Novel Roman Cinta Di Sekolah Guru


Ilustrasi Gambar: Harian Singgalang
Ilustrasi Gambar: Harian Singgalang
Telah lama dahaga kami akan karya sastra Minangkabau yang berupa roman tak terpenuhi, heran kami “Tiada lagikah pujangga di Tanah Minang ini?”
Namun penantian kami tiadalah sia-sia, pada suatu siang yang cukup panas kami menemukan sebuah roman yang ditulis oleh Orang Minangkabau. Semula kami cemas “Jangan-jangan engku penulis ikut-ikutan pula memakai gaya bahasa populer yang dikembangkan dari pusat republik ini..” namun sangkaan kami tiada benar, engku penulis yang bernama Khairul Jasmi rupanya menusli roman dengan langgam Bahasa Minangkabau, kami senang bukan kepalang, terima kasih Engku Jasmi.
Roman yang kami baca ialah “Lonceng Cinta di Sekolah Guru” yang menurut kami merupakan kisah kehidupan beliau, agaknya semakin banyak orang pada masa sekarang yang membuat otobiografi dengan mengambil bentuk roman, Engku Andrea Hirata dan Ali Fuadi adalah salah satu contohnya. Namun dapat saja sangkaan kami ini salah, sebab kami mengambil kesimpulan dengan membaca riwayat singkat dari engku penulis yang tertera di halaman terakhir buku roman ini.

Kami salut dengan kejujuran dari engku jasmi dalam berkisah, segala tingkah pola calon guru ini telah lama kami ketahui sebab semasa berkuliah di Padang dahulu kami telah mendengar, melihat, dan mendapati betapa calon orang yang paling bertanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan kehidupan generasi mendatang berkelakuan layaknya mahasiswa lainnya yang bukan dari label akta empat. Contoh lainnya ialah para mahasiswa dari sekolah maupun perguruan tinggi agama yang ada di tempat kami. Namun kami tiada menyangka separah inikah gaya pergaulan calon guru pada sekolah guru itu?
Namun selain kisah asmara yang penuh khayalan yang tiada pernah sesuai dengan kenyataan itu banyak kami dapati keterangan menarik perihal peri kehidupan orang zaman dahulu, setidaknya dimasa kedua orang tua kami masih bujang dan gadis. Pertama: Perpeloncoan sudah mendarah daging agaknya ditubuh institusi pendidikan di republik ini. Kedua: Jalur kereta api mulai ditutup di Sumbar pada tahun 1970 dengan pengecuali jalur dari Sawah Lunto yang melewati Solok, Singkarak, Padang Panjang, dan bermuara di Teluk Bayur. Hal ini karena demi kepentingan kapitalis dalam meeksploitasi negeri kami. Ketiga: Stasiun Lintas Andalas – yang tinggal kenangan – dahulunya merupakan stasiun paling megah dan bersih di Sumbar bahkan para pelanggar dapat kena sangsi oleh petugas stasiun. Keempat: Kebiasaan bus sekarang yang suka menumpuk-numpuk penumpang apabila penuh bahkan sengaja dibuatkan bangku “darurat” untuk penumpang yang tak disiplin tersebut. Kebiasaan mendudukan perempuan di barisan depan – disebelah sopir – juga telah lama berlangsung. Kelima: Para penjual paragede di Lembah Anai merupakan tradisi turun-temurun pula, telah ada sedari dahulu. Keenam: Dahulu setiap bus wajib berhenti di Kandang Ampek untuk berehat dan shalat, serta memberi kesempatan pada para pedagang talua asin dan sala lauak, sekarang tidak, bahkan untuk shalatpun tidak, dibawa lalu saja.
Ketujuh: Pacaran zaman dahulu rupanya ditegah, begitu pula dimasa kami. Namun masih tetap saja banyak yang pacaran, makanya murid-murid sekarang banyak yang mengikuti jejak guru mereka yang madar itu. Demikian pula rokok, barang haram bagi murid lelaki. Kedelapan: Dahulu selepas hari raya ada pertunjukan Sandiwara di kampung-kampung. Namun sekarang tiada lagi, tamat riwayatnya. Sembilan:Penjajahan tentara pusat selepas PRRI memang menggenaskan, mereka berlaku bak raja, makan tak bayar, ringan tangan dan kakinya. Sepuluh: Lapangan Kantin juga ada di Padang Panjang, tidak hanya Bukit Tinggi. Sebelas: Dan masih banyak lagi, kami sarankan engku-engku membacanya.
Kami hanyut dalam cerita engku Khairul ini, sungguh pandai beliau bercerita – menulis maksud kami – dapat beliau membangun suasana, kembali kita kemasa tahun 1970-an dan 1980-an, suatu masa dalam sejarah Sumatera Barat yang masih belum kami ketahui dengan baik.
Walau salut namun kami kecewa, kecewa dengan kelakuan remaja pada masa dahulu yang dilakoni oleh sang bintang utama. Sungguh kami tiada habis fikir, sebab kami sendiri tiada seberani itu, jangankan mencium, menatap perempuan saja takut, malu apabila diketahui orang tua, malu apabila diketahui orang sekampung.
Namun kami salut kepada engku Nurus, dalam usia muda telah berani pergi sendiri ke propinsi tetangga seorang diri dengan bekal hanya keberanian dan rasa rindu saja. Kami saja tak seberani itu
Saran kami bagi pembaca: yang buruk jangan diambil sekadar pelajaran saja. Namun kami cemas, pandaikah orang sekarang membedakan yang baik dengan yang buruk itu? Zaman kini ialah zaman agama dan adat dilanggar.

Komentar