Menjahit di masa dahulu

Sumber Gambar: Disini
Pakaian ialah kebutuhan dasar bagi manusia, dari masa ke masa kegunaan dari pakaian bermacam ragam. Mulai dari sekadar kebutuhan untuk menutupi tubuh, melindungi tubuh, hingga kepada menentukan jati diri, status sosial, dan gaya hidup. Maka kemudiannya muncullah pakaian dengan berbagai jenis bahan, bentuk, ragam, dan gaya yang menentukan jati diri si pemakai.

Pada umumnya pakaian berasal dari kapas yang dipintal menjadi sebuah benang, kemudian benang tenun menjadi sebuah kain, dan selepas itu kain tersebut dijahit menjadi sebuah pakaian. Pada masa sekarang, kapas tidak selalu menjadi bahan dasar pembuat benang, beragam macam bahan yang dipakai oleh orang-orang pada masa sekarang.

Bagaimanakah dengan masa dahulu, seperti apakah orang menghasilkan sebuah pakaian. Cerita ini kami dapatkan dari orang tua-tua masa dahulu di kampung kami. Beginilah garis besarnya.

Dalam kehidupan masa lalu dimana perhubungan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya tidak selancar dan sedekat masa sekarang. Segala barang kebutuhan nan diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dicukupi sendiri oleh masyarakat setempat. Kalaupun ada kepandaian khusus, maka itu dikuasai oleh penduduk nagari (desa, kampung) yang saling berdekatan.

Kapas ditanami oleh orang-orang di kampung-kampung pada masa dahulunya, kalaupun ada kampung yang tidak memiliki pohon kapas maka mereka akan membelinya dari penduduk di kampung sebelah. Selepas itu kapas tersebut mereka pintal sendiri menjadi sebuah benang dimana kemudian mereka tenun sendiri di bawah kolong Rumah Gadang mereka. Bermacam-macam tempat menenun, ada di kolong ada pula di atas rumah gadang semisal di anjuang yang terdapat pada sisi kiri dan kanan rumah gadang tersebut.

Selepas itu mereka jahit sendiri menjadi sebuah baju. Sebelum adanya mesin jahit, kain tersebut mereka jahit dengan tangan. Tentulah keahlian dan kerapian dalam menjahit orang dahulu berlainan dengan orang sekarang. Kata orang, keberadaan alat bantu dalam bekerja sesungguhnya menumpulkan kepandaian kita dalam bekerja.

Demikianlah, segala kepandaian tersebut sebagian besar dikuasai oleh kaum perempuan di Minangkabau pada dahulunya.

Komentar