Road To Persia

Apakah yang terbayangkan oleh kita apabila kami menyebut kata ‘Persia’? tatkala kami tanyakan kepada kawan-kawan kami perihal tersebut mereka memberikan beragam jawapan seperti; Pangeran Dastan (filem Prince of Persia), filem 3000, raja cyrus, ras Arya, dan Iran.
Kami tersenyum saja mendapati beragam jawapan tesebut, bagi penyuka filem maka mereka mengetahui perihal Persia sekadar dari lakon-lakon di filem saja. Terus terang kami sangat mengkhawatirkan yang satu ini, karena filem merupakan salah satu produk budaya, sosial, dan politik yang digunakan untuk mempropagandai salah satu kepentingan. Salah satu contoh ialah filem yang mengisahkan Pangeran Vlad dari Rumania yang memutarbalikkan sejarah, terutama sejarah Islam dimana Sulthan Muhammad II Al Fatih digambarkan sebagai tokoh Antagonis. Padahal dalam versi sejarah sebenarnyanya Vlad Dracull lah yang merupakan psikopat sebenarnya.

Bagi peminat sejarah maka mereka akan terkenang akan kebesaran Sejarah Persia dimana negeri tersebut pernah menjadi pusat dunia pada masa dahulunya. Persia tidak hanya sebuah kerajaan melainkan sebuah kekaisaran yang wilayah taklukkannya amat luas. Persia mencapai puncak kejayaan dimasa pemerintahan Raja Cyrus.
Bangsa Persia dikenal juga sebagai bangsa Arya, suatu ras yang dikenal sebagai ras tertinggi di dunia. Bangsa lain  yang juga beraskan Arya ialah Bangsa Jerman, dan Orang India yang memiliki kulit putih.[1] Namun hal tersebut tidak baik karena dalam agama kita tidak ada yang membedakan setiap manusia itu melainkan ketaqwaannya di hadapan Allah Ta’ala.
Gambar : Internet
Gambar : Internet
Pada masa sekarang negeri dimana Bangsa Persia berada dikenal dengan nama Iran[2] yang nama tersebut merupakan akronim dari Tanah Asal Bangsa Arya (Dalam bahasa Parsi). Pada masa dahulu negeri ini dikenal sebagai negeri para Penyembah Api[3] kemudian setelah  masuknya Islam negeri ini dikenal sebagai tanah kelahiran para Ilmuwan Islam,[4]Ahli Fiqih,[5] Pujangga[6] serta Ulama Sufi[7] terkenal.
Persia atau Iran ialah negeri yang elok, isolasi yang dilakukan oleh Barat terhadap negara tersebut ternyata telah menjaga budaya Persia dari ekspansi budaya dari Negara Barat. Tak salah kalau kami katakan bahwa Iran telah mengamalkan; ambil yang baik dari kebudayaan Barat dan buang yang buruknya, serta campakkan segala yang tidak baik dari kebudayaan kita.
Yang sangat kami kagumi ialah Kaum Perempuan Iran, mereka telah membuktikan kepada dunia – terutama sekali kepada Indonesia – bahwa perempuan berjilbab tetap dapat ‘eksis’ serupa perempuan yang tak berjilbab dalam Ranah Pekerjaan dan kehidupan non domestik lainnya. Jilbab bukanlah halangan apalagi hambatan, jilbab ialah identitas muslim yang wajib dipelihara dan dijaga. Namun sayangnya di Indonesia – karena media dikuasai oleh kaum SEPILIS – kiprah para perempuan berjilbab di Iran tidak pernah disorot.
Selain itu Iran juga dikenal dengan keelokan alamnya. Bagi yang pernah menonton stasiun tv Irib English pastilah sependapat dengan kami. Selain elok dan menawan, negeri ini juga dikenal dengan kekayaan Peninggalan Bersejarah mereka. Berbagai bangunan, reruntuhan bangunan, serta bekas-bekas peninggalan bersejarah di negeri itu dipelihara dengan baik bahkan beberapa telah mendapat pengakuan dari Unesco.
Masjid Shah Gambar : Internet
Masjid Shah
Gambar : Internet
