Picture: http://www.roeman-art.com
Raya kali ini kami habiskan dengan membaca sebuah roman nan telah lama kami beli namun belum jua disentuh. Judulnya aneh; Mentah, Masak, Terbakar.
Agaknya roman ini merupakan roman remaja nan mengisahkan cinta, pengkhianatan, dan kepedihan serta pencarian yang dituntun cahaya Sang Illahi. Mengambil tempat di dua negeri yakni di Pulau Seberang dan Negeri Para Usmani. Sungguh kami sudah lama berkeinginan dapat menziarahi negeri tempat kekhalifahan terakhir berdiri itu.
Tema yang diambil cukup menarik, berawal dari sebuah mimpi nan dialaminya seorang gadis nan tengah berduka karena pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang terkasihnya memutuskan untuk pergi ke negeri tempat mimpi itu berasal.
Kimya namanya, nama nan aneh menurut kami dan tak ada hubungannya dengan nama-nama nan biasa di Pulau Seberang. Dalam mimpi ia bersua dengan seorang pemuda rupawan nan bernama Zohal. Mimpi tersebut tak hanya sekali melainkan berkali-kali.
Pemuda nan tampan dan negeri nan cantik telah memikat hatinya. Darah muda nan sedang menggelegak memang acap membuat kita membuat keputusan yang terlihat tak masuk akal.
Begitu sampai di Negeri Para Usmani ia mulai mencari. Ia cukup terkejut dengan Mata Biru yang dikenal dengan nama Mata Setan. Sang pemuda rancak dalam mimpinya bermata biru, serupa dengan jimat tersebut. Namun kami juga terkejut karena mata itu serupa dengan mata nan lain nan dikenal dengan Mata Yang Melihat Segalanya. Apakah mereka memiliki hubungan? Entahlah..
Mimpinya mengarahkan ia ke Konya negeri tempat filsuf dan sufi terkenal bersemayam. Ia disuruh datang di Malam Pengantin yang diadakan tiap tanggal 17 Desember setiap tahunnya.
Seorang pemuda yang takkalah tampannya menjadi pemandunya selama di negeri itu. Pemuda yang selalu bersikap baik dan ramah yang tanpa disadarinya telah mengikatnya. Namun bayangan terhadap Zohal, pemuda yang selalu mendatanginya dalam mimpi lebih kuat mengikat hatinya nan sedang terluka itu.
Namun kenyataan pahit mengenai Zohal membuka fikirannya. Sang Syech dan muridnya telah menuntunnya ke negeri ini untuk mengobati duka yang tengah merajam hati nan rapuh itu. Sealigus mempertemukannya dengan tambatan hatinya nan sebenarnya.
Salut kami dengan penulis yang pandai merangkai cerita dan mengambil pokok permasalahan yang walaupun pernah diambil beberapa pengarang namun diramu dengan kisah nan memancing rasa ingin tahu sehingga kita tak sabar ingin menuntaskan membaca roman nan satu ini.
Silahkan dibaca encik, cocok untuk masa remaja encik nan bergelora..
Lebih lanjut mengenai buku ini:
Judul : Handim, Pistim, Yandim
Penulis : Ayun Qee
Pemeriksa Aksara : Misni Parjiati
Tata Sampul : Ferdika
Tata Isi : Fitri Raharjo
Pracetak : Antini, Dwi, Wardi
Penerbit : DIVA Press
Terbit : Cetakan pertama, Desember 2013
Tebal : 255 halaman
ISBN : 978-602-255-391-5
Komentar
Posting Komentar