Pulang

Picture: Here
Sungguh kami tiada faham, bagaimana cara Tere Liye mengisi otaknya dengan beragam pengetahuan perihal berbagai hal. Negeri Para Bedebah ialah romannya nan lain nan banyak membuat keterangan dan pengetahuan perihal kehidupan politik dan para penguasa perniagaan di republik ini.

Roman nan kami baca kali ini berjudul Pulang nan berkisah perihal seorang anak Melayu nan biasa di panggil Bujang. Anak Tongga Babeleang[1] nan hidup di sebuah dusun di kaki Bukit Barisan. Kemudian ia diserahkan oleh ayahnya kepada bekas induk semangnya dahulu untuk dididik menjadi tukang pukul. Namun nasib mengantarkannya bukan hanya menjadi seorang tukang pukul nan lihai dalam bertarung melainkan ia juga menjadi pengendali dari Perkumpulan Tukang Pukul itu.


Teuke Besar, demikian nama kepala Para Tukang Pukul, ia melihat bahwa Bujang memiliki potensi lain nan jauh lebih besar nan patut untuk dikembangkan. Otaknya cerdas maka dari itu ia dikirim sekolah di luar negeri. Gunanya ialah agar ia dapat memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan Perkumpulan mereka, atau mereka sendiri menyebut perkumpulan mereka itu dengan sebutan "Keluarga".

Roman ini memperkenalkan sebuah istilah baru kepada kami yakni "Shadow Economy". Betapa besar dan berpengaruhnya mereka, bahkan dua orang calon presiden dapat mereka ancam. Kami yakin ini merupakan kenyataan nan ada sekarang namun sebagian besar dari kita menolak untuk menerimanya. Kalaupun tak menolak setidaknya mengabaikan.

Pada saat membeli kitab roman ini kepada pedagang langganan kami, si rangkayo berucap "Ini di negeri kita kisahnya engku.." terkejut dan heran, dan langsung kami bawa. Eh rupanya..

Dalam roman ini Tere Liye tidak mengungkapkan dengan jelas dimana kampung si Bujang yang rupanya bernama Agam. Namun tatkala disebut di dalam roman ini bahwa Bujang dan Ayahnya merupakan seorang "Parewa" maka kami heran, karena Parewa merupakan istilah bagi orang Minangkabau yang disematkan kepada orang-orang nan suka bermain di gelanggang, berjudi, minum tuak, tukang berkelahi, tak mengindahkan agama, singkat kata serupa dengan "Preman" sekarang.

Kemudian, Agam yang merupakan nama asli dari si Bujang. Agam ialah nama salah satu Luhak[2] di negeri kami yakni Luhak Agam. Dan rupanya nama itu merupakan nama "datuk"[3] dari si Bujang dari fihak bundanya. Datuknya bernama Tuanku Imam Agam.

Sungguh penasaran kami dibuatnya karena gelar "Tuanku Imam" di Minangkabau pada dahulunya merupakan gelar nan disematkan kepada ulama. Selain dari pada gelar kepada para raja dan kaum bangsawan nan juga bergelar Tuanku di muka namanya. Dan gelar Tuanku Imam ini ditasbihkan kepada tempat asal atau tempat ia memiliki surau untuk berdakwah. Atau bisa saja kepada ciri khas dirinya.

Contohnya ialah Tuanku Imam Bonjol, dimana Bonjol merupakan nama sebuah Nagari di Minangkabau yang terletak di Kabupaten Pasaman. Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol ialah Peto Syarif. Tuanku Nan Tuo karena ia merupakan yang tertua diantara para imam lainnya.

Roman ini sungguh menarik karena banyak menambah pengetahuan kita perihal Dunia Bawah Tanah di republik ini. Selamat membaca..
__________________________
Catatan Kaki:
[1] Semata Wayang, tunggal, satu-satunya
[2] Daerah Asal, Luhak Nan Tigo: Luhak Tanah Data, Luhak Agam, dan Luhak Limo Puluah Koto
[3] Kakek

Komentar