso.

Keadaan St. Rajo Basa ketika itu sama kiranya dengan keadaan isterinya sekarang, menjadi tamu di rumah mertua. Bedanya, bagi isteri St. Rajo Basa keadaan serupa ini hanya berlaku untuk beberapa hari saja. Sedangkan bagi St. Rajo Basa, keadaan demikian berlaku sepanjang hayat, kecuali ia segera membawa anak isterinya keluar dari rumah mertua secepatnya.
__________________________________________________
Catatan Kaki:
[1] Keluarga ayah
[2] Saudara lelaki ibu
[3] Merayu-rayu, menggoda
[4] Ibu-ibu

Komentar