
Surau Baitul Jalil, demikian namanya. Terletak di Janjang Ampek Puluah yang menghubungkan Pasa Ateh dengan Pasa Bawah. Telah lama dibangun kalau kami tiada salah semenjak tahun 2003 nan silam. Bentuknya – langgam arsitekturnya – yang aneh memancing rasa ingin tahu kami. Tiada hubungannya dengan arsitektur Minangkabau ataupun Islam. Kalau menurut kami atapnya menyerupai atap rumah Joglo di Jawa
.
.
Walau telah tiga belas tahun umurnya, kami tiada pernah mencoba shalat disana. Surau ini selalu tertutup, hanya dibuka disaat beberapa menit sebelum waktu shalat masuk. Konon kabarnya agar wcnya tak dipakai sebagai wc umum. Kami dapat memahami karena orang awakkalau mendapat hati suka semena-mena. Tiada pandai menjaga kebersihan, apalagi di kawasan pasar.
Namun yang menjadi pertanyaan bagi kami, bagi yang hendak menunaikan Shalat Dhuha bagaimanakah caranya? “Tunaikan saja di surau atau masjid lainnya yang telah buka..” jawab suatu sura di dalam hati kami.
Demikianlah, sampai pada hari ini – hari kelima hari raya – ketika kami menziarahi kawan-kawan di Jam Gadang, Saidi Palindih mengajak kami untuk mencoba shalat di surau tersebut tatkala kami hendak balik ke Rumah Bung Hatta.
Sungguh terawat dan indah kawasan surau ini, nikmat mata memandang sejuk terasa sampai ke hati. Bersih dan rapi, demikianlah kesan yang kami dapat. Terdapat kolam ikan bertingkat di hadapan surau. Tidak hanya kolam saja, juga terdapat ikannya. Sebab pada beberapa tempat – apakah itu rumah dan lain sebagainya – kolam hanya dijadikan hiasan dan cenderung tak terawat. Walau telah terdapat tanda batas dan tanda dilarang membawa alas kaki, tetap banyak terompah ataupun sepatu yang melanggar batas. Demikianlah orang awak, semakin dilarang semakin dikerjakan. Persis serupa watak kanak-kanak, tanda watak kanak-kanak yang demikian masih dipelihara sampai dewasa.
Surau ini tidak berapa besar, mungkin karena dibatasi oleh luas tanah. Konon kabarnya dahulu pada kawasan surau ini dahulunya ialah rumah. Oleh anggota keluarganya yang berjaya di rantau diputuskanlah untuk membuat rumah. Kalau kami tiada salah lagi, mereka ialah orang yang berasal dari Nagari Sungai Puar di Kabupaten Agam
, tak jauh dari Kota Bukit Tinggi ini.
Demikianlah, kalau engku ada singgah dan datang ke kota kami ini, cobalah kunjungi surau ini. Mungkin banyak surau-surau lain yang lebih indah, namun surau ini patut jua untuk dicoba untuk didatangi. Selamat datang ke kota kami..

Komentar
Posting Komentar