Durian Kamang

Picture: http://famapromotion.blogspot.co.id
Setiap tahunnya, ada satu musim nan sangat dinanti-nantikan oleh sekalian orang di negeri kami, musim yang apabila datang tiada mengetahui melainkan sekelompok orang saja. Bukan musim penghujan atau musim kemarau apalagi musim asap melainkan Musim Durian.

Durian digelari Raja [Diraja] Buah-buahan, kata orang karena rasanya nan nikmat. Namun ada jua yang tiada suka dengan buah nan satu ini, salah satunya ialah perempuan mengandung (hamil). Pada musim ini kami pernah mendapat kekurang ajaran dari salah seorang perempuan mengandung dikarenakan buah durian. Walau perempuan mengandung semestinya etika dijaga jua, bukan bercakap sesuka hati serupa memerintah kepada babu atau jongos. Maff engku, bukan maksud kami berkeluh kesah.

Kami terkenang dengan sebuah kisah nan pernah kami baca dahulu, perihal catatan seorang Belanda tatkala melakukan perjalanan keliling Sumatera pada masa kolonial. Tatkala sampai ke Dataran Tinggi Agam yang ketika itu pusat keramaiannya ialah Fort de Kock (Bukit Tinggi) ia tercengang. Kisahnya; orang disini kalau berjalan tak memakai alas kaki, kalau bercakap suara mereka keras, tak peduli apakah itu pemimpin mereka atau orang Eropa sekalipun. Dan mereka sangat gemar akan buah yang baunya busuk.

Maafkan kami engku kalau salah mengutip karena telah lama dan tulisan itupun entah disimpan entah dimana. Namun kami yakin dengan kalimat nan terakhir dimana ditafsirkan oleh orang nan memuat catatan itu di internet sebagai Buah Durian. Kalau memang benar maka tak salah tafsirannya karena masyarakat disini memang sangat menggemari Raja Diraja Buah ini.

Buah Durian nan sangat dinanti-nantikan oleh orang Agam dan Bukit Tinggi ialah buah durian yang dihasilkan dari perak (kebun) milik penduduk yang berasal dari suatu nagari yang bernama Kamang. Letaknya sekitar 12 km arah timur Kota Bukit Tinggi. Kata orang nan telah menikmati, buah durian yang berasal dari Kamang itu sangatlah nikmat tiada bandingannya. Sehingga setiap tahunnya mereka kerap menyaringkan telinga dan menyalangkan mata kalau-kalau durian di Kamang telah berjatuhan.

Biasanya panen durian di Kamang didahului oleh panen durian dari nagari lain seperti Kayu Tanam, Payakumbuh, Kubang (Sawah Lunto), dan lain sebagainya. Lepas itu barulah terdengar durian dari Kamang telah runtuh.

Kami sebagai orang Kamang menjadi tempat untuk menuntut "Bilakah kami akan dibawakan Durian Kamang engku..?" tanya kawan-kawan di kantor. Kami jawab "Belumlah runtuh rangkayo..", esok ditanya lagi dan akhirnya hampir tiap hari kami ditanya (dituntut).
Itulah ia, niat baik hendak menyenangkan kawan sekantor mendapat perlakuan nan tak menyenangkan dari perempuan mengandung "Engku bawa durian ini keluar, tak suka saya dengan baunya..!!!" kata perempuan nan lebih muda beberapa tahun umurnya dari kami. Belum pernah kami mendapat kekurang ajaran sedemikian selama ini. Kamipun faham akan halangannya, diutarakan secara baik-baik alangkah eloknya.


Kami dengar tak hanya penduduk di negeri kami saja nan gemar akan buah nan satu ini, di beberapa daerahpun demikian. Kalau tidak manakan mungkin ada ungkapan "Mendapat Durian Runtuh..". Bagaimanakah di negeri (desa, kota, propinsi) engku, rangkayo, serta encik sekalian?

Komentar