Berjalan2 ke Nagari Canduang




Masjid Jami' Bingkudu Ilustrasi Gambar: Internet*
Masjid Jami’ Bingkudu
Ilustrasi Gambar: Internet*

Nagari[1] Canduang atau lengkapnya Nagari Canduang Koto Laweh kalau kami tiada salah ialah salah satu nagari yang terletak di kaki Gunung Merapi. Nagari ini ialah kampung asalnya Syech Sulaiman Ar Rasuli atau lebih dikenal dengan gelar Inyiak Canduang. Salah seorang ulama terkemuka Minangkabau diawal abad ke-20. Dan dari kampung ini pula Saidi Palindih, kawan kami berasal. Sekampung ia dengan salah seorang ulama terkenal itu.
Pada suatu hari Kamis kami dibawa oleh Saidi Palindih untuk menyilau kampungnya. Hari itu kami sengaja cabut[2] kerja karena kesal dengan induk semang dan salah seorang kawan kami. Adapun dengan Engku Kepala Dinas dan Engku Kepala Bidang kami sedang pergi ke Padang, ada rapat di dinas propinsi.
Kami berangkat sekitar pukul sepuluh pagi, matahari sedang teriknya memanasi negeri kami. Kami lalu melalui Simpang Tanjuang Alam kemudian Simpang Biaro dan akhirnya sampai di Simpang Canduang, setibanya di Simpang Canduang kami belok kanan dan terus berjalan mendaki menuju rumah Saidi Palindih.

Setibanya di rumah, kedua orang tua Saidi Palindih sedang ke sawah, yang kami dapati ialah saudara perempuan dan para kamanakannya serta abang lelakinya. Kedatangan Saidi Palindih guna memastikan mengenai suatu perkara dengan abangnya selain itu juga hendak menyilau rumah. Kamanakannya ramai ada sekitar empat orang, masih kanak-kanak, sedang nakal-nakalnya. Mereka bermain-main memusingkan kepala, pada suatu ketika minta hendak naik ke atas oto Saidi Palindih, bermain-main mereka di atas sana.
Keadaan nageri ini ialah berbukit-bukit, tidak datar karena berada di bawah kaki Gunung Marapi, gunung yang sangat bersejarah bagi kami orang Minangkabau. Sayang hari berkabut pada hari ini, kalau tidak pemandangan kita akan lepas di kejauhan, pemandangan yang indah. Walaupun demikian berbagai pemandangan menakjubkan tetap tersaji memanjakan mata. Kami sempat mengambil salah satunya.
Jalanan disini sempit, apabila dua oto berselisih maka dua pasang ban dari kedua oto tersebut mesti keluar dari badan jalan. Jalanan disini lengang, mungkin karena itulah makanya dibuat kecil, namun alangkah baiknya jika jalanan disini diperlebar. Karena menurut Saidi Palindih ketika macet pada hari raya, jalanan kampungnya menjadi jalan alternatif sehingga jalan yang sempit ini tiada sanggup menampung jumlah kendaraan yang tiba-tiba meningkat. Bahkan ada satu jalan yang hanya dapat dilalui satu kendaraan saja, apabila tiada arif dan bijak maka kemacetan baru akan tercipta.

Inyiak Canduang Ilustrasi Gambar: Internet**
Inyiak Canduang
Ilustrasi Gambar: Internet**

Di kampung Saidi Palindih terdapat dua buah pondok pesantren, satu milik Nyiak Canduang yang terkenal itu dan satu lagi kami baru dengar namanya. Nagari Canduang telah lama masyhur namanya sebagai salah satu pusat dari pendidikan Islam.
Adalah sudah menjadi kebiasaan dari Saidi Palindih untuk mentraktir para kamanakannya apabila ia pulang kampung. Sekali ini Saidi Palindih. Kali ini dia hendak mentraktir mereka makan Bakso Tusuk, ketika bakso tusuk lalu di simpang muka rumahnya Saidi Palindih terlambat menyadari, walau telah berteriak Tukang Bakso Tusuk tiada mendengar dan berlalu. Akhirnya Saidi Palindih memutuskan untuk membawa seluruh kamanakannya untuk ikut mengejar Tukang Bakso Tusuk yang rupanya menuju ke salah satu pondok pesantren yang ada di nagari ini.
Demikianlah, kisah kami di Nagari Canduang, sayang belum semua nagari ini kami jelajahi, mudah-mudahan dimasa datang ada kesempatan lagi.
_______________________________________
*http://canduangmediacenter.blogspot.com/2013/08/shalat-id-di-masjid-kuno-bingkudu.html
**http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Bingkudu
_________________________________________
Catatan Kaki:
[1] Unit pemerintahan terendah di Propinsi Sumatera Barat, setingkat dengan Pemerintahan Desa
[2] Bolos

Komentar