Cingkariak, nama itu sudah lama tak kami dengar - kecuali si Rajo Langik di sinetronnya - ketika masih kanak-kanak dahulu, kalau kami tiada salah. Dahulu oto[1] angkutan di kampung kami menggunakan kondektur atau stokar orang kampung kami menyebutnya. Selain stokar ada sebutan lain yang takkalah seringnya dipakai oleh orang yakni Cingkariak. Mereka ini biasanya bergayut di pintu oto bagian belakang sambil berteriak "Pasa..pasa.."[2]. Serupa dengan kelakuan Mandra dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan tatkala menjadi stokar pada oplet pusaka keluarga mereka.
Kelakuan cingkariak ini merupakan pertunjukan nan sangat menarik bagi kami dan kawan-kawan tatkala masih kanak-kanak dahulu. Terkadang kami mencoba meniru-niru kelakuan cingkariak berteriak-teriak dengan bergayut pada pelepah daun pisang yang sudah tua "Pasa..pasa.." teriak kami dan kawan-kawan.
Dan bertahun-tahun nan lalu sudah tak kami dapati lagi para cingkariak ini, telah habis peranan mereka dimakan zaman. Dimulai dari angkutan ke kampung kami yang tiada lagi menggunakan jasa mereka. Kalau dahulu para penumpang akan membayar sewa kepada cingkariak maka kini sewa oto langsung dibayar kepada sopir. Hal ini kemudian berlaku kepada semua jenis angkutan nan kami gunakan, serupa angkutan dari bandar kami ke Bandar Bingkuang, tak pula lagi menggunakan cingkariak.
Dalam hati kami bertanya-tanya kemana para cingkariak ini? bagaiamana nasib mereka? mungkin sudah naik pangkat jadi sopir atau berganti pekerjaan mereka itu.
Sampailah pada beberapa hari nan silam kami menginap di rumah salah seorang abang kami di Indarung di Bandar Bingkuang. Ia seorang penyuka burung, amatlah banyak burung peliharaannya. Pada suatu pagi kami dapati ia sedang asyik mengeluarkan sangkar burung dan kemudian memandikan semua burung peliharaan nan dimilikinya. Selepas dimandikan, burung-burung ini diberi makan.
Burung-burung ini diberi makan sejenis serangga yang tiada kami ketahui namanya, tatkala kami tanyakan "Apa pula nan tuan berikan kepada burung itu?"
"Cingkarik ini.." jawab abang kami.
Terkejut kami, rupanya cingkariak itu asalnya ialah nama binatang. Belum lepas dari rasa heran kamipun bertanya kembali "Apa pula Bahasa Indonesia dari Cingkariak itu tuan..?"
"Jangkrik.." jawab abang kami sambil tersenyum.
O alah, rupanya Cingkariak itu Jangkrik..
___________________
Catatan Kaki:
[1] Mobil, bus
[2]Pasar-pasar

Komentar
Posting Komentar