
Museum Bebatuan merupakan tempat nan mereka tuju di ibu negeri Periangan ini. Konon kabarnya museum ini sangat bagus sekali, banyak orang datang ke sini. Tatkala St. Rajo Basa dan kawan-kawan datang menyambangi museum ini, benar adanya, memang bagus. Berbagai koleksi tertata dengan rapi.
Berbagai jenis bebetuan nan ada di republik ini tersaji dengan baik di museum ini. Tidak hanya itu, peta lengkap penyebaran sumber daya tambang juga ada beserta videonya. Museum ini memperlihatkan betapa kayanya republik ini.

Tak lama kami disini karena museum akan segera tutup pada pukul empat. Selepas shalat ashar St. Rajo Basa beserta kawan-kawan berjalan dari museum menuju ke sebuah bangunan peninggalan Belanda yang pada saat sekarang menjadi kantor bagi Tuan Gubernur. Nama bangunan tersebut sama dengan nama salah satu makanan khas dari negerinya. Sampai kini kami iapun heran kenapa dinamakan demikian.
Berfoto sejenak dan selepas itu mereka hengkang menuju salah satu pusat perbelanjaan. Mereka datang tepat di bagian hadapan bangunan sedangkan bagian nan ada tamannya ialah bagian belakang. Di hadapan bangunan ini tak begitu ramai, hanya mereka serta sekelompok anak sekolah nan duduk-duduk di sana. Beberapa orang petugas keamanan tegak-tegak berkelompok, di gerbang masuk terpampang tulisan dilarang masuk.

Baru beberapa jam di bandarni, hatinya telah tertarik pada beberapa keadaan nan didapatinya. Keadaan pertama ialah di bandar ini banyak terdapat taman nan diberi mereka besar-besar. Aneh-aneh mereknya. Konon kabarnya taman-taman tersebut merupakan buah pemikiran dari Ketua Bandar yang kabarnya juga ialah seorang perancang bangunan. Keadaan kedua ialah di bandar ini terdapat banyak jalan satu arah, mungkin untuk menghindari kemacetan “Baik juga di terapkan di bandar kita..” ujarnya dalam hati.
Demikianlah nan didapatinya, sayang ia dan kawan-kawan hanya dua hari – tepatnya satu setengah hari – di ibu negeri Periangan ini. Hatinya belum puas karena belum jelas padanya rupa bandar ini seluruhnya.
Komentar
Posting Komentar