Namun yang paling kami sukai ialah tinggalan peradaban Islam di negeri ini; istana, masjid, rumah-rumah besar, pasar, dan berbagai peninggalan arsitektur lainnya yang menjadi bukti dari kejeniusan peradaban Islam yang pernah jaya dimasa Bangsa Barat masih hidup dalam Kebudayaan Barbar mereka. Salah satunya ialah Kota Isfahan yang sangat kami kagumi, kota ini sangat kaya dengan peninggalan bersejarah dan sangat kami idam-idamkan untuk dikunjungi.
Afifah Ahmad dalam bukunya “Rhe Road to Persia” membuat kami iri dengan keberuntungan dirinya. Berbagai tempat-tempat bersejarah dan menakjubkan di Ranah Persia tersebut telah dikunjunginya. Suatu perjalan  yang selama ini menjadi impian kami telah lebih dahulu ditunaikan oleh Afifah bersama suami dan anaknya. Dalam buku tersebut Afifah mengisahkan perjalannya ke berbagai tempat bersejarah yang ada di Negeri Persia tersebut. Mulai dari peninggalan bersejarah sebelum masa Islam, Masa Islam, hingga berbagai kuburan artistik yang dibangun untuk menghormati dan mengenang Sang Almarhum.
Cita rasa seni yang dimiliki Bangsa Persia patut diacungi jempol, mereka tiada meniru bangunan kebudayaan bangsa lain melainkan memikirkan, melahirkan, dan mengaryakan nilai-nilai mereka sendiri. Berlainan dengan Bangsa Indonesia yang dalam membangun segala sesuatunya berkiblat kepada Barat. Bangsa ini sama sekali tidak memiliki jati diri, tiada seni dan keindahan, yang ada hanyalah ketidak percaya dirian.
Jambatan Siosepol Gambar : Internet
Jambatan Siosepol
Gambar : Internet
Ketika membaca buku Afifah Ahmad ini kami tergelak tatkala sampai kepada bab “Khayyam dan Mimpi-mimpi yang Menjelma”. Bab ini menjawab pertanyaan terbesar kami tatkala membaca buku ini. Nama panjangnya ialah Umar Khayyam, salah seorang pujangga dan juga ilmuwan dimasa hidupnya. Dalam buku ini, penulis menghilangkan kata Umar namun kata ini muncul tatkala dia menyebutkan salah seorang pujangga Indonesia yang bernama sama dengan sang Pujangga Persia.
Umar, Abubakar, Usman, dan beberapa nama Sahabat Nabi lainnya menjadi terlarang dan dibenci di Negeri Iran, hal ini karena Iran menganut Agama Islam yang bermazhabkan Syi’ah. Bagi pemeluk mazhab ini ketiga sahabat utama tersebut telah merampas tongkat kepempimpinan Umat Islam dari Siti Fatimah dan suaminya Sayidina Ali. Ketiga nama tersebut sangat rendah, hina, dan menjadi hujatan bagi penganut Syi’ah. Hal inilah yang menjadi salah satu pokok permasalahan yang menjauhkan pertautan (konsolidasi) antara Mazhab Sunni dan Syi’ah di Dunia Islam.
Kami berharap suatu masa kelak dapat menjejakan kaki di Ranah Persia, mengunjungi kampung-kampung, kota, dan berbagai belahan negeri Persia. Berjalan-jalan di Kota Ishfahan yang telah memikat kami melalui keindahan Meydan Emam dan Jambatan Siosepol nan artistik yang membentang di atas Batang (sungai) Zayandeh. Terimakasih terhadap Afifah Ahmad dan keluarga yang telah membuka beberapa tirai yang terbentang perihal Negeri Persia di fikiran kami. Semoga kelak kami dapat menziarahi negeri tersebut. Amin..

______________________________
Catatan Kaki:
[1] Orang India berkulit hitam dikenal sebagai Bangsa Dravida yang kebanyakan tinggal di India bagian selatan. Sistem agama Hindu yang berkasta diciptakan untuk menjaga kemurnian dari Ras Arya tersebut.
[2] Republik Islam Iran
[3] Nama agama dari Penyembah Api ini ialah Zoroaster. Penganut agama ini masih ada hingga saat ini.
[4] Salah seorang Ilmuwan Islam tersebut ialah Ibnu Sina,
[5] Ulama Fiqih tersebu ialah Fakhruddin Ar Razy
[6] Sastrawan
[7] Beberapa tareqat lahir di negeri ini seperti Tareqat Naqsabandiyah yang sebelum Gerakan Kaum Muda menyebar di Minangkabau pada awal abad-20, memiliki banyak pengikut di Minangkabau.

Komentar