Jalan Nasib

Picture: Here
Syahdan di suatu rimba belantara, seekor elang sedang terkapar sedih dikarenakan sebelah sayapnya patah. Kalah berkelahi mempertahankan sarangnya, anak dan isterinya telah diambil.

Semalaman dia menanggung derita, berbagai macam binatang datang menengok dirinya. Menguatkan, menghibur, dan mencoba membawanya untuk tertawa. Dia tertawa, tapi hanya di dekat mereka, menghargai jerih payah mereka dalam menyenangkan hatinya.

Menjelang subuh ia meminta sekalian kawan-kawannya itu pergi, dia hendak seorang diri. Tubuhnya telah dialihkan ke bawah sebatang pokok pohon nan besar oleh kawan-kawannya.
Dia meminta mereka pergi karena selain sudah lelah juga karena ingin sendiri merenungi nasib. Dia telah tahu takdirnya, sebentar lagi ia akan pergi jauh dan ia tak ingin memandangi kawan-kawannya menjelang kepergiannya. Tak sanggup ia..
Hujan nan turun semenjak perak siang amatlah dinginnya, serupa air es. Namun dinginnya hujan tak sampai kepada Si Elang, dia telah mati rasa akan lahir namun tak demikian dengan bathin. Masih terngiang pertarungan semalam.
Perlahan-lahan ia sudah tak dapat menggerakan tubuhnya, tak ada lagi rasa sakit pada sayapnya nan sebelah. Dalam hati dia bersyukur sekaligus bersedih, bersyukur semuanya akan berlalu, bersedih karena tiada akan bersua dengan anak isterinya lagi. Takkan dapat ia melihat anaknya belajar terbang.
Menjelang tengah hari, tubuh kaku si elang di lahap oleh ular besar yang datang entah dari mana. Anak isterinya takkan pernah tahu apa nan menimpa Si Elang. Mungkin mereka masih merasa Si Elang masih berjuang menyelamatkan dirinya atau akhirnya kecewa karena nan terkasih tak berdaya upaya menyelamatkan mereka.

Dan kehidupan rimbapun berjalan seperti sedia kala, tak terpengaruh dengan petaka yang menimpa Si Elang anak bini.

Komentar