Kota Tua Jakarta


DSC09711Kota Tua  ialah kawasan bandar lama yang dimasa Kolonial menjadi pusat kehidupan masyarakat ketika itu, terutama pusat dari pemerintahan. Di kawasan ini banyak terdapat bangunan tua peninggalan masa kolonial yang hingga masa sekarang masih ada dan dapat dinikmati. Hari sudah menunjukkan pukul sembilan kurang tatkala St. Rajo Basa bersama kedua orang kawannya sampai  di kawasan ini. Naik busway dari kawasan Blok.M di selatan menuju kawasan Kota Tua di utara. Naik di tempat awal bus bertolak dan turun di tempat akhir bus berjalan.

Orang-orang cukup ramai malam itu, silih berganti turun dan naik. Nan namanya  angkutan transportasi umum semacam bus atau kereta, taklah menarik kalau tak ada orang nan tegak-tegak bergayutan di dalam bus. Jangan pula engku sangka serupa kera nan bergayutan di dahan pohon di tengah rimba sana, berlainan tentunya. Malam itu malam Ahad petang Sabtu, ramai orang nan hendak datang ke Kawasan Kota Tua itu.
Seorang perempuan berpose dengan pocong
Seorang perempuan berpose dengan pocong
Halte tempat perhentian terkhir ini merupakan halte yang cukup besar, mereka mesti lalu  ke bawah tanah untuk dapat ke luar dari kawasan halte. Ramai orang berlalu-lalang dan lebih ramai lagi ketika sampai di luar. Beberapa kelompok remaja tampak duduk-duduk di tepi jalan di dekat mereka memarkirkan onda[1] mereka, laku-laki dan perempuan, mungkin ada diantara mereka nan pasangan kekasih. Entah apa nan mereka perbincangkan, terlihat asyik mereka itu.
Nan lebih ramai lagi ialah tatkala mereka masuk ke kawasan Kota Tua – tiada boleh satupun kendaraan nan masuk – keramaian disini mengingatkan St. Rajo Basa dengan keramaian Pasa Lereng dikala hari libur. Macet dan saling berhimpitan, payah berlalu lalang karena tiada pengaturan untuk lalu lintas orang. Kata kawan kami di siang hari jumlah pedagang kaki lima tak seramai sekarang. Mungkin karena ada acara zikir bersama pula di hadapan muka bangunan Balai Kota Lama. Namun sebenarnya tidak juga, nan membuat orang saling berhimpitan ialah karena ulah beberapa orang pedagang kaki lima nan menjual makanan ataupun minuman. Mereka menggelar semacam lapiak[2] – sebenarnya spanduk iklan – berukuran besar nan mereka kembangkan sebagai tempat pelanggan mereka duduk-duduk menikmati malam.
DSC09716Ramai sangat, mereka bahkan tak mendapat tempat untuk sekadar tegak menikmati suasana dan bangunan lama di tempat ini. Dan kedatangan  mereka di malam hari sesungguhnya juga salah karena ini kedatangan pertama mereka – kecuali Marah Magek – ke kawasan ini. Namun disenang-senanginya juga hatinya oleh St. Rajo Basa.
Selain pedagang kaki lima, nan menarik perhatian St. Rajo Basa ialah sekelompok orang nan tegak-tegak di bawah sebatang pohon besar yang telah kehilangan seluruh daunnya. Mereka berpakaian aneh-aneh. Ada nan berpakain layaknya perempuan belanda, ada nan berpakaian serupa hantu pocong, ada pula nan berpakain serupa hantu-hantu lainnya. Mereka ini menawarkan jasa berfoto bersama kepada para pengunjung. Serupa agaknya dengan para badut di kotanya dahulu, namun bedanya disini mereka tidak memaksa orang untuk berfoto dengan mereka.
Begitu sampai di hadapan gedung Balai Kota Lama, mereka segera putar arah hendak kembali, tiada dapat menikmati mereka. Sebelum berangkat, St. Rajo Basa menyempatkan diri berbelanja baju kaos untuk dibawanya sebagai buah tangan kepada isteri dan kedua adiknya. Selepas itu mereka langsung menuju halte busway dan hengkang dari tempat itu.
Seorang perempuan berpose dengan pocong
Seorang perempuan berpose dengan pocong
Mereka hendak menuju Dangau Rancak, disana ada pusat perbelanjaan nan didalamnya terdapat bioskop, hendak menonton mereka. Maklumlah orang kampung, di kotanya bioskop sudah mati. Kalaupun ada tidak sebagus disini..
__________________
[1] Motor
[2] Tikar

Komentar