Bus Tingkat


Bus tingkat hendak sampai di tempat perhentian di hadapan Museum Nasional
Bus tingkat hendak sampai di tempat perhentian di hadapan Museum Nasional
Pada saat sekarang ini di Bandar Raya nan menjadi ibu negeri bagi republik ini terdapat bus tingkat yang melayani para penumpang nan hendak memelancong keliling banda raya. Keberadaan bus tingkat ini telah diketahuinya tatkala berkunjung ke bandar raya ini beberapa pekan nan silam. Ketika itu ditanyanya kepada kawannya Marah Magek “Membayarkah naik bus tingkat itu?”
“Tentulah ia..” jawab kawannya tersebut.
Hari ini selepas dari Museum Nasional – kebetulan tempat pemberhentiannya terdapat di hadapan museum – St. Rajo Basa bersama kawan-kawannya menaiki bus tingkat ini. Kata kawannya nan pernah mencoba “Tiada membayar engku..”

Berhondoh-hondoh naik bus gratis
Berhondoh-hondoh naik bus gratis
Maka dicobanyalah naik bersama rombongan dari kampung ini dan benar, tiada diminta bayaran oleh cingkariaknya.[1] Mereka langsung menuju ke tingkat atas, maklumlah di bandar mereka tiada ada angkutan jenis bus kalaupun ada di ibu negeri di propinsi dan itupun tak pula bertingkat.
Bus tingkat serupa ini hanya pernah didapatinya di tipi saja, terutama di negeri Inggris. Sangat besarlah keinginannya hendak pergi ke negeri nan bernama Inggris itu, hendak mencoba naik Bus Tingkat yang di sana bewarna merah. Sungguh pandir ia, ke Inggris hanya hendak naik bus tingkat.
Dia sendiri juga heran, karena bus ini hanya digunakan sebagai alat untuk berpesiar dalam kota saja. Otaknya nan bebal berpendapat lebih baik bus ini digunakan sebagai sarana perhubungan saja, daripada memakai bus gandeng serupa sekarang ini. Tapi itu hanyalah angan-angannya saja, para pembuat kebijakan di atas awan sana tentulah memiliki pertimbangan sendiri nan jauh lebih baik.
Di dalam bus tingkat dua
Di dalam bus tingkat dua
Ini patut dicatat dalam sejarah karena pertengahan bulan November di tahun 2015 ini ialah pertama kalinya St. Rajo Basa dan kawan-kawan menaiki bus tingkat. Kecuali beberapa orang kawannya nan telah pernah naik sebelumnya. Dasar orang kampung, orang udik, orang daerah. Di atas buspun mereka masih asyik mengambil gambar, penumpang nan lain hanya diam saja “Dasar orang udik..” mungkin demikian kata mereka dalam hati.
Ehm, ada nan bacewek (pacaran) di atas bus
Ehm, ada nan bacewek (pacaran) di atas bus
Hal nan paling disenanganinya selain berada di tingkat atas bus ialah saat mendaki dan menuruni jenjang yang terdapat di dalam bus. Hal tersebutlah nan memancing rasa ingin tahunya selama ini “Serupa apa pula jenjang nan berada di dalam bus itu?”
Setelah berputar, akhirnya mereka berhenti di Tugu Nasional nan didirikan oleh Tuan Besar Republik nan pertama. Konon kabarnya di puncaknya ada emas murni. Syukur hingga kini belum ada nan berani mencurinya..
[1] Stokar, Kondektur

Komentar