Pemanggil Hujan

Picture: Here
Hari hujan menyimpan banyak kisah, salah satunya ialah kisah St. Malenggang dan St. Rajo Basa. Pada suatu hari nan baru selesai turun hujan, di kantor mereka, kedua kawan karib itu maota-ota[1] perihal hari hujan. Pekerjaan sedang tak ada, kawan-kawan nan lainpun ada pula jua nan maota-ota, sambil menghisap rokok malah, padahal ventilasi ruang kantor mereka telah ditutupi dengan kaca, tak ada jalan lalu untuk udara segar dari luar.

“Tahukah engku, di kala hujan kita dapat menikmati keindahan alam nan menakjubkan. Lain pula pesonanya engku, kata orang auranya berlainan, ada aura mistis nan memikat hati awak ini..” kata St. Malenggang kepada St. Rajo Basa.

“Ah, engku pernah terluka cukup dalam agaknya. Sebagian besar pecinta hujan nan kami kenal ialah orang-orang perasa peiba hati, dimana hatinya pernah terluka cukup dalam..” jawab St. Rajo Basa bergarah[2] sambil menyelidik.


St. Malenggang tersenyum “Engku bercakap demikian tentulah karena pernah terluka pula dan hati engku sangat lembut sehingga sangat mudah tergores oleh kehidupan nan tak berperasaan ini..” balasnya.

“Haha, sama awak agaknya engku. Kenapa? Pernah disakiti oleh perempuankah engku ini..?” tanya St. Rajo Basa balik sambil bergarah bercampur menyelidik.

St. Malenggang tiada hendak kalah “Ah engku, kehidupan itu sangat luas. Dapat oleh perempuan, dapat pula oleh manusia lainnya..” jawabnya mengambang.

“Tapi ada pula kisah agak aneh perihal hari hujan ini engku..” lanjut St. Malenggang
Tertarik minat St. Rajo Basa “Apa itu engku..?” tanyanya penuh harap.

“Entah kenapa, sudah lama berlaku, semenjak berkuliah mungkin. Tatkala kami atau adik-adik kami memandikan onda[3] ataupun oto[4], maka selepas itu, selepas kendaraan telah bersih, telahng mengkilap karena kami beri pengilap…” kisah St. Malenggang menggantung, St. Rajo Basa menatap saja kawannya ini.

“Maka selepas itu hujan akan turun. Duhai kesalnya hati ini, kendaraan sudah bersih dan mengkilap sekarang mesti kumuh kembali dengan cepat. Sungguh sakit hati ini, sakitnya tuh disini..” kisah St. Malenggang sambil mengarahkan tunjuk ke dadanya. St. Rajo Basa berusaha menahan gelak.

“Adakah orang nan senasib dengan awak ini engku?” tanya St. Malenggang pasrah kepada kawannya.

Dengan masih menahan gelak, dijawab oleh St. Rajo Basa “Ada engku, senasib awak rupanya..”

Dan pecahlah gelak berderai mereka berdua di ruangan kantor itu. Sekalian orang menatap mereka penuh selidik, tiada dihiraukan, mereka tetap asyik tertawa berdua.
__________________________
Catatan Kaki:
[1] Bercakap-cakap
[2] Bercanda
[3] Motor
[4] Mobil

Komentar