Shema

 

Hari terakhir di cuti raya ini kami habiskan dengan membaca sebuah roman nan telah lama kami beli. Judulnya aneh; Shema yang kami kira sebuah roman terjemahan karangan pujangga luar negeri namun bukan. Buatan asli republik ini kiranya.

Kami salut dengan  si pengarang, tampaknya ia telah banyak menziarahi negeri-negeri asing dan kami yakin ia telah mendatangi setiap negeri yang disebutkannya dalam roman nan dikarangnya ini.
Kami salut, rupanya di republik ini banyak penulis berbakat. Tatkala membaca roman ini kami serasa membaca roman karangan Dan Brown, seorang ahli sejarah pengarang roman konspirasi dari Amerika.

Dan kami juga yakin, pengetahuan si pengarang perihal Sufi, Darwis, dan ajaran Syech Jalaludin Rumi pastilah dalam. Karena ia dapat menerangkan makna disebalik tarian sufi nan bernama Shema ini. Namun anehnya tatkala kami mengetikkan Shema di internet, nan keluar justeru do'a orang Yahudi yang kalau kami tak salah shema diartikan "dengarlah".

Buku nan kami baca diterbitkan pada tahun 2011 dan dilihat dari cerita, kejadian berlangsung dimasa Turki diperintah oleh Abdullah Gul sebagai Presiden sedangkan Perdana Menterinya dijabat oleh Recep Tayyib Erdogan.

Jadi kemungkinan cerita ini berlangsung dimasa tahun 2000an, dimana Turki masih dikuasai Kaum Sekuler sebelum direformasi oleh Erdogan. Tampaknya roman ini dibuat dimasa-masa teori konspirasi tentang Masonik sedang hangat-hangatnya dikarenakan roman nan dikarang oleh Dan Brown telah membuka perlahan-lahan tabir tentang Masonik.

Sungguh sangat mengerikan membayangkan Turki dimasa Sekulerisme masih berjaya - walau kami yakin akar-akar sekuler belum sepenuhnya hilang dan menanti untuk bangkit kembali - dimana Shema yang hanya berupa sejenis tarian Sufi sahaja dilarang. Padahal Turki merupakan salah satu pusat peradaban Islam dan pernah menjadi kiblat politik umat Islam seluruh dunia.

Namun para pembenci syari'at dalam waktu beberapa tahun sahaja berhasil membalikkan keadaan bak siang dengan malam. Sungguh rasa takut semakin mengerayangi bathin kami. Bagaimanakah nasib anak cucu kita kelak duhai tuan?

Silahkan membaca roman ini, bangus sangat duhai tuan. Tak kalah dengan roman nan dikarang oleh Dan Brown.


Komentar