Sabar untuk nan Dihadapan

Picture: Here
"Bagaimanakah perasaan engku apabila sesuatu nan sangat engku perlukan namun setelah daya nan dikerahkan, orang lainlah nan mendapat?" tanya St. Rajo Basa pada suatu ketika kepada kawannya St. Palindih.

Dengan tanpa menenggang sedikitpun menjawab kawannya ini "Itu namanya nasib engku sedang tiada baik, bernasib sial engku namanya. Sabar dan tabah sajalah engku.." jawab St. Palindih sambil mengajar.


"Telah salah awak bertanya dan menumpahkan isi hati agaknya ini.." sesal St. Rajo Basa dalam hati. Ia diam saja lagi, menatap sedih ke arah luar kantor mereka.

St. Rajo Basa sedang sangat perlu dengan suatu barang, telah dikerahkannya segala daya namun tiada dapat juga. Orang lainlah nan mendapatkannya, iba hatinya.

St. Mangkutopun akhirnya datang menghampiri, tadi ia sudah mendengar pertanyaan kawannya itu kepada St. Palindih. Dia sudah dapat menerka perihal perkara apa namun ditanya jua. Jawaban dari St. Rajo Basa tepat serupa perkiraannya.

"Ah engku, mungkin beliau tiada tahu engku sedang perlu sangat. Makanya diberikan kepada orang lain. Kami yakin tiada maksud apa-apa, berprasangka baik saja awak engku. Kami yakin bahwa Allahlah sebaik-baik penolong.." ucap St. Mangkuto.

Mendengar perkataan nan demikian agak berkurang iba hati St. Rajo Basa agak berkurang "Benar engku, prasangkaan kamipun demikian pula, tiada tahu.."


Terkadang sesuatu nan kita idam-idamkan sangat payah mendapatkannya, bahkan tiada mendapat. Mungkin kita sedang diajar untuk bersabar dan menahan hati sebab dimasa nan akan datang kita pasti akan diuji dengan cobaan nan lebih berat. Tiada mendapat sesuatu nan diidamkan, padahal kita sangatlah perlu akannya, orang lain nan mendapat, orang nan tiada membutuhkan.

Komentar