Pada suatu ketika kami bersua kembali dengan salah seorang kawan nan sama-sama ikut pelatihan dengan kami dahulu. Ia bekerja pada salah satu rumah penjara di negeri kami, lebih muda dari kami, belum menikah ia. Semasa mengikuti pelatihan beberapa bulan nan lalu kami tak begitu mengenal, hanya kenal nama saja, dan itupun sudah banyak nan lupa lepas pelatihan. Tak ada acara pengenalan serupa ketika Pelatihan Prajabatan dahulu atau semasa mula-mula kuliah ketika diplonco oleh para senior.
Kini kami kembali bersua, saling sapa dan bertanya kabar. Sama-sama mengurus keperluan kantor kami di Kantor Pengurus Perbendaharaan Negara di bandar kami. Tak lama kemudian kamipun bercakap-cakap, di tengah-tengah percakapan kawan kami inipun bertanya “Engku bekerja di mana..?”
“Ah.. dekat engku, masih di bandar ini jua?” jawab kami
“Dimanakah itu? Di Kemenagkah..?” selidiknya
Kamipun heran dibuatnya, bagaimana sampai kesana pula terkaan kawan kami “Tak engku, kami bekerja di Kementerian Pelancongan..” jawab kami sambil tersenyum.
Kami heran dengan terkaan kawan kami ini, lalu segera kami faham dan kembali bergurau “Engku muda, engku itu..” seru kami dengan menunjuk dengan memonyongkan mulut kami ke arah seorang engku nan memakai seragam nan sama dengan nan dipakai engku muda kawan kami ini, kawan ia juga “Pasti bekerja di kemenag juga ia..”
Engku muda kawan kami inipun tersenyum malu “Hehe, iya engku hafal olehnya ayat Al Qur’an itu. Tengok saja janggutnya panjang..” jawabnya sambil memperolok kawan sendiri.
Ya, karena janggutlah kami dikatakan sebagai pegawai di Kemenag. Padahal sejauh pengetahuan kami, pegawai di kementerian tersebut banyak pula nan tak berjanggut. Tapi setidaknya kami mengetahui, demikianlah pandangan masyarakat awam.
Namun kejadian nan serupa kembali terulang beberapa jam setelah kejadian dengan engku muda kawan kami ini. Masih di tempat nan sama dengan waktu nan berbeda.
Ketika itu lepas ashar tatkala petang mulai menjelang, udarapun bertambah dingin, angin pembawa hujan sudah mulai berhembus semenjak tadi. Beruntung kami mendapat pinjaman jaket kulit dari adik kami. Kami kembali ke kantor ini karena tadi mendapat nomor antrian nan panjang, nomor 277 sedangkan nan dipanggil baru nomor 239.
Ketika kami tinggalkan, kantor ini ramai, kini – satu jam kemudian – sudah agak berkurang. Karena penasaran dan takut menanti lama kami coba bertanya kepada seorang rangkayo nan duduk tak jauh di sebelah kami “Nomor antrian nan ke berapakah nan terakhir ini dipanggil rangkayo?”
“Nomor 253 engku..” jawab si rangkayo “engku nomor berapa?” tanyanya balik.
“Kami nomor 277 rangkayo..” jawab kami.
“Wah masih lama, ini sudah 30 menit tak bertukar orangnya..” ungkap si rangkayo
“Dimanakah engku ini bekerja? Di kemenagkah?” tanyanya kepada kami.
Sungguh tersenyum kami dibuatnya, dalam sehari ini sudah dua orang nan menyangka kami ini pegawai kemenag. Ini semua karena janggut nan kami pelihara “Tak rangkayo, di Kementrian Pelancongan..” jawab kami kepada si rangkayo, dan diapun tersenyum.
Sungguh hari nan aneh sehari ini, tersenyum saja kami dibuatnya..
____________________________
*https://aslibumiayu.wordpress.com/2012/03/12/bagaimana-jika-tidak-tumbuh-jenggot-apakah-menggunakan-obat-penumbuh-jenggot/

Komentar
Posting Komentar