Tangkuban Perahu


Kawah Putih di puncak gunung.
Kawah Putih di puncak gunung.
Gunung Perahu Terbalik ialah salah satu kawasan pelancongan nan paling terkenal di Negeri Periangan. Terletak di luar ibu negeri, sekitar satu setengah hingga dua jam perjalan dengan bus. St. Rajo Basa melalui jalan nan tiada jauh berbeda dengan jalan-jalan di negerinya. Semakin dekat ke kawasan pelancongan, keadaan jalan semakin tiada datar, mendaki dan menurun serupa di negerinya.
Semula ia menyangka bahwa salah satu bandar nan terdapat di negerinya ialah bandar nan hebat karena berhasil membuat jalan menuju ke puncak sebuah bukit di suatu lembah. Dari atas puncak bukit itu tampaklah seluruh pemandangan pusat bandar nan terkurung oleh lembah perbukitan serupa sebuah kuali. Orang-orang juga menjuluki kota itu dengan julukan Bandar Kuali.

Konon kabarnya, kalau tak ada awan, Ibu Negeri Periangan tampak dari puncak ini
Konon kabarnya, kalau tak ada awan, Ibu Negeri Periangan tampak dari puncak ini
Kini ia terkagum pula, menuju sebuah kawah di puncak gunung dibuat orang jalan dan lapang, orang Periangan ini lebih hebat lagi rupanya.
Gunung Perahu Terbalik namanya, dinamakan demikian karena apabila ditengok dari ibu negeri Periangan akan tampak serupa perahu terbalik. Namun apabila di pandangi dari puncaknya takkan tampak perahu terbalik. Berasal dari kisah rakyat di negeri Periangan ini perihal seorang anak nan melarikan diri dari ibunya karena tak sengaja membunuh ayahnya yang menjelma menjadi seekor anjing. Setelah dewasa si anak jatuh hati pada ibunya nan masih saja elok rupanya. Namun kisah cinta itu berakhir setelah sang ibu tahu kalau kekasihnya rupanya anak kandungnya sendiri. Diajukannya syarat untuk menolak hubungan terlarang tersebut, si anak tak dapat memenuhi, akhirnya kesal dan disepaknyalah persyaratan tersebut, dan toing.. jadilah Gunung Perahu terbalik.
Ramai oto pelancong nan parkir
Ramai oto pelancong nan parkir
Ramai orang mereka dapati, ada juga pelancong dari luar negeri, lebih banyak pelancong dalam negeri. Layaknya tempat pelancongan, pastilah ada penjual cindera mata. Bermacam ragam nan dijualnya, mulai dari sebo beserta selendang dingin (Scraft), buah stroberi, gantungan kunci, gelang, kalung, mainan kanak-kanak, angklung, penyewaan kuda, dan lain sebagainya. Hampir keseluruhan dari mereka ialah laki-laki, memakai sebo dan baju dingin. Ada satu kelebihan mereka yakni mereka memiliki tanda pengenal yang tergantung di baju hangat mereka.
Kawasan Puncak
Kawasan Puncak
Sebagian besar dari mereka ramah-ramah, tak membelipun tak jadi soal bagi mereka. Begitu sampai, selain menawarkan dagangannya mereka juga menawarkan untuk menolong mengambilkan foto. Dari salah seorang kawan di dapat keterangan oleh St. Rajo Basa bahwa tugas lain dari para pedagang kaki lima ini ialah sebagai pemandu pelancongan.
Layaknya puncak sebuah gunung, tentulah ada kawahnya, dijuluki orang dengan Kawah Putih. Hingga kini masih mengeluarkan asap dan belerang. Menurut pedagang kaki lima disini, terakhir gunung ini mengeluarkan abu pada tahun 2013 yang berlangsung selama satu bulan. Selama itu pula tempat ini ditutup, ketika mereka kembali, abu telah memiliki ketebalan tiga puluh senti meter “Apabila malam tiba, tempat ini telah dipenuhi oleh racun belerang engku. Jadi sebelum pukul enam, puncak ini sudah mesti dikosongkan..” ujar salah seorang pedagang kepada St. Rajo Basa.
Kawasan pedagang cinderamata
Kawasan pedagang cinderamata
Dalam hati ia berharap “Semoga ada pula orang nan membuat jalan oto ke atas puncak gunung Marapi..”
TAMBAHAN GAMBAR
Kawasan di atas puncak
Kawasan di atas puncak
Penjual Angklung
Penjual Angklung
Penyewa Kuda
Penyewa Kuda
Penjual Jagung Bakar
Penjual Jagung Bakar
Sebo berkepala binatang nan dijual orang
Sebo berkepala binatang nan dijual orang
Para pedagang sedang merayu calon pelanggan
Para pedagang sedang merayu calon pelanggan

Komentar